Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Bendera Merah Putih Tak Berkibar di Thomas Cup, Stafsus BPIP Imbau Masyarakat Tak Berkecil Hati

Tribunnews.com Dipublikasikan 01.48, 22/10 • Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Atlet bulutangkis Indonesia berpose dengan piala dan medali mereka setelah memenangkan final Piala Thomas 2021 melawan China di Aarhus, Denmark 17 Oktober 2021.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo menanggapi soal Bendera Merah Putih yang tidak dikibarkan di kejuaraan bulu tangkis Piala Thomas Cup tahun 2020.

Meski disayangkan, ia mengimbau kepada masyarakat Indonesia terutama atlet dan official tidak berkecil hati.

Menurutnya, walaupun tanpa bendera merah putih gelora kemenangan bangsa Indonesia tertanam di dalam dada masyarakat Indonesia terutama di dalam dada para atlet.

"Merah putih itu ada di dada mereka, merah putih itu menjadi spirit mereka untuk mempertahankan nama baik bangsa, bagaimana pertandingan itu menggetarkan dunia," kata Benny dalam keterangannya, Jumat (22/10/2021).

Bangsa Indonesia terutama para atlet harus memiliki mental juara dan kemudian muncul sang generasi juara-juara lainnya di bidang olahraga bulutangkis yang selalu mengharumkan nama baik Indonesai.

"Mental juara itu tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta fasilitas, tapi memiliki komitmen untuk membawa nama baik bangsa," tegasnya.

xxx

Kemenangan piala Thomas merupakan penantian panjang bangsa indonesia sejak 19 tahun, saat ini kembali direbut bangsa Indoneisa.

Momentum tersebut dinilai kebangkitan bangsa Indonesia terutama pada bidang oleh raga bulutangkis.

"Momentum kebangkitan ini merupakan kesempatan kita bahwa bulutangkis milik bangsa Indoensia, karena dari bulu tangkis nama-nama tokoh besar mulai muncul,” ucap Benny.

Ia bahkan mendorong untuk mengelola bidang olahraga bulu tangksi untuk terus dikelola dengan baik, sehingga diharapkan bangsa Indonesia selalu mempertahankan juara di semua kejuaraan tingkat dunia.

"Dengan ini kita melihat bulu tangkis bisa dikelola dengan baik, maka ini akan selalu mengharumkan nama baik bangsa," ujarnya.

Benny menilai olahraga bulu tangkis merupakan olahraga profesional dan harus meningkatkan kemampuan regenerasi anak-anak muda, sehingga harus dipupuk mulai dari event-event tingkat RT, kampung desa hingga tingkat nasional.

Ia menyayangkan dalam kasus doping tersebut karena tidak ada antisipasi dari pihak penanggungjawab baik official maupun pemerintah dalam membangun diplomasi dengan kepenitiaan Thomas Cup.

Diketahui, ramai diberitakan Indonesia juara Piala Thomas 2020 setelah di final mengalahkan China, Minggu (17/10/2021) malam di Aarhus, Denmark.

Namun saat pemberian medali di podium tidak ada bendera Merah Putih yang dikibarkan dan diganti dengan logo Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Hal ini tentu disayangkan, sebab Indonesia menanti 19 tahun untuk kembali membawa pulang Piala Thomas.

Terakhir kali Indonesia merebut Piala Thomas adalah pada edisi 2002 yang digelar di Guangzhou, China.

Sanksi diberikan karena ketidakmampuan Indonesia memenuhi rencana jumlah tes doping tahunan.

Artikel Asli