Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Pernikahan Dini Meningkat Selama Pandemi, BKKBN Gencarkan Edukasi Reproduksi

Kompas.com Dipublikasikan 03.00, 01/10 • Ellyvon Pranita
Unicef
Ilustrasi pernikahan dini.

KOMPAS.com - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) melaporkan peningkatan angka perkawinan anak selama pandemi Covid-19.

Anak-anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan umumnya merupakan pelajar.

Namun, temuan Kemen PPN/Bappenas mengungkap bahwa ada sekitar 400-500 anak perempuan usia 10-17 tahun berisiko menikah dini akibat pandemi Covid-19.

Peningkatan angka kehamilan tidak direncanakan serta pengajuan dispensasi pernikahan atau pernikahan di bawah umur juga terjadi. Pada tahun 2020, terdapat lebih dari 64 ribu pengajuan dispensasi pernikahan anak bawah umur.

Baca juga: Edukasi Kesehatan Reproduksi Cegah Pernikahan Anak di Bawah Umur

Adapun, penyebab meningkatnya angka perkawinan anak pada masa pandemi ini tidak jauh berbeda dengan penyebab perkawinan anak pada kondisi normal.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, kehamilan tidak direncanakan setidaknya dapat bersumber pada dua hal.

Pertama yakni pasangan usia subur yang tidak segera melakukan kontrasepsi pasca persalinan atau abortus, dan kedua adalah kehamilan tanpa pernikahan.

"Keduanya bisa terjadi karena mereka tidak memahami kesehatan reproduksi, sehingga perlu diberikan edukasi atau pemahaman terkait masalah ini," kata Hasto dalam Dialog Produktif Forum Merdeka Barat 9 (FMB)- KPCPEN), Rabu (29/9/2021).

Menyadari risiko negatif daripada pernikahan dini yang dilakukan anak di masa pandemi Covid-19 ini, pemerintah tetap mendorong Program Keluarga Berencana (KB) bagi masyarakat.

Di mana pelaksanaannya juga ditekankan dalam hal perencanaaan membangun keluarga dan edukasi kesehatan reproduksi.

Banyak perempuan usia produktif yang tidak berani datang ke fasilitas keluarga berencana selama pandemi karena takut tertular virus corona. 

Untuk mengatasi hal ini, BKKBN melakukan terobosan penyuluhan proaktifdoor to door (pintu ke pintu) untuk penyuluhan kontrasepsi dan mempermudah cara mendapatkan layanan tersebut.

“BKKBN mengubah strategi. Penyuluh kini boleh membawa alat kontrasepsi yang disampaikan ke fasyankes. Kami juga membuka layanan KB di banyak titik, juga meluncurkan Gerakan Sejuta Akseptor dan melakukan pemasangan alat kontrasepsi gratis, mudah diakses dan tersedia,” tutur Hasto.

 

Pentingnya edukasi reproduksi untuk anak-anak

Terkait edukasi reproduksi, Hasto yang juga Dokter Kebidanan ini menjelaskan pentingnya mengubah persepsi tentang pendidikan seksual karena mengingat pendidikan ini sangat perlu dilakukan sejak dini, bahkan kepada anak-anak.

Ia menegaskan, pendidikan seksual tidak sekedar tentang hubungan seksual. Namun juga perlindungan kesehatan sehingga jangan dianggap tabu.

Oleh karena itu, kepada orangtua dan pendidik, Hasto menyarankan untuk memulai pembicaraan edukasi seksual dari sisi kesehatan, disesuaikan dengan kebutuhan usia, dituangkan dalam materi yang menarik dan penyampaian yang baik.

Hal ini supaya anak nyaman, pemberian materi oleh guru atau pelatihnya sebaiknya yang berjenis kelamin sama dengan anak. Serta, upayakan memberikan edukasi tentang reproduksi ini disesuaikan dengan zamannya.

Dalam membantu mengedukasi anak-anak dan meminimalisasi terjadinya pernikahan dini di masa pandemi saat ini, BKKBN melalui Duta GenRe Indonesia melaksanakan program #2125, yakni berupa edukasi usia ideal minimum pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria.

Baca juga: Pernikahan Lesti Kejora dan Rizky Billar, Mengapa Acara Pribadi Selebriti Masih Marak Disiarkan Langsung?

"Bersama remaja Indonesia, kami menjadi pelopor remaja yang terencana dan bisa mempersiapkan pernikahan dengan 2125," kata Fiqih Aghniyan Hidayat, selaku Duta GenRe Indonesia Putra 2021.

Fiqih juga menambahkan, ada beberapa strategi preventif yang dijalankan oleh Duta GenRe bekerja sama dengan berbagai pihak terkait edukasi reproduksi mencegah pernikahan dini di Indonesia ini meningkat. 

Di antaranya, memberikan pendampingan sebagai konselor sebaya, memberikan bantuan logistik supaya meringankan beban keluarga terdampak, serta Gerakan Kembali Ke Meja Makan untuk membangun kembali pola asuh yang baik dan komunikasi keluarga.

Penulis : Ellyvon Pranita Editor : Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli