Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Perjalanan ke Kota Angin

Jawapos Diupdate 02.17, 10/10 • Dipublikasikan 09.17, 10/10 • Ilham Safutra
Perjalanan ke Kota Angin

Aku masih ingat pada suatu malam, ketika istriku menghilang dari sisi pembaringan. Aku memandangi sebuah sisi yang selalu ia tiduri selama lima tahun terakhir. Dari tempat itu ia merangkulku tiap malam. Memijit leherku yang pegal. Aku masih ingat tawanya ketika aku membuat guyonan.

ANEH, hari ini, sisi tempat tidur itu demikian rapi. Aku mencoba menghirup bekas keringat istriku di sana, namun tidak ada. Hanya aroma sabun cuci yang tercium keras. Tidak ada bekas kusut sedikit pun. Seperti sudah bertahun-tahun tidak tersentuh manusia. Padahal, semalam ia masih ada di sana. Apa yang terjadi?

Istriku ngambek. Pulang kampung dia. Jelasku tanpa diminta kepada Man, tetangga kontrakanku. Ia hanya tersenyum kecil. Seperti menyiratkan sesuatu.

Kulanjutkan pekerjaanku seperti biasa. Berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Kota demi kota. Menjinjing satu pikulan dan menawarkan orang-orang untuk memperbaiki sepatunya. Aku sendiri tidak yakin dengan tujuanku. Semakin lama, aku semakin merasa, tujuanku sebenarnya adalah untuk berjalan kaki. Sejauh-jauhnya. Selelah-lelahnya. Langkah kakiku hari demi hari yang membuat semuanya terasa normal. Aku bisa bernapas. Aku bisa tertawa dan bercanda dengan teman-teman seperjalananku.

Sungguh orang-orang kota itu tidak tahu, berapa panjangnya satu hari dan satu malam. Aku bisa menjajahi jarak sepuluh kilometer. Dan aku tidak pernah merasa lelah. Sesekali merasa lapar. Namun, rasa lapar itu tidak terlalu menggangguku. Pikiranku terus melayang ke malam ketika istriku menghilang dari sisi pembaringan. Semakin lama aku mencoba mengingatnya, semakin aku tidak yakin dengan ingatan itu.

Belakangan ini, aku sering memilih tidur di pos ojek, kemudian mandi pagi di pasar, sebelum melanjutkan perjalanan. Dalam lamunanku belakangan, aku terus mencoba memperjelas wajah istriku. Namun, entah mengapa wajah itu mengabur atau merupakan gabungan dari beberapa wajah sekaligus. Apakah aku sudah menua atau mengidap sejenis penyakit yang entah namanya ini. Entahlah. Aku tidak peduli. Aku hanya perlu terus berjalan. Sejauh-jauhnya. Selelah-lelahnya. Sampai akhir waktu.

Aku sedikit bergairah ketika orang-orang menggunjingkan seseorang berambut perak yang sering mereka temui. Mang Es Krim, Mang Penjual Sapu, Mang Siomay bergunjing tentang perempuan itu di pos ojek. Mereka mengatakan bertemu perempuan aneh berambut perak yang tidak pernah berhenti berjalan kaki, berputar-putar dari satu kampung ke kampung lainnya. Kadang berputar ke arah yang sama, kadang semakin jauh. Seolah-olah, satu-satunya jalan hidupnya adalah berjalan kaki. Tampaknya aku menemukan seorang teman sehati. Seorang teman perjalanan. Aku selalu mencari cara agar perjalanan kami dapat bersinggungan.

Jika aku hidup di zaman dunia persilatan, tentu perilaku perempuan ini bukanlah sesuatu yang aneh. Rambutnya yang putih panjang dan tidak terawat adalah ciri yang lazim saja dimiliki seorang pendekar.

Aku menanyai pendapat orang-orang mengenai perempuan ini. Konon ia menyembunyikan sepotong wajah yang cantik. Hal ini membuatku tertarik. Sesuatu yang misterius adalah umpan yang bagus untuk sebuah khayalan. Perempuan itu segera mengisi waktu-waktu ngaso-ku. Jika kami berdua hidup dalam dunia persilatan, kami tentu punya julukan yang terdengar lazim. Lalu, apa julukanku? Pemuda Pemanggul Bambu? Dunia khayal tampaknya sudah mengambil separo dari hidupku. Mungkin lebih. Semakin lama semakin terasa mengasyikkan. Aku lupa kapan terakhir merasa lapar atau merasa sedih. Sesekali aku mencoba mengingat wajah istriku. Namun, aku selalu gagal. Wajah itu telah menjadi percampuran wajah-wajah yang aku kenal. Wajah-wajah artis sinetron. Wajah mbak penjual jamu. Wajah ibu muda di dalam mobil. Semakin aku mencoba memikirkannya, kepalaku menjadi makin pusing.

***

Esok aku akan memulai perjalanan ke kota angin. Aku sudah mengemas beberapa potong bajuku ke dalam tas sedang. Aku sudah mendapatkan pesan yang kuat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan piknik. Ini adalah perjalanan hidup dan mati. Kalimat itu mengiang sangat kuat. Aku tidak tahu persis siapa yang membisikkan. Aku meninggalkan bedak, pensil alis, dan lipstikku.

Aku berpamitan kepada suami dan anakku dalam pelukan yang panjang. Mereka memandangku dengan sorot mata yang aneh. Hidupku indah sebagai seorang ibu dan seorang istri. Aku tidak perlu mencari apa-apa lagi. Pergi ke kota angin sendirian adalah keputusan yang absurd. Seperti yang kukatakan, seandainya aku bisa menunda kepergianku ini sampai aku menemukan alasan yang masuk akal. Namun, aku benar-benar tidak bisa menundanya.

Beberapa orang menuduhku sedang mengalami krisis paro baya. Seseorang yang memiliki kegenitan berlebihan pada berbagai hal. Siapakah perempuan konyol yang meninggalkan keluarga mapannya untuk melakukan perjalanan gila, tanpa jelas juntrungannya.

Tapi, apa sebenarnya yang sungguh masuk akal di dunia? Apakah bekerja keras siang dan malam untuk mencari uang adalah masuk akal? Apakah menimbun harta sampai sebanyaknya sambil menunggu kematian? Atau mungkin menjadi orang terkaya di dunia? Orang paling terkenal atau paling berkuasa? Yang mana dari semua itu yang masuk akal? Yang jelas, ke sanalah orang-orang menuju. Ke sanalah mereka berlari sampai urat napas mereka terputus-putus.

Berapa banyak yang mati dalam perjalanan ke tempat kerja? Berapa banyak yang mati ketika sedang bekerja di kantor? Orang boleh memilih cara yang berbeda-beda untuk menunggu kematian. Aku memilih perjalanan ke kota angin. Kota anginlah yang menyediakan jawaban atas semua pertanyaanku. Belakangan ini kepalaku dipenuhi pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah meninggi yang menyesaki rongga kepalaku. Berkali-kali aku muntah untuk mengurangi timbunan pertanyaan yang menempel seperti lintah di serabut otakku.

Semenjak meninggalkan rumah, aku berjalan tanpa henti. Kakiku seperti sudah tahu ke mana harus menuju. Bila malam tiba, aku akan menginap di sebuah kos harian dengan harga murah meriah. Aku melalui perkampungan demi perkampungan dalam senyap. Tak seorang pun sungguh memperhatikanku, seolah aku sudah menjadi transparan. Aku mendengarkan percakapan orang-orang, seperti waktu yang mendengarkan semuanya dengan setia.

Perjalanan ini membuat aku berteman dengan orang-orang dengan kasta terendah dalam struktur masyarakat. Para pemungut sampah, para pemulung, penjual perabotan, penjual siomay, bakso, mi ayam. Mereka adalah saksi dari orang-orang yang melesat cepat dengan keangkuhannya. Motor yang menyalak dan meliuk-meliuk. Mobil besar yang berdecit-decit. Sepeda yang mendengarkan suara kring-kring yang menjengkelkan. Semua orang ingin melaju begitu cepat dan meninggalkan para pejalan kaki sebagai pecundang; yang kalah dalam pertarungan kehidupan.

Aku? Tidak berhenti sejenak pun. Seolah berjalan kaki satu-satunya tujuan hidupku. Aku tidak bisa berhenti berjalan kaki, seperti aku tidak bisa berhenti bernapas. Sama seperti orang-orang yang tidak bisa berhenti berangkat subuh ke kantor masing-masing. Melesat dengan ojek atau kereta api. Pulang malam dengan tubuh penat, namun puas. Satu periode kehidupan telah terselesaikan. Tugas manusia hidup sudah terjalankan. Melaju bersama arus besar bernama kehidupan. Aku merasakan hal yang sama. Aku tidak pernah lagi menyentuh bedak, pensil alis, dan lipstikku. Tidak pula pernah becermin. Jika aku becermin saat ini, mungkin tidak lagi bisa mengenali diriku sendiri.

***

Perempuan berambut perak telah semakin utuh dalam ingatanku. Rambutnya panjang dan menutupi sebagian besar wajahnya yang berwarna cokelat. Aku hanya bisa menatap sepasang bola matanya yang berpijar seperti matahari. Tatapan mata yang begitu kuat, seolah ingin membakarmu habis. Namun tunggu sebentar, biarkan mata itu membentuk senyuman dan bibir itu melekuk membentuk keramahan. Kau akan merasakan nikmatnya berenang-renang dalam telaga yang teramat teduh. Kau seperti dapat mengambang di atas telaga beralas daun-daun teratai.

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakanku. Man menatapku dengan tatapan bingung.

”Aku sudah membayari kontrakanmu. Takut kamu akan kembali. Apakah istrimu sudah pulang?” tanyanya dengan mata yang penuh arti.

”Istri? Istri yang mana? Aku sekarang mempunyai seorang pacar.”

”Ooh… Kapan aku bisa bertemu dengannya?”

”Nanti akan kuperkenalkan kamu dengannya.”

Semenjak aku kembali ke kontrakanku, aku merasa bahagia sekali. Aku bisa tidur dengan sangat nyenyak. Perempuan berambut perak itu tidur di sisi ranjang yang kosong. Kamar tidurku kembali hangat. Setiap perempuan itu pergi mandi, aku menghidu aroma keringatnya dari kasur yang kusut tertimpa tubuhnya. Sekilas muncul ingatan tentang perempuan lain yang pernah tidur di sana? Tapi siapa? Mantan pacarku? Ah sudahlah, untuk apa aku pikirkan. Yang jelas, saat ini sisi ranjang itu selalu hangat. Perempuan dengan bobot sedang mengisinya dan meninggalkan aromanya yang khas di sana. Setiap pagi aku mendengarnya bersenandung atau tertawa. Tawanya begitu riang, membuat jantungku ikut bernyanyi. Kami selalu berjalan bersama-sama. Menuju tempat-tempat yang kami rencanakan. Setiap malam kami berbincang sampai larut malam.

”Ke mana tujuan kita besok?”

”Aku sudah menemukan peta menuju kota angin.”

”Apa yang akan kita lakukan di kota angin?”

”Bercakap dengan Dewa Tertawa?”

”Apa yang kita percakapkan dengan Dewa Tertawa?”

”Ia tidak pernah bercakap-cakap. Dari waktu ke waktu ia hanya tertawa.” Kemudian kami akan tertawa terbahak-bahak. Lelah tertawa, kami berpelukan sambil saling menatap mata masing-masing. Pertautan dua pasang bola mata ini ternyata bercakap lebih banyak. Ribuan kalimat meluncur dan luruh bertebaran di atas pembaringan. Waktu berhenti dan kami mengambang di atas telaga. Bersama teratai dan ikan-ikan yang berenang dengan bahagia. (*)

NI KOMANG ARIANI

Penulis kelahiran Gianyar, 10 Mei 1978. Bukunya yang telah terbit adalah Lidah (2008), Senjakala (2010), Bukan Permaisuri (2012), Jas Putih (2014), Ketut Rapti (2017), Marigold (2019) dan Telikung (2020).

Artikel Asli