Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Sapi Disuntik Antibiotik, Produsen Susu di Ponorogo Tak Berkutik

Sapi Disuntik Antibiotik, Produsen Susu di Ponorogo Tak Berkutik

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Produksi susu sapi perah di Pudak terjun bebas. Terdampak penyakit mulut dan kuku (PMK), produksinya mengalami penurunan hingga 90 persen. Di masa normal, peternak di kecamatan ujung timur Ponorogo itu sanggup memeras 70 ribu liter per hari. Kini, tersisa 7.000 liter per hari.

Ada tiga tempat pengepul yang memiliki cooling unit atau tempat pendingin di Pudak. Operasional ketiga tempat itu sudah tak seperti hari normalnya. Aktivitasnya kini hanya menantikan setoran susu dari Dusun Sunten, Banjarejo, yang jumlahnya tak lebih dari 400 liter sehari. ‘’Nggak nutup biaya perjalanan dan operasional,’’ kata Kuslan, penanggung jawab cooling susu di Pudak, Kamis (23/6).

Hari ini, peternak mengalami kerugian cukup signifikan. Itung-itungan Kuslan, kerugian di satu tempat cooling susu itu mencapai Rp 35 juta sehari. Dalam sebulan, kerugiannya ditaksir tembus Rp 1 miliar di setiap tempat cooling susu. Akumulasi kerugian yang didera produsen susu di kecamatan itu mencapai Rp 3 miliar dalam sebulan. ‘’Stok susu kosong semua. Biasanya, di UD Triwiyono (satu tempat cooling susu, Red) 35 ribu liter sehari,’’ ujarnya.

Madi Utomo, warga Desa Pudak Kulon, menyebut bahwa produksi susu normalnya 300 liter sehari. Biasanya, cooling milik tujuh peternak itu menerima pasokan sedikitnya 6.000 liter sehari. ‘’Kalau sudah disuntik antibiotik, susunya dibuang. Nggak bisa setor ke cooling,’’ katanya.

Dua pekan sudah PMK mewabah di Pudak. Denyut perekonomian di kecamatan itu nyaris lumpuh lantaran sebagian besar warganya menggantungkan penghasilan dari ternak sapi perah. Madi sendiri telah kehilangan 15 ekor sapi dalam 14 hari terakhir. Dari 20 ternak yang dimilikinya, kini tersisa lima ekor. Tujuh mati, delapan diobral Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. ‘’Kami terpuruk karena sudah terpapar semua,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin)

Artikel Asli