Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Kasus Covid-19 Terus Naik, Pakar Sarankan Sejumlah Upaya yang Harus Dilakukan

Warga lansia saat mengikuti vaksinasi booster hari ke-2 di RPTRA Gondangdia, Jakarta, Kamis 13 Januari 2022. Masyarakat yang ingin mendapatkan fasilitas ini bisa melakukan pendaftaran di aplikasi PeduliLindungi. TEMPO/Subekti.
Kasus Covid-19 hari ini lebih dari 3 ribu kasus. Pakar kesehatan mengatakan perlu usaha lebih untuk mengendalikan kasus.

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus Covid-19 di Indonesia terus naik sampai lebih dari 3.000, per hari ini, Sabtu, 22 Januari 2022. Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020, Tjandra Yoga Aditama, menerangkan bahwa hal itu perlu dikendalikan dengan effort tambahan, dengan melakukan sesuatu yang lebih dari pada yang dilakukan di hari-hari sebelumnya.

“Tidak bisa hanya dengan kegiatan yang sama saja. Sehingga perlu peningkatan aktivitas protokol kesehatan,” ujar Tjadra melalui pesan singkat, Sabtu, 22 Januari 2022.

Memang, kata Tjandra, dengan angka 3.000 kasus per hari belum perlu menaikkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM. Namun, jelas harus ada aktivitas tambahan yang perlu dilakukan di hari-hari mendatang ini.

Protokol kesehatan, Guru Besar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu berujar, bukan hanya diterapkan saja tapi harus lebih ketat lagi. Kebiasaan new normal harus menjadi now normal. Selain itu, himbauan dan aturan tentang work from home (WFH) misalnya, juga perlu diikuti dengan implementasi aturan langsung di lapangan.

“Mungkin baik juga di analisis tentang pembelajaran tatap muka di sekolah, apakah tetap 100 persen, atau barangkali dipertimbangkan kalau perlu diturunkan 75 persen dan lain-lain,” tutur Tjandra.

Selain itu, Tjandra juga menyarankan, agar harus lebih meningkatkan lagi tes dan telusur, termasuk meningkatkan ketersediaan PCR-SGTF, dan lain-lain. Juga perlu ditingkatkan penelusuran kasus secara masif pada kejadian transmisi lokal yang sudah ada ratusan orang, baik telusur ‘ke depan’ kepada siapa mereka menularkan dan juga ‘telusur ke belakang’ dari mana mereka tertular.

Vaksinasi, disebut Tjandra juga perlu ditingkatkan, baik vaksinasi dua kali maupun vaksinasi booster. Sampai 19 Januari 2022 masih sekitar 42 persen penduduk dan lebih dari 55 persen lansia belum mendapat vaksinasi memadai. “Vaksinasi booster akan baik kalau amat ditingkatkan dan dipermudah pelaksanaannya,” katanya.

Tjandra yang saat ini menjabar sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Jakarta itu juga meminta agar semakin ditingkatkan upaya untuk menjamin pencegahan penularan dari mereka yang datang dari luar negeri ke masyarakat sekitar. “Termasuk melakukan pengawasan pasca karantina.”

Peningkatan surveilans yang ketat dengan data akurat juga perlu dilakukan. Di satu sisi, Tjandra berujar, jangan sampai terlambat untuk menarik ‘rem darurat’ kalau sekiranya diperlukan, dan di sisi lain jangan pula terlalu cepat melakukan pengetatan kalau belum sepenuhnya diperlukan.

“Komunikasi risiko ke masyarakat luar perlu makin intensif. Bukan saja untuk memberi pemahaman tentang program yang ada tetapi juga untuk membuat masyarakat tidak perlu panik,” tutur Tjandra.

Artikel Asli