Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Kisah Nyimas Utari, Intelijen Kerajaan Mataram Pembunuh Gubernur Jenderal VOC

Merdeka.com Dipublikasikan 23.06, 02/09
Nyimas Utari. ©perpusnas.go.id
Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung menyerang Batavia yang saat itu dikuasai VOC. Penyerangan itu merupakan yang kedua kalinya setelah serangan pertama gagal di tahun 1628. Sultan Agung memberi tugas pada Nyimas Utari Sanjaya Ningrum untuk membunuh sang gubernur jenderal.

Pada Mei tahun 1629, Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung menyerang Batavia yang saat itu dikuasai VOC. Penyerangan itu merupakan yang kedua kalinya setelah serangan pertama gagal di tahun 1628.

Dalam serangan kedua ini, Mataram berhasil membunuh Gubernur Jenderal VOC, Jans Pieterzoon Coen. Waktu itu, Sultan Agung memberi tugas pada Nyimas Utari Sanjaya Ningrum untuk membunuh sang gubernur jenderal.

Singkat cerita, tugas ini berhasil dijalankan oleh Nyimas Utari. Leher Coen berhasil ia penggal dengan golok Aceh. Lalu sebenarnya siapa sosok Nyimas Utari ini?

Intelijen Kerajaan Mataram

©Facebook/Sejarah Yogyakarta

Makam Nyimas Utari berada di Desa Keramat, Tapos, Bogor, Jawa Barat. Ustaz Sukandi, tokoh masyarakat Desa Keramat mengatakan bahwa ia sering mendengar kisah orang-orang tua di Desa Keramat bahwa Nyimas Utari merupakan agen intelijen Kerajaan Mataram.

Keterangan ini dibenarkan oleh sejarawan asal Yogyakarta, Ki Herman Janutama. Mengutip kitab Babad Jawa, ia menyebutkan bahwa pemenggalan kepala Coen merupakan misi rahasia yang sudah lama direncanakan dengan melibatkan grup intelijen Mataram, Dom Sumuruping Mbanyu.

“Orang sekarang mungkin akan kaget kalau dikatakan militer Mataram punya kesatuan telik sandi sendiri. Tapi bagi kami yang akrab dengan manuskrip-manuskrip tua dan cerita-cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi hal ini tidaklah aneh,” kata Ki Herman dikutip dari laman Historia.

Cara Kerja Intelijen Mataram

©perpusnas.go.id

Kerja tim intelijen Mataram dalam menjalankan misi rahasia di Batavia sudah dirancang sejak tahun 1627. Dalam tim itu, mereka mengerahkan orang-orang Tumenggung Kertiwongso dari Tegal yang dipimpin oleh Raden Bagus Wonoboyo.

Untuk melengkapi kerja-kerja rahasia tersebut, Wonoboyo mengirimkan putrinya yang memiliki kemampuan telik sandi mumpuni, Nyimas Utari, untuk bergabung dengan agen telik sandi asal Samudra Pasai, Mahmudin.

Dari Aceh, Nyimas dan Mahmudin yang sudah menjadi pasangan suami istri memasuki benteng VOC di Batavia dengan berkamuflase sebagai pebisnis. Merekan lantas dipercaya Coen sebagai mitra bisnis VOC. Karena begitu dekatnya, mereka punya akses ke kastil dan bergaul dengan Eva Ment, istri Coen, dan anak-anaknya.

Membunuh Gubernur Jenderal VOC

©YouTube/Gentayangan

Dilansir dari laman perpusnas.go.id, Nyimas Utari dipercaya menjadi penyanyi bagi klub perwira VOC. Selain itu, dia juga menjalin hubungan dekat dengan Eva Ment. Saat tentara Mataram menyerbu Batavia pada tahun 1629, Nyimas Utari memanfaatkan kekacauan itu dengan membunuh Eva dan anak-anaknya dengan racun.

Empat hari setelahnya, giliran Coen yang menjadi korban. Dengan racun arsenikum, Nyimas menuangkan serbuk itu ke minuman Coen. Di saat Coen lengah karena keracunan itu, Nyimas berhasil memenggal kepala Coen. Setelah itu, ia dan Mahmudin lari keluar benteng membawa kepala Coen.

Namun dalam pelarian ini Nyimas Utari tewas terkena tembakan meriam. Mahmudin membopong jenazah istrinya hingga wilayah Desa Keramat, tempat ia dimakamkan. Kepala JP Coen kemudian diterima oleh Tumenggung Surotani dan Bagus Wanabaya untuk dibawa ke Istana Plered.

Setelah sampai di sana, Sultan Agung memerintahkan untuk menanam kepala itu di baris ke-716 tangga menuju makam raja-raja Imogiri.

Pro dan Kontra

Membantah pembunuhan ini, sejarawan Belanda De Graaf menulis bahwa kematian J.P Coen disebabkan oleh penyakit kolera. Jasad Coen kemudian dimakamkan di Balai Kota dan kemudian dipindahkan ke Gereja Tua Belanda yang kini menjadi Museum Wayang.

Namun menurut arkeolog Chandrian Attahiyat, para arkeolog Belanda tidak menemukan jasad berupa tulang belulang saat mereka melakukan penggalian pada tahun 1939. Namun, penggalian serupa belum pernah dilakukan di tangga menuju makam Imogiri untuk membuktikan ada kepala Coen yang tertanam di sana.

“Memang sejauh ini belum pernah ada penelitian arkeologi soal kebenaran Babad Jawa tentang terbunuhnya Coen,” kata Chandrian.

Artikel Asli