Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Peran KBI Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Babel

Peran KBI Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Babel

SURABAYA – Sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki peran sangat penting dalam perdagangan dunia. Salah satunya adalah perdagangan hasil tambang mineral yakni timah.

Indonesia menjadi negara penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah China dengan cadangan timah 17 persen dari total cadangan timah dunia. Cadangan timah di Indonesia banyak tersebar di kepulauan Bangka Belitung (Babel). Bahkan Provinsi Babel menjadi salah satu pulau dengan kandungan timah terbesar di dunia.

Timah juga menjadi salah satu komoditas strategis Indonesia. Sebab, timah banyak dibutuhkan berbagai industri baik di dalam negeri maupun luar negeri. Trend pasarnya juga terus tumbuh signifikan. Sehingga bisa menjadi sumber devisa yang menjanjikan.

Karena itu, komoditas timah perlu diatur tata kelola perdagangannya. Sehingga besarnya kebutuhan pasar domestik dan internasional bisa dipantau. Dan, Indonesia juga bisa memiliki peran penting dalam menentukan harga komoditas timah dunia.

Selain explorasi tambang timah dilakukan secara industrialisasi modern seperti PT Timah Tbk, banyak juga explorasi yang dilakukan masyarakat secara tradisional. Jumlahnya mencapai ribuan khususnya tambang timah di darat.

Pengamat ekonomi dari Surabaya, Hendro Puspito, SE, M.PSDM, mengatakan, kontribusi tambang timah pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Bangka Belitung cukup besar. Hal ini mencerminkan penopang ekonomi masyarakat Babel adalah tambang timah.

Namun, banyak isu mucul terkait penambangan secara illegal. Dampaknya akan merusak lingkungan. Tentunya harus sedini mungkin di tertibkan secara tegas. Pemerintah daerah harus memberikan ruang bagi penambang illegal untuk ditertibkan mulai dari perizinan, pengolahan dan alat yang digunakan harus standart.

“Pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat luas, arti penting kepedulian terhadap lingkungan. Ketika melakukan penambangan, harus mengikuti SOP yang sudah ditentukan pemerintah daerah,” kata Hendro Puspito, Jumat (13/5).

Menurut Ketua Umum HIMASEPA Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya ini, tingkat ketergantungan masyarakat Babel terhadap tambang timah sangat tinggi. Karena itu, penertiban tambang illegal adalah solusi yang baik.

Kenapa demikian? Karena dengan penertiban maka kerusakan lingkungan akibat penambangan yang tidak sesuai SOP, dapat direduksi. Sehingga dalam jangka waktu yang lama, hasil timah terus melimpah.

Selain itu, tata kelola dari pemerintah daerah juga harus dibenahi. Salah satunya dengan memberikan bantuan alat penambang yang sesuai standar, bantuan modal usaha dengan bunga rendah. Memberikan kemudahan perizinan bagi perusahaan yang berinvestasi di Babel.

“Jika tata kelola tambang berjalan baik, maka hasil tambang timah akan naik. Ekonomi masyarakat Babel pun akan meningkat. Lingkungan juga terjaga. Penambang illegal juga bisa direduksi,” tambah Hendro yang sedang menyelesaikan program Doktor (S3) di Unair Surabaya.

Peningkatan pasar timah dari Babel memang terus berlanjut. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Babel menunjukan, hingga kuartal I tahun 2022, nilai ekspor timah dan non timah dari Babel sebesar USD 314.37 juta naik 79,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2021 yakni USD 175,52 juta.

“Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong naiknya ekspor timah sebesar 95,36 persen. Sementara ekspor non timah naik 0,19 persen,” papar Plt Kepala BPS Provinsi Babel, Reflin Arda, melalui rilis pada media, Selasa (10/5).

Tahun ini, tujuan utama ekspor timah dari Babel ke nagara China. Selama Januari-Maret 2022, ekspor ke negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 35,53 persen dengan nilai USD 202,89 juta. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 2.035,09 persen jika dibandingkan tahun lalu (yoy).

Selain China, empat negara lain yang menjadi tujuan utama ekspor timah dari Babel adalah Singapura (USD 46,67 juta) , India (USD 33,04 juta), Korea Selatan (USD 26,34 juta), dan Jepang (USD 22,05 juta). Keempat negara ini masing-masing menyerap sekitar 8,42 – 13,55 persen.

“Secara keseluruhan, lima negara utama tujuan ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkontribusi sebesar 78,96 persen,” tambah Reflin Arda.

Dengan melihat trend perdagangan timah yang tumbuh signifikan tersebut, keberadaan PT Kliring Berjangka Indonesia (Perseroa) atau KBI semakin dibutuhkan di Babel. Sebab KBI memiliki peran sebagai Lembaga Kliring dalam Perdagangan Timah Murni Batangan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) baik untuk pasar ekspor maupun domestik.

KBI juga berperan sebagai Pusat Regitrasi Resi Gudang dan Lembaga Kliring Penjaminan dan Penyelesaian Transaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi.

Mengacu Peraturan Menteri Perdagangan No 53 Tahun 2018 Tentang perubahan kedua atas peraturan menteri perdagangan nomor 44/M-DAG/ PER/7/2014 tentang ketentuan ekspor timah, dimana transaksi timah murni batangan wajib diperdagangkan di bursa.

Menurut Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT KBI, perdagangan pasar fisik timah Batangan melalui BBJ menjadi sesuatu yang positif. Sebab, perdagangan timah Batangan berjalan lebih transaparan dan dapat dipantau oleh negara. Sehingga kerugian negara akibat adanya penyelundupan timah Batangan ke luar negeri bisa ditekan bahkan dihilangkan.

Hingga kuartal pertama 2022, transaksi pasar fisik timah murni Batangan di BBJ mencapai Rp 5.5 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar USD 348,1 juta atau Rp 4,8 triliun berasal dari transaksi pasar fisik timah ekspor sebanyak 1.640 lot. Sisanya Rp 677,2 miliar berasal dari transaksi pasar timah fisik dalam negeri dengan volume sebanyak 953 lot.

Ekosistem perdagangan timah di BBJ untuk pasar ekspor berjalan sejak pertengahan tahun 2019. Sementara untuk perdagangan timah dalam negeri, baru mulai pada Maret 2021. Tahun 2021 lalu transaksi pasar fisik timah murni batangan di BBJ yang dikliringkan di KBI sebanyak 10.977 Lot dengan nilai transaksi lebih dari Rp 20,7 triliun.

Dari total transaksi tersebut, sekitar USD 1,4 miliar atau Rp 19,7 triliun berasal dari pasar fisik timah batangan ekspor yakni sebanyak 8.862 lot. Sedangkan dari pasar fisik timah dalam negeri, tahun 2021 (Maret – Desember) transaksinya mencapai Rp 987 miliar dengan volume 2.115 lot.

“Perdagangan Pasar Fisik Timah Murni Batangan melalui BBJ akan memberikan nilai positif, baik terhadap ekonomi nasional maupun membangun posisi Indonesia sebagai penentu harga timah dunia,” kata Fajar Wibhiyadi.

Menurut Fajar, Indonesia harus memiliki peran sentral dalam pasar timah dunia. Sebab itu, KBI akan terus mendorong para pelaku perdagangan timah serta meningkatkan layanan prima bagi para pemangku kepentingan dalam ekosistem perdagangan timah ini.

Apalagi KBI juga sudah mengantongi ISO 9001 : 2015 tentang sistem manajemn mutu, sehingga keberadaan KBI dalam perdagangan timah murni Batangan di BBJ baik untuk pasar domestik maupun internasional sudah tidak diragukan.

“Mekanisme trading untuk pasar domestik dan ekspor sama. Yang membedakan hanya di lottasenya. Untuk pasar domestik 1 lot = 1 ton sedangkan untuk ekspor 1 lot = 5 ton. Jenis timah yang diperdagangkan juga sama yaitu TLEAD300,200,100,50 dan TPURE099,” imbuhnya.

Ke depan, KBI akan terus mengeluarkan insiasi-inisiasi baru terkait upaya mendorong ekonomi nasional. Hal ini sesuai dengan peran KBI sebagai akselerator ekonomi masyarakat sehingga KBI perlu teus mendorong pertumbuhan ekomoni masyarakat terutama di Provinsi Babel.

Pasalnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2019, tarif royalti logam
timah ditetapkan sebesar 3 persen. Dari royalty tersebut, 80 persen untuk masyarakat
Bangka Belitung dan 20 persen dari royalty untuk pemerintah pusat.

Sehingga semakin besar transaksi timah yang dikliringkan KBI di BBJ akan semakin besar pula bagi hasil yang diberikan untuk masyarakat Bangka Belitung. Dampaknya, kesejahteraan masyarakat secara tidak langsung juga ikut meningkat.

“Royalty dari pasar fisik timah Batangan akan jadi sumber PAD Bangka Belitung. Karena itu, kami akan terus berupaya untuk meningkatkan transaksi di pasar fisik timah, sehingga kedepan pendapatan asli Bangka Belitung juga akan meningkat” ujar Fajar.

Peran KBI juga bisa dirasakan lewat pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG). Bahkan pemanfaatan SRG untuk komoditas timah juga terus meningkat. Selama kuartal I 2022 pembiayaan resi gudang mencapai Rp 278 miliar, tumbuh 1.283 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 dengan nilai pembiayaan sebesar Rp 20,1 Milliar.

Dari sisi jumlah registrasi, sepanjang kuartal I/2022, Resi Gudang yang diregistrasi mencapai 146 RG yang terdiri dari 6 komoditas, dengan volume 3,1 Juta Kg, dengan nilai barang mencapai Rp 306 miliar.

Resi Gudang komoditas Timah mendominasi dengan jumlah registrasi mencapai 92 RG dengan Volume 463.125 Kg senilai Rp 265 miliar. Sedangkan dari sisi pembiayaan, Resi Gudang Timah di Kuartal I 2022 ini mencapai Rp 176 Milliar.

Dominasi komoditas timah menjadi hal yang positif terkait perdagangan komoditas ini. Bagi pemilik komoditas khususnya eksportir, pemanfaatan resi gudang ini akan memberikan likuiditas pembiayaan.

Hal ini karena produksi timah dilakukan setiap hari, sedangkan pengiriman ekspor bergantung trasportasi kapal laut yang merapat di pelabuhan pada waktu-waktu tertentu. Dengan memanfaatkan resi gudang, pemilik komoditas timah khususnya eksportir, dapat memasukkan komoditasnya ke resi gudang, sambil menunggu pengiriman ke negara tujuan.

“Dengan mekanisme Resi Gudang, para eksportir dapat mendapatkan likuiditas keuangan,” kata Fajar yang humoris ini.

Fajar Wibhiyadi, mengatakan, pertumbuhan pemanfaatan Resi Gudang awal tahun ini menjadi hal positif dalam Sistem Resi Gudang di Indonesia. Dia yakin pembiayaan Resi Gudang tahun 2022 ini mencapai lebih dari Rp 500 Milliar.

Untuk itu, KBI bersama dengan pemangku kepentingan lain akan terus melakukan sosialisasi, baik kepada kalangan usaha, pemerintah daerah maupun pemilik komoditas. KBI juga akan terus meningkatkan layanan prima untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para pemilik komoditas di Indonesia.

Sementara itu, salah satu produsen timah terbesar di Indonesia, PT Timah Tbk tahun ini berani mematok pertumbuhan produksi biji timah sebanyak 35.000 ton menyusul makin membaiknya pasar dan harga timah. Sebagian besar akan dihasilkan dari tambangnya di laut.

Menurut Abdullah Umar, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, produksi biji timah sebanyak 35.000 ton tersebut mengalami kenaikan signifikan dibanding tahun 2021 sebanyak 24.670 ton, namun sedikit menurun dibanding dengan produksi tahun 2020 sebanyak 39.757 ton.

Tahun ini, emiten dengan kode perdagangan TINS di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini akan mengotimalkan produksinya dari penambangan di laut. Selain lebih efisien juga menghasilkan margin lebih besar.

“Tahun lalu sekitar 54 persen produksi timah dihasilkan dari tambang laut. Sisanya, 46 persen berasal dari tambang darat. Kami tetap melakukan penambangan di darat karena banyak masyarakat yang menggantungkan kesejahteraannya di pertambangan darat,” kata Abdullah Umar kepada media belum lama ini.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi diantaranya adalah memperbaiki tata kelola niaga timah. Sebab, timah Indonesia dan timah yang dihasilkan TINS masih menjadi barometer pergerakan harga di London Metal Exchange (LME).

“Kami menyiapkan langkah strategi dengan mengoperasikan teknologi Ausmelt mulai semester kedua tahun ini. Kami yakin biaya produksi bisa kami tekan sehingga profit perseroan akan bertumbuh yang tentunya kontribusi untuk negara juga semakin besar,” tandas Abdullah.

Peran KBI di Provinsi Babel tidak hanya untuk perdagangan komoditas timah saja, namun juga komoditas lainnya khususnya lada putih. Sebab Babel juga dikenal daerah penghasil Lada Putih terbesar di Indonesia.

Produksi lada Indonesia tahun 2022 diprediksi mencapai 89.275 ton. Dari jumlah tersebut, Provinsi Bangka Belitung tahun ini diproyeksikan berkontribusi terbesar yakni 33.726 ton atau 37,7 persen. Disusul Lampung 15.983 ton dan Sumatera Selatan 6.674 ton. Sisanya dari daerah lain di Indonesia.

Peran KBI lewat pemanfaatan Sistem Resi Gudang sangat membantu masyarakat petani lada di Babel. Selain perdagangan lada putih lebih transparan dan akuntabel, juga harga komoditas unggulan Babel ini lebih stabil.

Dalam 3 tahun terakhir, pemilik komoditas lada di Bangka Belitung telah memanfaatkan Resi Gudang, dengan total 12 Registrasi, dengan volume lebih dari 49.349 Kg. Untuk itu, KBI akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para pemilik komoditas, khususnya di sentra-sentra komoditas unggulan termasuk Bangka Belitung.

“Dengan adanya Resi Gudang, harga komoditas akan terjaga, dan efek jangka panjangnya akan mampu meningkatkan ekonomi para petani dan pemilik komoditas. Mereka juga dapat melakukan mitigasi kurs dalam kegiatan ekspor,” ujar Fajar Wibhiyadi.

KBI juga mendukung berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dukungan KBI kepada para petani lada di Babel diantaranya dengan menyiapkan sistem perdagangan lada yang dilakukan Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Lada Bangka Belitung.

Indonesia dikenal penghasil lada terbesar kedua di dunia setelah Vietnam, namun Indonesia tidak bisa menjadi penentu harga. Dengan adanya KPB, para buyer akan langsung bisa membeli lada Bangka Belitung. Bahkan petani juga bisa langsung berhubungan dengan buyer.

Salah satu lada yang banyak diincar buyer internasional adalah Lada Putih Muntok karena memiliki kualitas dan karakteristik terbaik dan sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Lada Putih Muntok sangat diminati buyer dari Eropa, karena kandungan aroma dan Pepperine yang tinggi hingga level 9, serta kepadatan massal sekitar 663,896 g/L.

“Harapan kami perdagangan lada Muntok melalui KPB ini meningkat dan mampu menjadi stimulus peningkatan ekonomi para petani penanam lada,” tambah Fajar.

Selain itu, KBI juga secara konsisten melakukan program Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR (Corporate Social Responsibility). Kegiatan TJSL merupakan bagian dari langkah besar KBI sebagai korporasi menuju sustainability usaha.
Disamping mengadopsi konsep creating shared value, KBI juga mengadopsi Sustainable Development Goals. Salah satu kegiatan TJSL yang dilakukan KBI bersama BBJ adalah memberikan paket data pada 150 siswa di Bangaka Belitung saat pandemi Covid 19.

“Salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan yang diadopsi adalah memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua masyarakat Indonesia,” tandas Fajar Wibhiyadi. (fix/jay)

Artikel Asli