Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Kisah Untuk Dinda - Part 4: Berakhir

4. Berakhir

   Suara alarm tidak berhasil membangunkan Dinda, yang membangunkan dia adalah suara speaker yang selalu dibunyikan tetangga sebelah tiap Kamis pagi karena diadakan senam bersama. 

Aku tau kau mencari mamah muda … Kau mendekati merayu rayu menggoda … Aku tau kau mencari mamah muda … Aku tau kamu tak betah di rumah, oke baik Bu sekarang ke kiri, kiri, kiri, kiri, kanan, kanan, kanan!” Dinda menutup telinganya dengan bantal. Oke, rasanya mustahil untuk tertidur lagi karena kantuknya sudah hilang.

     Dia terbangun dengan seluruh tubuh terasa sakit dan mata berat karena semalaman menangis. “Dindaaa, bangun! Nenek buat semur lagi, nih.” Teriakan Nek Asia melengking dari depan. Dinda beranjak dari kasur, membuka pintu. “Makan dulu. Kamu nggak berangkat kerja?”

     “Udah berhenti.”

     “Lho?”

     Dinda membuka pintunya lebar, mengambil mangkuk sayur dari Nek Asia dan meletakkannya di meja makan. Nek Asia mengikuti. “Kok bisa tho, Nduk? Kan baru berapa hari kerja?”

     “Nggak suka, atasannya galak.”

     “Hm, gitu? Jadi mau tetap kerja di toko bunga?”

     “Belum tahu juga.”

     Nek Asia menyisingkan helaian rambut Dinda. “Habis nangis, tho? Kok sembab?”

     “Permisi …,” mereka berdua melihat ke pintu dan melihat sosok tinggi dengan balutan kemeja biru yang lengannya digulung hingga ke siku berdiri. Dinda mengernyit melihat kemunculan Geri.

     “Ngapain ke sini?”

     “Nenek baru inget lagi goreng pisang. Nenek tinggal ya, yuk, Nduk.

     Nek Asia menyisakan Dinda dan Geri yang setia berdiri di depan pintu. Dinda mengambil secentong nasi, rasa laparnya kini bertubi-tubi, dia segera melahap semur jeroan buatan Nek Asia. 

Geri melangkah masuk, menarik kursi di depan Dinda. Meletakkan satu sisir pisang dan seplastik susu kotak di meja, sembari duduk. “Ada yang pernah bilang, katanya harus banyak makan pisang biar bahagia.”

     “Ngapain ke sini?”

     “Aku mau minta maaf.”

     “Minta maaf buat apa? Kamu nggak salah apa-apa, kok, aku yang salah. Udah deh, nggak usah merasa bersalah gitu. Lagipula hubungan kita juga udah selesai, nggak ada apa-apa lagi.” Dinda mengalihkan pandangannya, tidak mau menatap mata Geri yang menjadi salah satu kelemahan terbesarnya.

     “Ponsel kamu nggak aktif, aku takut kamu kenapa-napa.”

     “Kalau aku mati juga bukan urusan kamu, kok. Tenang, kalau aku jadi arwah … aku nggak bakal gentayangin kamu.”

     “Din,” Geri melembutkan suaranya, “kemarin itu jangan dianggap serius, kita berdua cuma terbawa emosi. Perbuatanku emang salah dan udah sewajarnya kamu marah.”

     Dinda menyuap semur ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan nikmat, berpura-pura tidak peduli, padahal kedatangan Geri cukup mengusiknya. Dia harus menahan keinginan diri untuk lari ke pelukan cowok itu seperti biasanya atau mengecup pipinya sebagai sambutan selamat pagi. 

“Aduh, Nek Asia pintar banget sih masaknya, kamu mau? Eh tapi, ini mah bukan selera kamu ya. Jangan deh, nanti sakit perut. Ini kan makanan kalangan bawah, nggak cocok buat kamu.”

     Mendengar itu, Geri justru mengambil sendok, menyuapkan jeroan ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat. Dinda menatapnya heran.

     “Itu jeroan, lho.”

     “Terus?”

     “Haduh kalau Kak Iren tahu kamu makan jeroan karena aku, dia pasti marah … terus bilang, aduuuh nasib buruk apa sih yang menimpa adik aku, pasti karena Dinda nih—“

     “Din, kamu kenapa, sih?”

     “Kenapa apanya? Aku cuma udah sadar posisiku di mana!”

     “Aku bilang begitu bukan bermaksud meremehkan atau menghina kamu, aku cuma mau kamu sadar tentang mimpi kamu—“

     “Ya, ya, ya, terima kasih atas kata-katanya Tuan Geri yang terhormat, sekarang aku udah sadar dan seratus persen yakin. Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah ke sini lagi, kita udah putus. Oke? Pu-tus.” Dinda menekankan kata itu dengan saksama dan mutlak. 

Meskipun jauh dalam lubuk hatinya, dia membohongi diri sendiri, putus dari Geri bisa jadi adalah sebuah mimpi buruk yang tidak mampu dia bayangkan. Namun, kehidupan memang selalu memberi kejutan tak terduga, manusia harus pintar beradaptasi. Dunia tidak akan senantiasa melembut hanya karena seseorang sedang bersedih atau mengasihani diri sendiri.

     “Aku udah punya janji sama kamu.”

     “Janji apa?”

     “Temenin kamu ketemu sama Papa.”

     “Nggak usah, aku bisa sendiri.”

     “Kamu yang minta aku buat temenin? Aku udah kosongin semua jadwal hari ini.” Salah satu yang selalu Dinda sukai dari Geri; pria itu selalu menepati janji dan berprinsip. Dinda pasti akan kalah debat soal urusan tersebut. Karena tahu adu argumen pun tidak berguna, Dinda akhirnya menurut.

     ****

     Sudah satu jam Geri menunggu di ruang tengah, terlihat kikuk harus melakukan apa. Biasanya kalau Dinda begitu lama, dia tak segan ke kamar, memberi peringatan agar gadis itu melakukan sesuatu dengan cepat karena waktu setiap detiknya adalah sesuatu yang berharga. 

Namun, kali ini tidak. Ada sesuatu menghalanginya melakukan itu. Dia mendongak begitu menemukan Dinda sudah keluar dengan rambut setengah basah. Aroma parfum vanilla memenuhi ruangan. “Udah?” tanya Geri.

     “Hm. Kamu tunggu di mobil aja.”

     Geri menurut. Dia menghidupkan mobilnya, selang lima belas menit kemudian, Dinda menyusul. Geri melirik Dinda yang wajahnya terlihat dingin. Cowok itu mendekat dan membuat Dinda memundurkan wajahnya dengan antipati, tapi tujuan Geri adalah menarik seatbelt di sebelah kursi, menyadari kedekatan wajah mereka. Dinda sampai menahan napas. Jantungnya berdebar cepat seperti mengalami takikardia.

     Kendaraan melaju.

     Dinda menghidupkan lagu, suara Brian McKnight menyanyikan lagu Marry Your Daughter terdengar. “Can marry your daughter … And make her my wife … I want her to be the only girl that I love for the rest of my life … And give her the best of me 'til the day that I die, yeah … I'm gonna marry your princess … And make her my queen.”

     Tangan Dinda bergerak ingin mematikan tape-nya, tapi sebelum itu terjadi, Geri segera menahan tangannya. “Kenapa diganti? Ini bagus, kok.”

     Dinda menarik tangannya menjauh, mengerucutkan bibir jengkel, dia bukannya tidak suka dengan lagunya atau tidak suka dengan suara Brian McKnight, itu adalah sebuah bentuk kemustahilan. Namun, kondisinya tidak tepat, tidak untuk saat ini. She'll be the most beautiful bride that I've ever seen … Can't wait to smile … When she walks down the aisle … On the arm of her father … On the day that I marry your daughter.” Geri justru menyanyi membuat hati Dinda kian panas.

     “Suara kamu jelek!”

     “Nyanyi itu bisa memperbaiki emosi kita jadi berpikiran positif karena ada hormon oksitosin yang keluar.”

     “Iya, bikin makin kesel, tahu?”

     Geri akhirnya menyerah. Dia mematikan tape mobilnya. Sewaktu di lampu merah, Geri melihat anak-anak berjualan boneka emotikon per. Dia memanggil anak itu, membeli dua boneka sekaligus lalu memasangkannya di dashboard. “Yang ini aku,” tunjuknya pada emoji yang berlambang senyum, “kalau yang cemberut ini kamu.”

     Bola mata Dinda bergerak, melirik emoji itu, yang bergerak naik-turun sewaktu mobil berjalan. Dinda menahan tawanya sewaktu melihat kepala emoji itu bergerak heboh seolah sedang berusaha menghiburnya. “Nah gitu dong ketawa, kan bagus.”

     “Kamu nggak usah peduliin aku, mending lihat ke depan biar cepat sampai karena udah nggak betah di mobil ini dan semobil sama kamu.” Mendengar itu, Geri akhirnya terdiam mati kutu.

****

     Mobil tiba di lapas. Mereka berdua bergegas turun, mengambil nomor antrian yang untungnya belum terlalu ramai karena mereka berdua datang lebih awal. Setelah melewati serangkaian proses yang cukup njelimet, mulai dari pendataan informasi, pengambilan foto dan sidik jari. 

Kemudian setelah berhasil mendaftar, beralih menuju ke gedung utama lapas yang jaraknya kurang lebih seratus meter. Memasuki bangunan utama, kembali melewati protokol keamanan dengan memberikan KTP sebagai jaminan, ponsel yang tidak boleh dibawa masuk, dan diharuskan memakai nomor pengunjung yang dikalungkan.

     Dinda ditemani Geri masuk ke sebuah ruangan dengan meja panjang, duduk di sana. Dia terlihat sedikit gugup, meskipun ini bukan kali pertama dia menjenguk ayahnya. Dinda selalu takut sekaligus sedih, membayangkan kondisi ayahnya dalam lapas. 

Menyadari kegugupan Dinda, Geri mengusap punggungnya, berharap itu berhasil menenangkan. Dinda menoleh, melemparkan tatapan permusuhan sekaligus isyarat agar cowok itu tidak menyentuhnya. Geri pun akhirnya menurunkan tangan.

     Setyo muncul, Dinda menengadah, matanya bertatapan dengan sorot mata Setyo. Gurat-gurat halus sudah terlihat di ujung matanya, bahkan tubuhnya terlihat begitu kurus. Dinda berusaha menguatkan diri, tidak ingin membuat ayahnya khawatir. 

Hal pertama yang Setyo lakukan adalah menarik putri semata wayangnya itu ke dalam pelukan. Meluapkan kerinduan yang membuncah dalam dada, mengecup puncak kepalanya berkali-kali. “Papa kangen banget sama kamu, Nak.”

     “Aku juga, Pa.”

     Setyo melepaskan pelukan, tapi matanya tidak lepas menelusuri wajah Dinda. Berusaha menuntaskan rasa rindunya. “Kamu gimana kabarnya?”

     “Baik, Pa.” Sungguh pertanyaan retorika, padahal tentunya tidak baik-baik saja, dia sedang hancur dari dalam dan berusaha memasang perisai agar kejatuhannya tidak terlihat. “Papa lebih kurus.”

     “Geri, kamu juga gimana? Lancar-lancar aja bisnisnya?”

     Geri menyalim tangan Setyo dan mengangguk. “Iya, Om.”

     “Bagus, terima kasih ya udah temenin Dinda ke sini. Jadi gimana, terakhir kali kamu bilang diterima kerja di tempat kakaknya Geri? Enak di sana?” Tiga hari lalu, Dinda sempat menelepon dan memberitahu kabar itu, sungguh menyenangkan rasanya sewaktu mendengar nada penuh kebanggaan tersamar dalam suara ayahnya.

     “Uhm, aku—“ Dinda terlihat bingung, “yah, baik, Pa. Nggak ada masalah kok.” Akhirnya kata itu yang keluar, ketika seseorang menyatakan kebohongan, dia tidak sadar bahwa dirinya sedang berusaha membuat kebohongan-kebohongan lainnya untuk menutupi realita. Tapi, bukankah terkadang seseorang butuh ilusi daripada kejujuran yang menyakitkan? Karena hidup kenyataannya sudah lebih pahit.

     Geri terkejut, dia sempat menatap Dinda, wajahnya terlihat tersenyum. Senyum yang pura-pura.

     “Papa makannya yang banyak ya, badan Papa kelihatan kurus, tauk.”

     “Kan lagi zaman diet? Kayak kamu dulu?” Setyo tertawa geli, tapi tangannya tidak lepas menggenggam tangan Dinda. “Mama gimana? Masih sering komunikasi sama kamu, kan?”

     Kepala Dinda mengangguk.

     “Papa nggak tega sama Mama, harus nanggung semuanya …, kamu masih tinggal di rumah sewaan lama?”

     “Iya, Pa.”

     “Nanti kalau Papa udah keluar, Papa bakal tebus semuanya. Bakal kerja keras lagi, biar punya rumah besar kayak dulu, bisa jalan-jalan bertiga sama Mama. Papa bakal berusaha punya lebih banyak waktu buat kalian, nggak terlalu sibuk di luar.” Ada raut penyesalan tergambar di wajah Setyo, menyadari betapa dulu dia begitu kurang memiliki waktu bersama keluarga, bahkan di posisi seperti ini. 

Rekan kerja yang selama ini dia utamakan, justru tiada, posisinya telah digantikan. Namun, tidak dengan posisinya sebagai Ayah bagi Dinda. Butuh waktu lama bagi setiap orang untuk menyadari, beberapa disadarkan hanya butuh waktu beberapa tahun, tapi ada juga yang butuh waktu sepanjang hidupnya

      “Dari dulu kamu selalu minta Papa masakin nasi goreng, nanti bakal Papa bikinin, yang lebih enak dibanding nasi goreng Bi Ijah.” Dinda tertawa geli mendengarnya. “Selama Papa nggak ada, Dinda ngerepotin kamu, nggak?” Setyo kini bertanya ke Geri. “Sesekali anaknya suka manja, maklumin aja, ya?”

     “Nggak kali, Pa.” Dinda membantah.

     “Ya nggak apa, manusiawi dong kalau manja ke orang yang dia sayang? Menjadi perempuan yang mandiri itu keren, tapi di sisi lain, laki-laki itu suka kalau merasa dibutuhkan.” Setyo berceloteh sambil tersenyum jenaka, melihat ekspresi merah di wajah Dinda.

     “Nggak, Om, dia sama sekali nggak ngerepotin kok.” Geri meletakkan tangannya di pundak Dinda, berusaha menyamarkan keretakan hubungan di antara mereka berdua, tapi raut wajah Dinda tidak bisa berbohong bahwa dia terlihat tidak nyaman. Setyo seolah memiliki radar yang bisa menangkap itu.

     “Dulu sebelum Papa sama Mama nikah, Kakek pernah kasih Papa nasihat yang diingat sampai sekarang, katanya hubungan itu seperti halnya sebuah rumah. Kalau ada lampu rusak, atap bocor, lantai pecah, kamu nggak mungkin langsung pindah dan beli rumah baru, kan? Yang dilakuin ya memperbaiki kerusakan itu. Sama halnya dengan pasangan, kalau ada sesuatu hal mengganjal, diperbaiki … bukan langsung berpikir buat berpindah hati.”

     Tak lama, seorang petugas datang memberi informasi bahwa waktu kunjungan yang telah diberikan sudah habis. Setyo berdiri, dia segera memeluk Dinda, mengecup keningnya lama sebagai ucapan perpisahan, lalu beralih memeluk Geri dan sempat membisikkan sesuatu. “Om tahu kamu lagi ada masalah dengan Dinda, apa pun yang terjadi, jangan berhenti perjuangin dia, ya? Om percaya sepenuhnya sama kamu,” bisiknya tegas, sambil menepuk pundak Geri seolah itu saja sudah cukup untuk memberinya kekuatan.

****

     Bukannya membawa mobil menuju ke jalan pulang, Geri justru mengarahkan kendaraannya ke Setu Babakan. Dinda yang sejak tadi terdiam, kontan pun bertanya. “Ngapain ke sini? Aku mau pulang.”

     “Kita belum makan. Biasanya kamu ngambek, bete, kesel kalau kita nggak makan siang.”

     “Aku bisa makan di rumah.”

     “Jalanan macet jam segini.” Geri terus mencari alasan, dia memarkirkan kendaraan dan segera turun. Mau tidak mau, Dinda akhirnya mengekor. Terakhir kali dia ke Setu Babakan adalah lima tahun lalu, dia masih mengingat tempat ini semuanya dengan jelas. Berkencan pertama kalinya dengan Geri—Geri yang waktu itu begitu dingin dan tak tersentuh, tapi sebetulnya begitu hangat dan perhatian, hanya saja terlalu malu untuk menunjukkan. Sekarang pun masih sama.

     Mereka duduk di tempat sama, menikmati berbagai makanan di sana. Bir pletok, kerak telor, selendang mayang, hingga soto babat. Geri memerhatikan Dinda begitu lahap menikmati soto babatnya. Dia pun memberikan babat-nya ke mangkuk Dinda. Cewek itu akhirnya menoleh. “Kenapa dikasih ke aku? Nggak suka?”

     “Buat kamu aja, aku senang liat kamu makan banyak gitu.”

     Dinda mendengus. “Nggak usah ngerayu, nggak mempan.”

     “Tolong jangan patahin semangatku, Din, aku lagi berusaha ini.”

     “Berusaha apa?”

     “Berusaha menarik rasa marah kamu dan berharap hubungan kita bisa kembali baik-baik aja kayak semula.”

     “Kenapa?”

     “Seperti yang dibilang Om Setyo tadi, membangun hubungan tuh kayak sebuah rumah, kalau ada sesuatu barang rusak, harusnya diperbaiki kan? Bukan justru berpindah ke rumah baru.” Geri menatap Dinda, berharap gadis itu bisa mengintip jauh dalam lubuk hatinya kalau dia serius. “Kalau alasan kita berpisah hanya karena egoku, itu nggak adil buat kita, Din.”

     Gadis itu segera mengalihkan pandangannya dan menikmati soto babat dalam diam. Seusai menikmati kuliner, Geri mengajaknya naik ke perahu naga. “Dulu, pernah ada cewek aku ajak ke sini … awalnya aku pikir bakal ngebosenin, aku pikir dia nggak suka ada di tempat ini karena terbiasa hidup enak, ternyata pikiran aku salah.”

     “People changes, Ger. Sikap manusia dipengaruhi sama lingkungannya, angsa cantik kalau ada di lumpur, dia nggak akan menarik lagi dan warna bulu-nya bakal pekat karena lumpur. Cewek yang kamu bilang itu harus pintar beradaptasi, kesempatannya untuk hidup enak udah hilang. Dia harus berjuang lagi, supaya hidupnya kembali kayak dulu.”

     Sewaktu sedang mengayuh naga, ponsel Geri berbunyi. Dia segera mengambilnya dan melihat panggilan masuk dari Bonita. Geri mengesah panjang, memasukkan benda itu kembali ke saku. Ponselnya berdering lagi. “Angkat aja, mungkin itu penting.” Dinda menyadari kegelisahan Geri, Geri akhirnya tidak mempunyai pilihan dan segera mengangkat ponselnya.

     “Nggak bisa, saya lagi di luar. Bukannya saya udah bilang kosongin jadwal untuk hari ini?” Geri menutup panggilan, dia memasukkan ponselnya ke saku dan melirik Dinda, merasa bingung untuk mengungkapkan. “Telepon dari kantor, ada investor penting yang mau ketemu sama aku.”

     “Ya udah, aku nggak ngelarang kamu pergi. Aku bisa pesan ojek atau naik angkutan umum, kok. Biasanya juga gitu.”

     Perahu dikayuh merapat ke ujung danau. Geri turun, mengulurkan tangannya. Namun Dinda tidak merespons dan memilih turun sendiri, dia berjalan lebih dulu beberapa langkah di depan. Ponsel Geri berdering lagi, cowok itu segera mengangkatnya dan membentak. “Iya saya ke sana sekarang!”

     Dinda menuju ke gerbang dan melihat sebuah mikrolet berwarna biru telur asin lewat, dia melambaikan tangannya, memberhentikan kendaraan. Dinda segera naik, tidak memedulikan Geri yang masih sibuk menelepon dengan ponselnya.

****

     “Kalau dari sisi SDM-nya bagaimana?”

     Rudi melirik Geri yang justru terdiam, pandangannya terlihat kosong, tidak menjawab pertanyaan dari salah satu investor.

     “Melihat dari SDM yang semakin tumbuh, saya optimis bahwa bisnis developer game ini makin berkembang, Pak. Pilihan untuk menginvestasikan dana pada perusahaan kami adalah pilihan tepat dan akan menjadi investasi produktif,” Rudi segera mengambil alih percakapan, “tidak hanya didukung SDM kreatif, tapi dari sisi fasilitas dan teknologi pun sudah memadai, bahkan teknologi yang kami gunakan termasuk salah satu teknologi terbaik di Asia Tenggara.”

     “Impressive.” Pria tua berwajah bule dengan sorot mata sebiru air laut itu mengangguk. Tergambar ketertarikan di wajahnya.

     Rudi menunjukkan sebuah data. “Ini data terbaru menunjukkan bahwa pengguna gim kami di smartphone setiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan. Gamifikasi selular menjadi tren baru dan ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan, Pak.”

     Setelah hampir dua jam melakukan penjelasan dan negosiasi hingga akhirnya terjadi sebuah kesepakatan. Ruangan rapat itu menunjukkan aura suka cita dari wajah para karyawan dan rekan yang hadir, tapi tidak dengan Geri. Geri justru kembali ke ruangannya dengan lesu. Rudi segera menghampirinya. “Lo kenapa, sih? Itu tadi investor besar! Nggak biasanya lo diam begitu.”

     “Thanks udah lo handle,” Geri menepuk pundak Rudi.

     “Masalah Dinda, ya? Kemarin gue sempat dengar dari anak-anak. Kalian ribut di kantor.”

     “Ya gitulah.” Ekspresi Geri terlihat bahwa dia sedang tidak ingin diinterupsi dengan berbagai pertanyaan yang untungnya segera Rudi mengerti. Geri dengan mood-nya yang sedang tidak baik bukan pilihan baik untuk didekati.

     “Ya udah, gue urusin kerjaan gue dulu. Oh ya, omongin soal komposer musik, dia cuma mau ketemu sama produser game-nya. Gue harap lo luangin waktu sebentar, karena publisher udah nanyain soal gim yang selanjutnya di-publish.” Rudi segera keluar, menutup pintu. Memberi ruang bagi Geri untuk merenung.

****

     Langit sudah berubah gelap. Dinda menatap ke luar jendela, memandang cakrawala yang sehitam jelaga. Berusaha menguak misteri di baliknya, berkecamuk dengan sejuta tanda tanya dalam kepala. Embusan angin menerpa kulit, seolah sedang berbisik menyampaikan sebuah pesan tentang perpisahan. 

Tatapannya lantas tertuju ke sebuah mobil sedan mewah yang berhenti di depan rumahnya, lalu muncul Geri dengan masih menggunakan pakaian sama seperti tadi pagi. Dinda terkejut, dia segera menutup jendela. Menebak-nebak, ada gerangan apa dia datang?

     Dinda memandangi dirinya di cermin. “Oke, nggak apa, Din. Lo harus bersikap biasa aja, seolah nggak terjadi apa-apa,” dia berusaha meyakinkan intuisinya. Setelah yakin bahwa kondisi hatinya telah tenang, Dinda beralih menuju ke pintu depan, membukanya, langsung berhadapan dengan tubuh jangkung Geri.

     “Kenapa ke sini?”

     “Mau memastikan kamu udah di rumah.”

     “Seperti yang kamu lihat. Udah selesai, kan. Oke, aku tutup—“ baru saja Dinda bergerak ingin menutup pintuya, Geri langsung menahan dan melangkah masuk. “Mau apa lagi, sih?”

     “Jadi kesimpulannya, kamu mau tetap putus sama aku?” nada suaranya terdengar diliputi rasa bersalah. Geri tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya, dan sempat membuat Dinda tertegun sejenak. “Kalau waktu bisa diputar balik, aku bakal tarik kata-kataku, Din.”

     “Lo pantas dapat yang lebih baik. Lo pasti kerepotan, kan, karena selalu gue suruh bagusin keran di kamar gue? Maaf ya.” Suara Dinda terdengar bergetar. Waktu yang dia lalui bersama Geri bukan waktu yang sebentar. Mereka merajut banyak kenangan di dalamnya, melewati suka dan duka bersama.

     “Din, kalau kamu menangkap maksud kata-kata kemarin, bukan itu poinnya.” Sungguh, Geri sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan Dinda, atau melukai harga dirinya. Dia hanya ingin Dinda tersadar atas mimpi-mimpinya. Lebih bersemangat meraih itu, bukan justru mengeluh pada kesempatan yang tak kunjung datang atau justru menyerah sebelum berperang.

     “Lebih baik gagal di hubungan, kan, daripada gagal di pernikahan?”

     Geri tidak punya pilihan. “Kalau memang itu mau kamu, aku nggak mungkin, kan, memaksa kamu supaya kita nggak putus?”

     Rasanya suatu hal mustahil untuk menatap mata Geri, alhasil Dinda mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha meminimalisir tatapan saling bertemu. “Aku rasa, lima tahun itu berhasil menguatkan hubungan kita, ternyata nggak, ya? Well, itu pilihanmu. Tapi kamu harus dengar ini,”

     Dinda lantas menoleh, menatap iris mata Geri. “Aku seseorang yang kejam soal perasaan. Lima tahun bukan waktu sebentar untuk menjalin hubungan, ada banyak kenangan di dalamnya. Tapi kita berdua tahu, saling mengingat cuma memperbesar rasa sakit. Jadi aku nggak segan untuk berusaha lupain kamu, mungkin—,” ada jeda sebentar sebelum Geri melanjutkan, lelaki itu menarik napas dan mengembuskannya perlahan, “—kalau kita papasan di jalan, aku memilih balik arah daripada harus berhadapan sama seseorang yang berusaha aku lupain mati-matian, atau justru berpura-pura nggak kenal. Aku bakal hapus dan block seluruh pesanmu. 

Bukan karena aku benci kamu, cuma itu pilihan paling bijak biar kita berdua bisa terusin perjalanan panjang ke depan. Ketika aku udah bisa berdamai dengan semuanya, berarti aku udah punya pengganti kamu, meskipun itu nggak mudah. Waktu aku bisa nyebut nama kamu tanpa harus ngerasa sakit, dan aku bisa berpapasan sama kamu, tanpa harus teringat lagi sama masa lalu.”

     “Deal.” Dinda menjawab mantap. “Itu keputusan paling bijak.” Dan juga begitu berat.

     “You were amazing, you know that.

     Pertahanan Dinda sebentar lagi akan runtuh, tapi ditahannya sekuat mungkin hingga tenggorokan dan bagian belakang bola matanya terasa sakit. “Aku pergi, kamu jaga diri. Jangan lupa kunci pintunya.” Geri segera berbalik dan bergegas angkat tinggi, melenyapkan batang hidungnya dari hadapan Dinda. 

Gadis itu mengunci pintu, berlari ke kamarnya, kembali ke ruangan yang hening. Hanya isakan tangisnya ditemani dinding sebagai saksi bisu. Dinda menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal, menangis sepuasnya, mengeluarkan sesak yang tak kentara dalam dada.

     Dia mengambil sebuah boneka pisang di sebelahnya, hadiah dari Geri. Lalu melampiaskan seluruh amarahnya dengan memukuli benda itu. “Stupid!”

Artikel Asli