Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Ancaman ke Singapura, Dubes Suryopratomo Minta Tak Perlu Ada Reaksi Berlebihan

Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo. (MI/Panca Syurkani)

Singapura: Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo menuturkan, keterangan Menteri Dalam Negeri Singapura K. Shanmugam terkait adanya ancaman seperti 9/11 ditujukan kepada masyarakat Negeri Singa tersebut.

Ancaman yang dimaksud terkait dengan kasus penolakan masuk Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Singapura beberapa hari lalu. Pihak yang melontarkan ancaman diduga tak terima dengan keputusan Singapura menolak UAS.

"Keterangan Mendagri Singapura itu ditujukan kepada masyarakat Singapura, jadi tidak perlu kita bereaksi berlebihan," kata Suryopratomo kepada Medcom.id, Rabu, 25 Mei 2022.

Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura K Shanmugam pada Senin kemarin menyoroti salah satu contoh ancaman yang diposting di Instagram, yang menyebut Singapura sebagai 'negara Islamofobia' dan mengatakan para pemimpinnya memiliki waktu 48 jam untuk meminta maaf kepada umat Islam dan rakyat Indonesia.

Shanmugam menyebut pengguna Instagram mengancam akan mengusir duta besar Singapura untuk Indonesia dan mengirim pasukan termasuk Front Pembela Islam – sebuah organisasi Islam garis keras Indonesia – untuk menyerang negara itu "seperti 9/11 di New York 2001" jika tuntutan mereka diabaikan.

"Ancaman tersebut menyebutkan serangan 9/11 (11 September 2001) bakal dilakukan terhadap Singapura oleh pendukung seorang pengkhotbah yang dilarang memasuki negara itu (Ustaz Abdul Somad/UAS), kata Menteri Hukum dan Dalam Negeri K Shanmugam, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Sejak saat itu, platform tersebut telah menghapus postingan terkait dan menonaktifkan akunnya karena melanggar standar komunitas.

Menanggapi pertanyaan dari media tentang apakah warga Singapura harus khawatir, Shanmugam mengatakan bahwa ancaman tersebut tidak boleh diabaikan.

Ia juga mengungkapkan, beberapa orang yang telah diselidiki di bawah Undang-Undang Keamanan Internal adalah pengikut Somad. Mereka yang diselidiki termasuk seorang remaja berusia 17 tahun yang ditahan pada Januari 2020.

Remaja itu telah menonton ceramah UAS tentang bom bunuh diri di YouTube, dan mulai percaya bahwa jika dia berjuang untuk kelompok Islamic State (ISIS) dan menjadi pelaku bom bunuh diri, dia akan mati sebagai martir.

"Jadi Anda bisa lihat, khotbah Somad memiliki konsekuensi dunia nyata," kata Shanmugam.

Terkait pernyataan tersebut, Dubes Suryopratomo menuturkan, "penjelasan Menteri Shanmugan lebih rinci apa yang dimaksud dan tidak ada kaitannya dengan Indonesia."

UAS serta enam orang yang bepergian bersamanya, tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada 16 Mei 2022 tetapi ditolak masuk dan dikirim kembali ke Batam. Perkara tersebut kemudian membuat gusar para pengikutnya.

Buntut dari penolakan masuknya Somad ke Singapura, pengunjuk rasa berkumpul di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta dan Konsulat Jenderal Singapura di Medan pada Jumat 20 Mei.

Para pengunjuk rasa Jakarta yang tergabung dalam Pembela Ideologi Syariah Islam (Perisai), menuntut agar kedutaan Singapura mengklarifikasi kejadian tersebut dan meminta maaf secara terbuka. Kelompok itu juga menyerukan agar duta besar Singapura untuk Indonesia diminta meninggalkan negara itu.

Baca: Tolak UAS, Kepala BNPT: Singapura Punya Parameter Sendiri

Artikel Asli