Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Resep Sambal Rahasia

Jawapos Diupdate 00.33, 17/10 • Dipublikasikan 07.33, 17/10 • Ilham Safutra
Resep Sambal Rahasia

Sejak usianya genap 90 tahun, anak dan cucu-cucunya punya keyakinan, ajal Karuwah nisbi dekat. Melihat tubuh renta yang telah sebulan lebih hanya terkulai lemas di lincak lapuk itu, mereka menduga tak sampai hitungan hari nyawa Karuwah akan lepas dari badan. Betapa tidak. Seluruh tubuh Karuwah mati suri. Hanya matanya yang mengerjap-ngerjap seperti lampu neon rusak.

SETIAP hari ia hanya disuapi tiga sampai lima sendok madu hutan. Makanan yang lain sudah tak lagi bisa masuk ke pencernaan. Dari tubuhnya yang tinggal kulit membalut tulang keluar bau busuk menyengat.

Kabar itu membuat banyak orang bertanya-tanya tentang siapa yang akan mewariskan resep sambal Karuwah yang kondang itu. Hingga detik ini tak ada yang sanggup mengalahkan nikmatnya sambal racikan Karuwah. Bahkan koki di restoran paling mahal sekalipun. Jika Karuwah sudah mulai menggelar dagangannya, orang-orang akan mengantre dan penjual lalapan lain akan sepi. Rasa nikmat sambal hasil racikan Karuwah seolah membuat orang-orang terhipnotis. Bukan pedas benar yang dirindukan orang. Tapi lezatnya juga bikin betah. Sungguh tiada lalapan terasa enak tanpa sambal Karuwah.

”Rasa nikmatnya bikin nagih,” kata salah satu konsumennya.

”Sambal Karuwah seolah menyajikan kenikmatan rempah Nusantara pada rasa pedas,” kata yang lain lagi.

Kata orang, tangan Karuwah adalah titisan Dewi Dapur. Setiap kali tangannya menyentuh cobik dan cegkoceg, seketika itu pula sambal paling nikmat sedunia tercipta. Karuwah seolah menciptakan sambal dari surga. Tidak hanya satu jenis sambal, melainkan ratusan jenis sambal Nusantara dikuasai Karuwah. Bahkan resep sambal milik nyonya Belanda bernama Catenius van der Meijden seperti sambel brandal, sambel serdadoe, sambel boedak, dan sambel badjak juga dikuasainya. Dan rasanya jauh lebih nikmat dari buatan Catenius van der Meijden. Bahkan konon Catenius van der Meijden sempat belajar pengolahan sambal pada Karuwah sebelum mulai menulis buku resep sambalnya yang terkenal itu.

Sebenarnya bahan yang digunakan Karuwah untuk membuat sambal sama saja. Misalnya resep sambal ulek. Karuwah meletakkan 6–8 lombok, satu cabhi alas ditambah satu setengah sendok teh garam dan satu setengah sendok teh terasi yang sudah dimasak. Kemudian ia menumbuk halus semua itu, menggorengnya sebentar dan sambal siap disajikan.

Yang membedakannya hanya botol kecil yang besarnya seperti botol minyak kayu putih cap Gajah ukuran sedang yang berisi cairan berwarna cokelat yang selalu ia bawa di dalam jaritnya. Jika cairan itu diteteskan pada ulekan sambal, seketika itu pula rasa sambal khas Karuwah tercipta. Tak ada yang tahu terbuat dari apa cairan berwarna cokelat itu. Tapi, kata orang itulah resep rahasia nikmatnya sambal Karuwah.

ILUSTRASI – BUDIONO/JAWA POS

Riwayat menyebutkan kemasyhuran sambal Karuwah sudah bergema sejak zaman kolonial. Sejak Karuwah masih seorang gadis remaja dan menjadi pelayan restoran milik China bernama Sha Lun. Dari Koh Sha Lun-lah kemampuannya membuat sambal ditempa. Dan Koh Sha Lun mengakui kecerdasan Karuwah dalam meracik bumbu rempah menjadi sambal. Bahkan Karuwah tidak menggunakan cabai (Capsicum) dari Benua Amerika yang dibawa orang-orang Portugis pada abad ke-16 yang kemudian tumbuh di Nusantara. Melainkan menggunakan Piper retrofractum yang di Madura dikenal dengan nama cabhi alas. Namun, riwayat lain menyebutkan selain tekun bereksperimen mengolah rempah seperti lada, jahe, hingga kunyit menjadi sambal, Karuwah juga rajin bersemedi. Dalam semedi itulah ia kemudian mendapatkan resep sambal dari penunggu rumahnya yang ternyata juru masak Ratu Dyah Suhita. Mana yang benar tak ada yang tahu pasti. Yang pasti sambal buatan Karuwah memang nikmat sekali.

Sebenarnya bukan itu saja kehebatan sambal Karuwah. Setiap orang yang mencicipi sambalnya diyakini akan lenyap masa lalunya yang kelam dari ingatan. Para pembantu yang diperkosa majikannya akan lupa bahwa ia pernah diperkosa, anak-anak yang disiksa orang tuanya akan lupa rasa sakitnya, para pencinta yang ditinggalkan kekasih hatinya dan nyaris bunuh diri segera baik-baik saja begitu merasakan nikmatnya sambal Karuwah. Mereka semua yang mengalami kenangan pahit akan kembali mendapatkan semangat hidupnya usai pulang dari warung lalapan Karuwah.

Makanya tak perlu heran jika warung lalapan Karuwah selalu ramai oleh pembeli. Mereka rela antre berjam-jam untuk merasakan nikmat sekaligus khasiat dari sambal buatan perempuan Madura itu. Antrean bisa mencapai satu kilometer. Kadang mereka yang antre bisa tidak kebagian. Sebab, warung itu hanya buka pada malam Jumat bakda magrib dan tutup sebelum azan Subuh berkumandang. Tidak di hari yang lain.

Saking nikmatnya sambal Karuwah membuat kemasyhuran sambalnya terdengar hingga ke daerah lain. Bahkan pernah salah satu pengusaha restoran dari Jakarta datang ke rumah Karuwah untuk membeli resep sambal Karuwah seharga mobil, tapi Karuwah menolaknya.

”Harganya bahkan lebih mahal dari harga diri saya sendiri,” kata Karuwah.

Pernah beberapa pedagang lalapan mencoba membuat drama-drama kecil agar dagangan lalapannya laris. Mereka memberi nama warung lalapannya dengan: Lalapan Sambal Karuwah. Ditambah sedikit kasak-kasuk bahwa resep rahasia sambal Karuwah telah bocor ke tangannya. Warung itu mendadak ramai. Orang-orang mengantre. Tapi, antrean panjang itu hanya bertahan seminggu. Selanjutnya warung itu jadi sepi kembali. Sampai kemudian tutup selama-lamanya.

”Rasa mungkin bisa ditiru. Tapi, khasiat dari sambal Karuwah siapa yang sanggup menandingi?” begitu kasak-kusuk orang-orang melihat fenomena makin banyaknya warung yang mendompleng nama besar Karuwah.

Karena itu, ketika kabar sakitnya Karuwah tersebar seantero kampung, orang-orang berkasak-kusuk, pada siapa resep rahasia sambalnya itu akan diwariskan? Sebab, tak satu pun dari keturunan Karuwah yang semuanya perempuan punya bakat membuat sambal. Tak juga anak satu-satunya dan dua cucunya yang juga perempuan. Nisya, anak semata wayang Karuwah, tidak begitu pandai membuat sambal. Karena itu, banyak orang berharap resep itu diwariskan ke salah satu keturunannya yang tak pandai memasak itu. Sehingga beberapa orang yang punya kepentingan berdagang lalapan bisa membeli resep itu dengan harga tinggi.

Tapi, siapa yang sanggup? Memang beberapa orang berpikiran picik pernah berusaha mencuri ramuan sambal Karuwah yang selalu ia simpan di dalam jaritnya itu. Tapi, tak ada satu pun yang berhasil. Seolah kamar Karuwah diberi pagar gaib. Benar memang beberapa pencuri berhasil masuk ke kamar Karuwah ketika nenek itu sedang lelap tertidur. Tapi anehnya, para pencuri itu tak bisa keluar dari kamar Karuwah hingga pagi. Mereka seolah memasuki rimba belantara atau terombang-ambing di dalam lautan luas tanpa tahu jalan kembali. Beberapa pencuri bahkan hanya bisa menangis tersedu-sedu sampai Karuwah membuka jendela. Membiarkan cerlang matahari menerangi kamarnya. Dan para pencuri itu bersimpuh memohon ampun.

Melaporkan pada pihak yang berwajib? Tidak. Karuwah tidak melakukan itu. Ia justru mengajak para pencuri itu mengobrol, memberinya makan lalapan dengan sambal ajaibnya, kemudian mempersilakan mereka pulang. Malah beberapa dari mereka diberinya ongkos pulang.

***

Dengan napas satu-satu akhirnya Karuwah memanggil anak dan cucu-cucunya untuk mendampinginya di sisi lincak. Seolah ia tahu bahwa saat itulah kematiannya bakal tiba.

”Aku tak bisa memberikan apa-apa pada kalian,” katanya lirih dengan nada pendek dan napas tersengal-sengal. ”Hanya jaga rumah ini dan pekarangan yang kutanami cabhi alas itu. Jangan sampai dirusak orang. Jangan kalian jual. Itulah satu-satu warisan nenek moyang kita,” lanjutnya.

Nisya, anak semata wayangnya, mencoba bertanya. ”Bagaimana dengan resep sambal itu, Ibu?”

Karuwah menarik napas panjang. Dari matanya ia melihat sosok kakek tua berbaju putih dengan janggut lebat sedang berdiri di sudut kamarnya. Dan tubuh Karuwah bergetar hebat. Bukan. Bukan ia tak mau mewariskan resep sambalnya yang termasyhur itu. Tapi, ia terikat janji dengan penunggu cabhi alas di pekarangan rumahnya itu. Bahwa jika resep rahasia itu bocor pada siapa saja, seluruh kampung tempat tinggalnya akan terserang wabah yang membuat panen gagal karena diserang hama belalang dan tikus. Karena itu, Karuwah menggeleng ketika ditanya pertanyaan itu. Hingga ia mengembuskan napas terakhirnya. Lagi pula, Karuwah merasa anaknya tak akan sanggup menanggung segala konsekuensi mempelajari resep sambal ajaibnya itu. Masa lalu orang-orang yang pahit yang lenyap usai menikmati sambal Karuwah sebenarnya tidaklah lenyap. Melainkan menjadi ingatan Karuwah setiap hari. Karuwah menanggung segala kepahitan hidup orang-orang. Semakin banyak pembeli yang kehilangan masa lalunya yang pahit itu, semakin menumpuk penderitaan Karuwah. Karuwah merasakan betul betapa menderitanya perempuan yang diperkosa yang kebetulan jadi pelanggannya. Kadang dorongan ingin bunuh diri meledak-ledak karena diri sudah tak suci lagi. Ini hanya contoh. Penderitaan lain jauh lebih mengerikan dari ini. Ia khawatir anaknya berakhir gila. Dan ia tak mau itu terjadi. Biarlah rahasia tetaplah menjadi rahasia. Sebab, setiap rahasia yang terbuka berarti terbuka juga pintu derita.

Nisya keluar kamar Karuwah dengan wajah lesu. Berlinang air mata. Juga anak-anaknya. Salah seorang tetangga yang menunggu di beranda memberanikan bertanya.

”Siapa yang beruntung mendapatkan resep rahasia itu?”

Nisya hanya diam. Memandang halaman penuh tanaman cabhi alas yang mulai berbunga. Tercium bau semerbak dari rumah Karuwah. Wangi kembang tujuh rupa. (*)

EDY FIRMANSYAH

Lahir di Pamekasan, Madura. Bergiat di Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Buku kumpulan cerpen terbarunya yang telah terbit adalah Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, 2021).

Artikel Asli