Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Burung-burungan Spirit Doll

Burung-burungan Spirit Doll

Bangsa ini aneh. Karantina WNI dari jalan-jalan di luar negeri cuma untuk mewaspadai virus Covid-19 dan segala variannya. Paparan virus yang lebih ngeri, virus hedonisme dan virus pemujaan terhadap luar negeri, malah luput dari filter karantina.

BEGITULAH pikiran seorang jomblo tetangga Sastro, pemuda yang semakin hari semakin neko-neko. Sejak permohonan KTP seumur hidupnya bukan saja ditolak, tapi juga ”ditusuk” hatinya oleh petugas, ia mulai aneh-aneh, padahal sudah ngebet agar tidak ribet bolak-balik ngurus perpanjangan KTP.

”Ngurus KTP seumur hidupnya nanti saja, Mas. Sekalian kalau sudah ganti status. Biar nggak mondar-mandir,” ujar mbak-mbak petugas kepada si jomblo yang statusnya masih belum ganti-ganti itu.

Serasa ditusuk hatinya. Wong dia menjomblo bukan lantaran tak laku. Tak kurang-kurang cewek-cewek di berbagai perempatan dan tikungan yang ingin dipacarinya. Sayangnya, berkat didikan dari burung-burungan spirit doll-nya, ia tak pernah tega membuat cewek-cewek itu kerja bakti.

Kerja bakti di RT/RW? Bukan! Cuitan burung-burungan spirit doll-nya: pacaran, namun tiada janji akan menikahinya, sama saja dengan membuat cewek-cewek itu kerja bakti.

***

Ada Merdu Sinaga. Cewek Sumatera Utara yang dikenal pemuda itu di tikungan belakang IndoApril, tak kalah anu dari Cinta Laura. Bibirnya bak orang baru menang pilkada di mata para tim suksesnya sebelum akhirnya tak kunjung mengimbali mereka dengan proyek-proyek daerah. Bibirnya selalu dielu-elukan!

Tak bibir saja. Apa yang terucap dari bibir ranum menyala itu pun penuh budi bahasa. Tak pernah menyakiti. Apalagi sampai merendahkan agama lain. Contoh, bahwa Tuhan-nya tak perlu dibela. Tuhan-nya lebih kuat dari Tuhan agama lain yang lemah-lemah, yang perlu dibela sampai mati-matian.

Sinaga kesengsem si jomblo gegara pas kehujanan di emper IndoApril ”Cinta Laura” itu nelepon minta dijemput, dibawakan payung.

”Maaf, ’Laura’, aku tidak bisa menjemput.”

”Kenapa?”

”Sebab di negeri ini yang berwenang menjemput cuma polisi…”

”A maca ci? Bukannya kadang-kadang tentara juga bisa menjemput, malah sambil mukul-mukul…?”

”Ah, paling itu suma isu. Tapi aku juga bukan tentara.”

”Ooooh….”

Walau akhirnya hujan-hujanan menjemput juga, kelakar itu membuat si jomblo di benak Sinaga bagaikan gagal panen di benak petani, susah dilupakan. Selama ini seabrek cowok lain di benak Sinaga cuma ibarat sukses panen di benak petani, cepat terlupakan.

***

Cerita berlanjut…

Menikahi Sinaga, dijamin pemuda jomblo ini tak perlu repot-repot mendampingi istri karena harus berurusan dengan aparat hukum atas laporan dari masyarakat yang tersinggung cuitannya. Walaupun si jomblo pernah mendengar pengakuan Sinaga di bawah terang bulan pohon jambu, bahwa dia ini termasuk rakyat kandung. Yang artinya, kalau dilaporkan oleh rakyat tiri, pasti laporannya tidak akan pernah digubris.

Ah, itu kan baru desas-desus. Kebenarannya belum terbukti. Si jomblo ini siap saja mendampingi Sinaga dalam keadaan suka dan duka, termasuk bila berurusan dengan aparat hukum.

Persoalannya bukan di situ. Si jomblo tak ingin menikahi Sinaga lantaran tak ingin mengecewakan ibunya yang cinta produk dalam negeri. Sinaga, bagi si jomblo, mengandung hal asing, yaitu ”naga”. Ini tak sesuai dengan nilai-nilai luhur Nusantara. Si jomblo mendapatkan dukungan ketika sebagian masyarakat protes akan patung naga di suatu bandara di daerah istimewa klitih, eh, di Daerah Istimewa Jogjakarta.

Sejak itu si pemegang ”KTP sebagian hidup” ini selalu menghindar bila akan dikunjungi Sinaga. Sebab, sesuai cuitan burung-burungan spirit doll-nya, ia tak tega membuat Sinaga kerja bakti.

***

”Kamu kebablasan, Nak,” Sastro mengawali nasihatnya ke si jomblo saat idola Sinaga ini sowan. Jendro, istri Sastro, muncul menghidangkan jajan pasar. Sastro melanjutkan serial nasihatnya, ”Tak memuja luar negeri, tetapi malah antipati terhadap segala hal dari luar, sebenarnya juga virus yang sama mencekamnya. Harusnya malah kamu yang perlu dikarantina.”

Sastro menunjuk gong di pendapa mininya. ”Lihat itu. Gawar (rangka) gong gamelan Jawa itu pakai ragam hias naga. Dulu laskarku melawan Belanda juga dipimpin oleh naga, Jenderal Naga Bonar…”

”Deddy Mizwar?” celetuk si jomblo sambil mencamil jajan pasar suguhan Jendro.

”Bukan Deddy Mizwar. Tapi Naga Bonar. Aku malah nggak tahu siapa itu Deddy Mizwar. Tahuku, camilan yang kamu makan itu. Namanya juga ada naganya, nagasari.”

”Tapi, di Madura, ini bukan nagasari. Ini pes-pes.”

”Pes-pes itu cuma seperti nagasari saja. Bukan nagasari. Seperti habib kan juga bukan habib, to? Di Madura nagasari ya nagasari, cuma diucapkan nangghehsare. Kalau nggak percaya sana tanya Pak Mahfud MD, deh. Apa kamu sudah nggak percaya lagi sama Menko polhukam kita? Lha wong keris pertahanan keamanan kita juga mengandung naga, kok. Nagasasra Sabuk Inten! Orang Madura juga bilang gitu.”

Akhirnya si jomblo ingin menikahi Sinaga. Sayang, ”Cinta Laura” ini sudah menikah. Kabarnya dengan polisi atau tentara gitu. Demikian syahibul cuitan burung-burungan spirit doll. (*)

SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Artikel Asli