Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Mengapa Jakarta Selatan Lebih Elit dari Jakarta yang Lain?

Photo by: Dedy Kurniawan on Unsplash

Artikel ini merupakan kerja sama LINE TODAY x Quora untuk memberikan ruang diskusi yang bermanfaat. Kami juga mengajak pembaca untuk memberikan pendapat di kolom komentar.

---

Mengapa Jakarta Selatan lebih elit dari Jakarta yang lain?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Aditya R. Natasoedirdja:

Wilayah Jakarta Selatan alias Jaksel menjadi daerah elit setidaknya sudah dimulai sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sejak kawasan Batavia Lama (oud Batavia) menjadi malaikat maut bagi orang-orang Belanda karena laporan pertama wabah malaria pada tahun 1733 sampai 1738, mereka cenderung membangun rumah ke arah selatan, yaitu Jakarta Pusat sampai Jakarta Selatan. Pada abad ke-18 Masehi, pembesar VOC membangun Landhuis atau villa yang ditujukan sebagai tempat peristirahatan dan termasuk dalam tanah partikelir yang berada di kawasan selatan Batavia. Kawasan selatan ini termasuk dalam pinggiran Batavia atau Ommelanden. Kawasan pinggiran ini pada masa kini merupakan daerah Pasar Minggu, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Cimanggis, sampai Depok. Khusus wilayah Depok merupakan tanah partikelir yang dimiliki Cornelis Chasteleijn yang pada akhirnya berkembang menjadi Republik Depok dengan status Gemeente.

Menara Gerbang memasuki Tanjung Barat setinggi 25 meter.
Landhuis Tanjung Barat.

Wilayah selatan Jakarta pada abad ke-18 Masehi yang terkenal tentu saja Tanjung Barat. Daerah tanah partikelir Tanjung Barat pada saat itu merupakan miliknya Jan Andries Duurkoop yang membangun landhuis bergaya barok. Tidak mau ketinggalan, Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra membangun landhuis di Cimanggis untuk istri keduanya. Pembangunan rumah-rumah gedong di Batavia sebelah selatan ini menandai bahwa kawasan itu merupakan daerah elit. Faktor-faktor yang menjadikan daerah selatan menjadi kawasan elit pada masa itu, seperti;

1. Iklim di selatan Batavia lebih dingin dan sejuk dari pusat kota.

2. Bebas dari ancaman wabah malaria dan kolera maupun ancaman bencana banjir.

3. Penanda wilayah ekslusif dengan petinggi VOC sebagai pemiliknya.

Wilayah Selatan Batavia Pada Masa Daendels dan Hindia Belanda (1800–1942)

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang memerintah tahun 1808 sampai 1811 telah menandai berakhirnya kota lama Batavia sebagai pusat pemerintahan. Daendels memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah selatan, tepatnya Weltevreden yang sebelumnya merupakan tanah partikelir. Wilayah Weltevreden sebenernya mulai dibangun oleh Anthonij Paviljoun pada abad ke-17 Masehi dengan pendirian banyak landhuis. Daendels yang berkuasa dengan tangan besi kemudian mengkonsolidasikan tanah partikelir dan bangunan landhuis yang mewah dari Weltevreden sampai Buitenzorg. Di wilayah Buitenzorg sendiri pada saat itu sudah berdiri istana yang didirikan oleh Gustaaf Willem van Imhoff dan pembangunannya diselesaikan Jacob Mossel. Daendels kemudian merenovasi istana Buitenzorg, selain membangun istananya sendiri di Weltevreden.

Daendels seperti halnya pendahulunya, menjadikan wilayah selatan sebagai daerah elit karena pertimbangan iklim yang lebih bersahabat bagi orang Eropa. Pembangunan ini juga disertai pula oleh pelebaran jalan pos yang termasuk dalam megaproyek jalan Anyer-Panarukan. Pelebaran jalan di wilayah selatan sampai Buitenzorg menurutnya penting bagi mobilisasi pasukan dan transportasi antar wilayah pusat Batavia dan penyangganya di selatan yang menyediakan bahan baku agraris. Wilayah selatan dengan ciri khas tanah partikelir tetap bertahan pada masa Daendels dan penerusnya.

Peta Batavia tahun 1914 dengan wilayah selatan belum dimasukkan karena masih merupakan tanah partikelir

Seiring perkembangan wilayah Batavia, pemerintah Hindia Belanda diketahui membeli beberapa tanah partikelir di daerah selatan, contohnya pembelian Lenteng Agung yang menyebabkan daerah tersebut pada akhirnya berstatus tanah Gubermen. Pada masa Hindia-Belanda, pembangunan kawasan elit Batavia sejatinya dipusatkan di wilayah Menteng, bukan Kebayoran Baru karena wilayah itu baru dikembangkan selepas Perang Dunia II dengan ciri khas rumah bergaya Jengki atau Yankee Style.

Peta Kawasan Elit Menteng

Perencanaan kawasan elit Menteng pada tahun 1910 sampai 1918 sebagai hunian orang-orang Eropa menandai mulainya perumahan elit modern di Batavia. Menteng yang dibangun 1920an sampai 1930an merupakan pengembangan dari Weltevreden. Tentu saja Menteng berada di sebelah selatan karena Belanda menilai hanya kawasan selatan saja yang layak menjadi tempat hunian mereka. Kawasan Menteng juga menandai pemukiman elit pendahulu Kebayoran Baru maupun Pondok Indah. Tentu saja Belanda turut membangun fasilitas pendukung di kawasan Menteng seperti gereja dan stadion selain taman-taman.

Wilayah Jakarta Selatan Pada Masa Indonesia

Pada masa Orde Lama mulai terjadi pengembangan wilayah selatan Jakarta di Kebayoran Baru. Wilayah Kebayoran Baru dikembangan sebagai kota satelit dari Jakarta. Pengembangan Senayan sebagai hasil dari Asian Games, mempercepat pengembangan Kebayoran Baru. Pada wilayah ini banyak dibangun rumah bergaya Jengki yang menjadi ciri khas arsitektur Orde Lama. Wilayah Kebayoran Baru didesain sebagai kota taman atau garden-city, tidak ubahnya seperti Menteng. Pembangunan wilayah Kebayoran Baru menghubungkan wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan yang pada masa Hindia Belanda kurang diperhatikan karena memang masih banyak tanah partikelir dengan landhuis di sana.

Rumah bergaya Jengki tahun 50-an.
Soekarno dan Nikita Khrushchev meninjau pengembangan kawasan GBK dan Senayan.

Pada masa Orde Baru, mulai dibangun kawasan Pondok Indah oleh pengembang perumahan (Keluarga Murdaya) pada tahun 70-an. Pondok Indah menjelma jadi kompleks perumahan dan kawasan komersial paling bergengsi yang mewah di Indonesia. Pondok Indah yang dapat dikatakan Beverly Hills Indonesia ini menandai tren berkembangnya rumah gedong di Jakarta Selatan. Tidak hanya di Pondok Indah, rumah-rumah mewah pun banyak dibangun di Kemang. Tentu rumah mewah ini adalah miliknya pejabat maupun pengusaha crazy rich Indonesian yang old money atau OKL dan ekspat. Para new money alias OKB tentu tidak mau ketinggalan dan berupaya mendapatkan rumah di selatan Jakarta dekat Kemang, Cilandak dan Pondok Indah.

Kesimpulan

Kawasan selatan Jakarta menjadi daerah elit tidak begitu saja ada, tapi melalui proses lama sejak zaman VOC dulu. Keberadaan landhuis di wilayah selatan Batavia menandai transformasi daerah itu menjadi kawasan elit. Bangunan landhuis yang diperuntukkan sebagai tempat tetirah atau villa telah membuat daerah Jakarta Selatan sudah elit sejak dulu kala dibanding kawasan lainnya yang dekat dengan laut. Pengembangan ke arah selatan pada masa VOC tentunya bukan karena sebab yang arbiter, tapi disertai alasan yang matang seperti udara yang sejuk, tidak kebanjiran dan bebas dari penyakit tropis. Seiring berkembangnya waktu, pemerintah Hindia Belanda pun meneruskan kebijakan ini, namun pengembangan ke selatan tidak di Jakarta, melainkan Buitenzorg dan Bandung. Jika Jepang tidak menyerang Hindia Belanda, ibu kota sudah di Kota Kembang.

Pemerintah Daerah Jakarta pun sudah sejak masa orde lama mengembangkan wilayah Jakarta Selatan karena dinilai bebas banjir dan lebih sejuk dari kawasan Jakarta lainnya. Akan tetapi, pengembangan kawasan yang ngawur dan banyaknya pendirian bangunan pencakar langit di kawasan selatan pada dua dasawarsa terakhir menjadikan daerah Jakarta Selatan rentan kebanjiran juga. Pondok Indah yang elit itu pun kalau hujan selalu kebanjiran, begitupula nasib Kebayoran, Kemang atau Mampang.

Foto pemanis saja. 

Artikel Asli