Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Tak Tahan Miskin, Istri Melarikan Diri ke Pelukan Pria Lain

kumparan Dipublikasikan 05.31, 16/10 • Cinta dan Rahasia
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Aku rasa tak ada seorang pun yang ingin hidup miskin di dunia ini. Kalau bisa diminta mungkin semua orang akan menjadi kaya, emperan jalan pun akan bersih dari orang-orang yang menjadikan itu sebagai tempat tidur mereka. Namun nasib siapa yang tahu? Aku memang terlahir dari keluarga yang sederhana, tinggal di rumah kontrakan bersama orang tua dan keempat adikku.

Bapakku memang seorang tukang becak sedangkan ibu hanya tukang cuci disambi dagang jajanan anak-anak. Jangankan untuk bergaul, makan sehari-hari tercukupi saja kami sudah bersyukur. Aku adalah si sulung, melihat keadaan keluargaku yang begitu menyedihkan membuatku mencari cara bagaimana aku bisa kerja sedangkan sekolah saja tidak tuntas, hanya sampai SMP.

Selagi bisa punya tenaga aku mencari pekerjaan ke tetangga yang menjadi kuli bangunan, dia pun mengajakku untuk bekerja di Jakarta dan dari situlah kehidupan keluarga mulai membaik perlahan. Lima tahun kemudian, bapakku mulai sakit-sakitan dan kakinya tidak bisa lagi diajak untuk mengayuh becak bahak berjalan normal saja sudah sulit. Dari Jakarta aku terus mengirimkan uang agar meringankan beban mereka dan semua berjalan hingga akhirnya kutemukan seorang gadis yang membuatku jatuh cinta.

Namanya Esih, dia karyawan di salah satu supermarket dekat tempat tinggalku bersama teman-teman yang juga menjadi kuli bangunan. Mulanya ia sulit didekati tapi lama-lama ia sendiri yang mengejarku, teman-teman sering meledekku kalau Esih tiba-tiba datang ke kontrakan hanya untuk bertemu. Yaa namanya juga kucing, dikasih ikan siapa yang nolak? Hubunganku dengan Esih memang harus kuakui terlampau jauh tapi itu semua atas dasar mau sama mau hingga akhirnya dia hamil.

Kondisi keluargaku yang mulai membaik pun harus dikejutkan dengan kepergian bapak, semua histeris dan terkejut. Aku langsung pulang begitu mendengar kabarnya, kutinggalkan Esih begitu saja tanpa pamit. Di kampung tidak mungkin aku memberi kabar akan menikah dengan Esih karena bapak baru saja pergi, jadi kusimpan semuanya sampai ada waktu yang tepat untuk mengatakannya. Setelah urusan pemakaman dan nujuh hari bapak selesai, aku kembali ke Jakarta dan pertama kali menemui Esih di tempat kerjanya.

Ia marah padaku tapi setelah kuberi tahu alasannya, dia pun bisa mengerti. Aku mengajak Esih menikah sebelum kehamilannya terlihat oleh orang lain, meski kedua orang tuanya terlihat tidak setuju karena aku hanya seorang kuli bangunan tapi akhirnya mereka pasrah. Singkatnya pernikahan kami terjadi, aku tahu kedua orang tua Esih sama sekali tidak menyukaiku mungkin kalau bukan karena kondisi pernikahan kami tidak mungkin terjadi.

Setelah menikah aku pun tanggung jawab penuh dengan kebutuhan Esih dan anak kami, ia sementara di rumah sampai dia ingin kembali untuk bekerja. Aku tidak masalah, anakku perlu ibunya untuk merawat dan membesarkannya dengan baik. Aku bekerja siang dan malam agar kebutuhan keluarga di kampung dan istriku bisa terpenuhi dengan baik karena tidak mungkin aku langsung lepas tanggung jawab pada mereka setelah menikah.

Hari demi hari berganti dan anak kami pun sudah bertambah satu tapi sikap Esih mulai terlihat tidak stabil. Dia selalu marah-marah dan tidak mau disentuh oleku, saat itu kupikir dia memang sedang dalam tahap tidak stabil tapi kemudian dia mulai tidak mau masak atau makan makanan yang biasa kami makan. Aku tidak ambil pusing karena namanya juga wanita, pasti akan ada fase di mana dia tidak selera dan merasa semuanya salah.

Ketidakstabilan itu tidak berakhir sampai enam bulan, beberapa kali aku melihat anak-anak kami menangis kelaparan dan dia hanya sibuk dengan ponselnya. “Kamu ini gimana sih? Anak nangis bukannya ditenangkan malah asyik dengan ponsel saja!” ocehku, “itu anakmu, kamu saja yang urus mereka! Aku bosan” jawabnya. Sambil menggendong bayi kami aku menggeleng ke arahnya “kamu itu seorang ibu mana bisa bosan dengan tanggung jawab seumur hidup begini” sahutku, “aku mau saja mengurus anak-anak lagi asal hidup kita tidak susah terus seperti ini” jawabnya.

“Bukannya bersyukur masih bisa makan, kamu malah ngomong yang tidak-tidak” timpalku, “hidup puluhan tahun sama orang tuaku saja sudah susah, nikah malah tambah susah” sahutnya, “lah kamu salah mau hidup enak ya cari orang kaya, bukan ngejar kuli bangunan. Kamu yang nyamperin aku terus di kontrakan kok, sekarang malah ngeluh. Aneh” balasku. Dia diam saja dan semakin sibuk dengan ponselnya, terkadang aku melihat dia tersenyum pada layarnya itu “kamu tuh ngapain sih? Senyam-senyum kaya gitu” tanyaku, “kamu urus saja anakmu, ini bukan urusan kamu” sahutnya langsung pergi ke kamar dan mengunci pintu.

Semakin hari sikapnya semakin tidak bisa kuterima, dia menelantarkan anak-anak dan tidak menganggapku sebagai orang saat bersamanya. Suatu hari ketika aku pulang, sudah terbayang di otakku kasur yang nyaman untuk merebahkan tubuhku tapi dari kejauhan kudengar tangisan bayi dan anak pertamaku. Aku segera berlari karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak-istriku tapi yang kutemukan para tetangga sudah berada di rumah menenangkan anak-anakku.

“Pak, tadi istrinya pergi bawa tas besar kayanya dijemput mobil di depan gang. Anak-anak menangis tapi ia tinggalkan begitu saja” ucap salah satu tetangga. Aku mengucapkan terima kasih dan meminta agar mereka menjaga anak-anak sebentar selagi aku pergi membeli susu juga makanan. Setelah kembali aku mengajak anak-anak masuk ke dalam, bayi kami sudah tenang dan si sulung pun makan dengan sangat lahap. Rupanya mereka tidak diberi makan sejak pagi, pantas saja nangis kelaparan sedangkan selama ini semua uang kuberikan pada istri karena berharap dia yang akan merawat anak-anak di rumah.

Istriku lari dari rumah entah mengejar siapa, sedangkan aku harus memikirkan bagaimana caranya menjadi seorang ibu dan bapak sekaligus untuk kedua anakku. Akhirnya salah satu tetangga menawarkan bantuannya untuk membantuku menjaga mereka, aku hanya perlu memberinya uang untuk memasakkan si sulung dan memberi bayi kami susu formula. Aku tahu semua tetangga bergunjing tentang rumah tanggaku tapi aku tidak punya waktu untuk memperdulikan mereka, “anak-anak lebih membutuhkanku” pikirku.

Pernah beberapa kali aku ingin membawa mereka ke kampung karena rasanya terlalu berat untuk mengambil dua peran sekaligus tapi tidak tega kalau ibuku yang sudah tua harus merawat dua anak yang masih butuh perhatian besar. Sedangkan adik-adikku sudah tidak lagi tinggal di sana, mereka punya kehidupannya masing-masing dan aku tidak ingin merepotkan. Aku kerja siang-malam dan menjadi ibu setelahnya, semua itu kulakukan selama puluhan tahun tanpa pernah terpikir untuk mencari seorang istri.

Aku tahu anak-anakku, terutama si sulung pasti memiliki trauma tersendiri dan aku tidak ingin mereka menjadi ketakutan kalau harus memiliki ibu baru. Suatu hari si sulung sempat berkata “aku tidak ingin menikah, aku rasa semua perempuan sama dengan Ibu” ucapnya, hatiku serasa dipukul dengan sangat kencang dan aku berusaha untuk meyakinkan dia kalau semua itu adalah salahku tapi sayangnya dia tetap tidak percaya. “Aku lihat dari dulu Bapak tidak macam-macam, Bapak tidak pernah marah dan hanya berusaha mengurus kami setelah lelah bekerja tapi aku ingat betul bagaimana Ibu berucap menjelek-jelekkan Bapak sampai akhirnya membawa semua bajunya dan pergi entah ke mana” sahutnya.

Sebenarnya aku bersyukur memiliki anak-anak yang tahu tentang kebenarannya tapi tak pernah sekalipun kuajarkan pada mereka untuk membenci ibunya. Ketika anak-anak mulai dewasa, mereka menyuruhku untuk berhenti bekerja “Abang dan Ade sudah bisa bekerja, sekarang Bapak istirahat aja biar kami yang memenuhi kebutuhan Bapak” ucap mereka waktu itu tapi aku tidak ingin menyusahkan kedua anakku, jadi aku memilih untuk tetap bekerja menggantikan bapakku menjadi tukang becak. Mungkin aku sudah tidak sanggup mengangkat bahan bangunan tapi kakiku masih kuat untuk mengayuh pedal becak.

Hari-hari yang berat sudah berhasil aku lewati tanpa menyusahkan siapa pun, tetangga yang membantu pun tetap kubayar agar tidak memiliki hutang budi. Sekarang aku bersyukur kedua anakku sudah percaya kembali pada pernikahan meski mereka menjadi selektif saat memilih pasangan, tapi itu tidak penting lagi. Anak-anakku tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik, buatku sudah cukup. Aku hanya bisa berharap hidup mereka akan jauh lebih bahagia daripada pernikahanku.

Artikel Asli