Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Mengingat Langit Senja episode 4

Joylada Dipublikasikan 04.38, 10/01 • Remmy Rocco
a story by Remmy Rocco from JOYLADA | source picture : unsplash.com

Semburat langit berwarna saga selalu membuatku terkesan. Seolah membawa perasaan sendu yang aneh, seperti juga dirinya yang saat ini hanya duduk diam mengagumi pemandangan di depan kami.

Rizki menghela napas panjang beberapa kali. Kupandangi siluet wajahnya dari samping. Merekam semampu yang aku bisa karena esok dia nggak akan ada lagi di sini. 

"Indah, ya?" tanyanya pelan seraya terus menatap semburat kemerahan di langit yang mulai menggelap. 

"Kayak mimpi indah," sahutku lirih, terkagum oleh kesempurnaan di sampingku. Di sini, di tempat dan waktu favoritku, dijajah oleh kehadiran cowok yang bahkan aku tak pernah berani memimpikan untuk bertemu.

"Bener, ini kayak mimpi indah," timpalnya seraya menunjuk lampu-lampu pasar malam yang beraneka warna mulai menghias di bawah sana. "Wow, gue nggak pernah sepuas ini duduk sambil lihat pemandangan senja dari atas. Gue nggak nyangka,"

"Aku, sih, tiap sore. Istirahat di atas sini sambil bawa cemilan."

"Lo mestinya bawa roti coklat tadi."

"Bukannya kamu abisin tadi?"

Rizki meringis dengan tatapan menyesal seraya berkata, "Maap, ya? Abis gue laper. Sejak dari Juanda sampe hotel blom sempat makan tadi."

"Nggak apa, besok aku beli lagi." Aku hanya mengangkat bahu dengan ringan. 

"Besok gue traktir, lo boleh pilih roti coklat merek apa aja." Aku terkejut mendengarnya. Apa dia serius mau datang lagi besok? Rizki menatapku dengan raut bingung saat aku hanya diam dan melotot ke arahnya. "Kenapa? Kok lo jadi liatin gue aneh gitu?"

"Serius kamu mau datang lagi besok?" tanyaku ragu.

"Iyalah, mumpung lagi liburan."

"Masih banyak tempat di Surabaya yang bagus, loh," ujarku sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

"Tapi …, gue pengen kayak gini lagi sama lo besok." Untuk kali ini Rizki tampak serius.

"Trus Vhania?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Aku rasa ada hubungan rumit antara Rizki dan Vhania si penyanyi baru itu, dan kayaknya jika besok cowok ini datang lagi bakal

Rizki menunduk sambil menggoyang-goyangkan tumit kakinya dengan cepat. Jarinya mempermainkan telinga topeng gajah yang sedang di pangkunya. "Lo mau tau cerita yang sebenernya?" tanyanya balik dengan setengah menggumam. Wajah murung itu membuatku yakin bahwa cerita ini bakal mengharu biru.

"Ya udah, cerita aja."

"Gue nggak pernah pacaran sama Vhania. Itu cuma setting-an yang diatur sama agensi, biar film gue yang lagi proses jadi rame, biar lagu Vhania di album barunya naik rating.”

Aku nggak bisa menahan senyum pahit. Dia pasti bohong. Aku sering lihat di TV gimana tingkah mereka pas jalan bareng, nonton konser, makan di kaki lima. Mereka lengket kayak perangko. Mustahil itu cuma setting-an. "Kamu pasti bohong."

"Buat apa gue bohong? Emang kenyataannya kaya gitu."

"Trus peluk-peluk itu apa? Pake betulin rambut, kayanya nggak mungkin kalo setting-an."

"Yang kayak gini?" Sekonyong Rizki menyelipkan rambutku ke balik telinga.

"Apaan, sih? Nggak usah aneh-aneh, deh." Aku tau Rizki berusaha membuatku salah tingkah. Dari senyuman miringnya yang menyebalkan itu, ia tahu aku merasa rikuh. "Mending selesain masalah Vhania dulu, baru ke sini lagi."

"Selesain apanya? Gue sama Vhania nggak ada masalah apa-apa. Dia yang bikin masalah pake nge-date sama cowok lain. Lagi-lagi gue harus nutupi kesalahannya dia."

"Lah, kenapa gosipnya jadi kamu yang selingkuh?" tanyaku bingung.

"Lebih gampang nyalahin cowok, 'kan?"

"Dan lebih nggak punya otak kalo cowok rela jadi kambing hitam," sindirku.

Rizki terdiam dan menatapku dalam. Hembusan angin malam mulai menerpa kami, meniup rambut depan Rizki dan menutup sebagian sisi wajahnya. Matahari telah terbenam, semburat kuning pun tinggal sejengkal, membuat suasana terkesan misterius. Seperti halnya cowok di depanku.

"Lo percaya sama gue?" Pertanyaan itu akhirnya terlontar darinya setelah sepuluh detik penuh kesunyian.

"Iyalah, aku 'kan fanskamu," jawabku  santai. Aku merasa tanpa harus menutupi pun Rizki pasti bisa membaca bahwa aku adalah salah satu penggemarnya, jadi nggak ada guna kalo harus pura-pura sebaliknya.

"Hm …," Ia menyipitkan mata seolah berpikir keras. "Gue rasa lo bukan seorang penggemar."

"Lah, kok bisa gitu?!" Aku bingung dengan kalimatnya tadi. Gimana bisa dia nggak paham kalo aku suka dia?

"Soalnya penggemar nggak akan kritik gue abis-abisan kayak tadi," jelasnya dengan setengah jengkel. "Kayaknya lo itu hatersgue, cuma nggak ngaku aja," sambungnya kemudian.

"Terus, kenapa besok pengen ke sini lagi?"

"Ya, gue nggak tau." Rizki membuang muka dengan kikuk.

"Nggak tau?! Basi banget alasannya," semburku sebal. Nggak tau kenapa perasaanku jadi nggak karuan sejak dia bilang besok ingin ke Karnival lagi. Antara takut dan berharap, semuanya membelit erat menjadi bola besar yang menyesakkan.

"Ya trus apa lagi, gue sendiri juga nggak ngerti. Emangnya lo bakal percaya kalo gue pengen deket lo terus?" tanyanya dengan wajah tegang. "Apa lo bakal percaya kalo gue pengen deket sama lo terus?"

"Ya, nggaklah! Kita aja baru kenal tadi siang," sahutku dengan nada yang seperti menggerutu. "Kenapa jadi kayak drama cinta pada pandangan pertama?"

Saat ini jantungku nggak lagi berdebar kencang, tapi seperti berjumpalitan nggak tentu arah. Kalo Rizki ingin membuatku takluk, maka dia salah. Meski aku akan menyesali sampai nangis gulung-gulung karena menolak Rizki gitu aja, tapi aku nggak akan mau menambah masalah dalam hidupku yang sudah nggak jelas ini. 

Rizki Ardhaka memang bukan artis playboy,tapi ia punya masalah rumit dengan Vhania. Kalo saja ia salah langkah maka kisah cinta setting-an ini bakal hancur dan bikin popularitas mereka turun. Sedangkan aku, rasanya cuma cari cara lain untuk bunuh diri kalo aku menerima Rizki begitu saja.

Dunia kami berbeda dan terlalu jauh untuk dijembatani. Pada akhirnya Rizki harus kembali ke dunianya, aku menjalani kehidupanku yang monoton, dan cerita kita bakal berhenti tanpa kalimat penutup.

"Nyatanya selalu ada cerita cinta pada pandangan pertama," kata Rizki lembut.

"Dan itu cuma ada di TV. Kalo pun ada mungkin cuma untuk sementara," sanggahku. "Lagian aku suka Rizki Ardhaka yang artis, bukan yang asli."

"Gimana kalo Rizki Ardhaka anggap kamu spesial?"

Aku tertawa lalu menular padanya. Baru kusadari, tawa kami tampak gugup dan dipaksakan. Mendadak aku ingin loncat sekarang juga dari kapsul ini. Nggak pernah dalam sejarah hidupku, bianglala ini jadi terlihat sempit dan terasa gerah.

"Mungkin aku bakal bilang terima kasih."

"Gue serius, Buni." Senyum Rizki memudar.

"Buni? Sejak kapan namaku jadi Buni?" Nah, dia langsung ciptain nama panggilan khusus untukku.

"Emang gue harus panggil apa? 'Kan bingung jadinya, Em, Bun, ntar kalo gue panggil Bun ntar dikira manggil bunda lagi."

Kapsul bianglala kini bergerak turun. Sudah waktunya aku mengantar Rizki ke posnya dan membuka lapakku.

"Ya, ya, terserahlah. Ayo, waktunya kerja cari uang." Kami pun turun dan berjalan menuju gerbang karnival tempat pos si Gajah Zheyenk untuk menyapa para pengunjung. "Nah, kamu berdiri di sini, ya, Riz. Nyapa pengunjung. Yang masukin sepuluh ribu ke ember ini berarti dia boleh foto selfie sama kamu," jelasku.

"Oke," kata Rizki dengan suara yang tenggelam oleh kepala gajah yang sudah terpasang rapat. 

"Aku pergi dulu." Baru saja aku selesai bicara, gajah itu memelukku dengan tubuhnya yang tambun. Aku tenggelam dalam lengannya yang sebesar pipa paralon, sampai-sampai aku terhuyung ke belakang.

"Makasih, ya." Hanya itu ucapan Rizki saat melepaskan pelukannya. Aku hanya mampu terbengong, terlalu shockuntuk bereaksi. Dan ketika kesadaranku mulai berfungsi, kujitak si gajah itu dengan perasaan malu bercampur sebal.

"Wei! Maen peluk aja!" Aku pun berderap pergi menuju lapakku. Membuka tirai dan menunggu orang-orang datang untuk meruntuhkan piramid kalengku, tapi sungguh lagi-lagi aku nggak bisa berhenti membayangkan Rizki yang memelukku dalam kostum gajah.

Mungkin di kalangan teman borju-nya  sudah biasa main peluk dan salam tempel pipi. Tapi aku nggak bisa menganggapnya normal kalo yang memelukku adalah seorang Rizki Ardhaka, karena sentuhannya terlalu melemahkan iman.

To be continued…

 

***

 

Apakah benar Rizki jatuh cinta pada pandangan pertama? Ikuti terus kisahnya di LINE Today!

 

***

 

Remmy Rocco menulis sejak remaja. Pernah menerbitkan novel teenlit dan setelah hiatus sekian lama memilih untuk menulis di Joylada sampai sekarang. Di Joylada ia sudah menghasilkan beberapa cerita yang sudah tamat dan sudah ada dalam bentuk karya cetak. Semua itu karena Joylada adalah platform yang nyaman untuk berekspresi lewat tulisan. Event seru yang selalu diadakan tiap bulan bakal memacu kreatifitas para penulis untuk terus produktif. Ikuti cerita Remmy di Joylada lewat akun Remmy Rocco.

IG : @remmy.rocco.

Artikel Asli