Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Macan Tutul Jawa Bertahan dari Kepunahan, Masih Ada Puluhan di Sejumlah Lokasi

Suara.com Dipublikasikan 09.52, 27/09 • Muhammad Taufiq
Macan Tutul Jawa  [Foto: Timesindonesia]
Macan Tutul Jawa [Foto: Timesindonesia]

SuaraJatim.id - Macan tutul jawa atau (Panthera pardus melas) masih banyak ditemui di sejumlah kawasan hutan di ujung timur Pulau Jawa.

Temuan ini mulai dari hutan Taman Nasional Alas Purwo (ada 26 ekor), Taman Nasional Baluran (35 ekor), lalu Taman Nasional Meru Betiri (35 ekor).

Angka tersebut bukanlah angka pasti. Namun yang pasti, angkanya bisa lebih. Meski belum tercatat pasti, predator ini juga sempat dijumpai di kawasan hutan kawasan Gunung Raung serta pegunungan Ijen.

Macan tutul Jawa ini memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Dari laporan warga, untuk jenis macan kumbang berbulu hitam sendiri kerap dijumpai di kawasan hutan Gunung Raung dan Ijen.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TN Alas Purwo Probo Wresni Adji menjelaskan, pada tahun 2020 telah memasang 68 camera trap. Ini dilakukan untuk memantau pergerakan habitat kucing predator tersebut.

"Tahun 2020 ada 68 kamera trap kita pasang. Demi keamanan kita tidak menyebutkan lokasi pemasangannya," katanya, seperti dikutip dari timesindonesia.co.id, jejaring media suara.com, Senin (27/9/2021).

Lebatnya kawasan Alas Purwo yang tidak seluruhnya terjamah teknologi, membuat ekosistem di dalamnya masih terjaga.

Di hutan seluas 43 ribu hektare lebih ini, membuat macan tutul Jawa bisa melakukan perburuan mangsa dengan bebas dan berkembang biak tanpa khawatir ancaman manusia atau sampai menyatroni perkampungan setempat.

"Masih melimpah (hewan mangsa). Belum ada laporan dari masyarakat terkait dengan adanya macan tutul Jawa yang berkeliaran," katanya.

Pada tahun 2020 lalu, beberapa camera trap yang dipasang berhasil merekam jejak macan tutul Jawa tersebut. Sementara ini, pihak TN Alas Purwo masih mencatat sebanyak 26 ekor saja. Kemungkinan, masih banyak habitat lainnya yang tinggal di dalamnya.

"Kegiatan perekaman dalam satu tahun dilakukan hanya sekali, yakni di bulan Oktober dan November. Pada tahun 2020 kita mendapatkan tangkapan hasil gambar macan tutul sebanyak 26 ekor," kata Probo.

Habitat Macan Tutul Jawa di TN Baluran

Sedangkan di kawasan Taman Nasional (TN) Baluran, habitat kucing predator ini juga masih terjamin kelestariannya. Dari data yang diperoleh TIMES Indonesia, bahkan predator ini mengalami kenaikan jumlah yang cukup lumayan.

Pada tahun 2019, pihak TN Baluran mencatat ada pergerakan 31 ekor macan di kawasan tersebut. Setelah dilakukan pemantauan, jumlahnya meningkat sampai 35 ekor. Memungkinkan, masih ada lagi macan tutul Jawa ini yang lolos dari pemantauan.

"Ini hasil dari data camera trap yang kita pasang tahun 2020 lalu. Ada 35 ekor yang tertangkap fotonya," kata Kepala Balai Taman Nasional (TN) Baluran Pudjiadi.

Untuk kegiatan pemantauan, pihak TN Baluran telah menyebar sebanyak 45 camera trap. Di tahun 2021 ini, pihaknya belum mengetahui apakah populasi kucing predator di kawasan hutan seluas 25 ribu hektar ini bisa bertambah lagi atau tidak.

"Untuk 2021 belum ada data ya. Karena masih belum kita lakukan," katanya.

Untuk menghindari kepunahan, pihaknya secara rutin melakukan patroli. Mewaspadai oknum-oknum pemburu liar yang mencoba menangkap satwa dilindungi tersebut. Selain itu sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan predator ini juga dilakukan.

Pihak TN Baluran menduga, ditutupnya akses wisatawan karena kebijakan PPKM menjadi salah satu faktor pendukung berkembangbiaknya macan tutul.

"Karena banyak penutupan destinasi wisata membuat satwa ini berkembang biak dengan baik. Ini progres yang baik bagi pelestarian Macam Tutul Jawa," cetusnya.

Habitat Macan Tutul Jawa di TN Meru Betiri

Berbeda dengan hutan Alas Purwo dan Baluran yang notabene sekaligus menjadi kawasan wisata, populasi macan ini lebih banyak ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri. Ini karena, lokasinya yang terdiri dari bebukitan dan jurang menjadi benteng alami bagi habitat yang hidup didalamnya.

Di tahun 2017, camera trap mengidentifikasi sebanyak 15 ekor macan tutul Jawa yang hidup di dalamnya. Di tahun 2020, jumlah tersebut meningkat hingga diketahui ada 35 ekor.

"Jika melihat populasi yang sudah teridentifikasi, kita perkirakan jumlah macan tutul yang ada di TN Meru Betiri ini dikisaran angka 50 sampai 53 individu," kata Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Suherman.

macan tutul Jawa 3Balai TN Meru Betiri sedang memasang camera trap untuk memantau aktivitas macan tutul Jawa. (FOTO: TN Meru Betiri)

Selama 3 bulan kedepannya, pihak TN Meru Betiri telah memasang 106 camera trap. Setelah itu barulah diketahui secara pasti berapa jumlah habitat predator ini yang bisa terpantau kamera.

"Masing-masing grid memiliki luasan 1 kilometer persegi. Kita pasang ada yang satu kamera sampai 3 kamera," katanya.

Menurut Maman, ada beberapa metode yang digunakan untuk mengidentifikasi macan tutul yang tertangkap camera trap. Salah satunya ialah dengan melakukan penandaan morfologi tubuh target.

"Dari tahun ke tahun jumlah macan tutul yang tertangkap kamera trap itu fluktuatif ya. Tapi dari rekaman tersebut, kita lakukan penandaan morfologi, sehingga kita bisa menginventarisasi berapa jumlah macan tutul yang masih terjaga, maupun yang baru teridentifikasi," ungkapnya.

Diketahui, Taman Nasional Meru Betiri ini terletak di pantai selatan Jawa Timur. Masuk dalam dua kabupaten yakni Jember dan ujung timurnya di Banyuwangi. Luasnya mencapai 50.000 hektar.

Spesies Kucing Predator Paling Mungil

Jika dibandingkan dengan famili macan tutul lainnya, subspesies Jawa ini memiliki ukuran paling kecil. Dengan panjang tubuh kisaran 1 sampai 1,5 meter dan tinggi sekitar 90 sentimeter. Macan jenis ini hanya memiliki bobot sekitar 60 kilogram saja.

Namun, macan tutul Jawa ini mempunyai indra pengelihatan dan penciuman lebih tajam dibandingkan jenis lainnya. Secara fisik, subspesies ini pada umumnya memiliki bulu agak gelap dan mengkilap. Dengan bintik hitam layaknya macan tutul di wilayah Africa yang nampak jelas ketika terkena sinar matahari.

Warna gelap dengan bintik hitam ini, sangat membantu macan tutul Jawa ini dalam bertahan hidup. Khususnya saat harus bersembunyi di tempat gelap ketika hendak menerkam mangsanya atau menghindari musuh.

Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

Kucing predator ini dikenal sebagai pemburu individu. Kecuali di musim kawin, mereka bersedia untuk bersama pasangannya. Begitu lewat musim kawin, semuanya akan berpisah untuk melakukan perburuan sendiri. Mayoritas, mereka menyukai tempat tinggi seperti di atas pohon dan melakukan aktifitas perburuan di malam hari.

Perburuan yang dilakukan manusia terhadap macan dewasa atau anak-anak menyebabkan hewan ini nyaris punah. Tak jarang, jika anakan macan tutul Jawa ini juga diperjualbelikan untuk koleksi atau hewan peliharaan.

Macan tutul Jawa dikategorikan sebagai satwa kritis yang nyaris punah sejak tahun 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Seiring berkembangnya waktu, rupanya satwa yang dilindungi UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999 ini bisa bertahan dan perlahan bangkit dari ambang kepunahan.

Lebatnya kawasan hutan di Kabupaten Banyuwangi yang jarang terjamah manusia, menjadi habitat yang sempurna untuk spesies macan tutul Jawa ini berkembang biak.

Artikel Asli