Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Film ‘King Richard’: Di Lapangan Tenis, Venus dan Serena Williams Melawan Rasisme dan Seksisme

Ketika anak mereka bertanding tenis, para orang tua biasanya memantau di pinggir lapangan dengan tegang, sambil memberikan intruksi ini itu. Alih-alih melakukan hal itu, Richard Williams yang biasa dipanggil King Richard (diperankan oleh Will Smith) memilih sikap berbeda. Ia justru berpesan pada anaknya untuk tak lupa bersenang-senang saat bertanding di lapangan.

Ketika anak mereka kalah dalam pertandingan tenis, orang tua biasanya mempertanyakan kemampuan anak-anak mereka. King Richard menganggap orang-orang tua seperti itu harusnya binasa, karena bertanding itu harus dinikmati.

Film King Richard yang disutradarai oleh Reinaldo Marcus Green disebut sebagai salah satu film 2021 terbaik oleh the American Film Institute and the National Board of Review.

Film ini mendapatkan enam nominasi pada Academy Awards ke-94, salah satunya sebagai film terbaik. Nominasi yang sama juga didapatkan dari the NAACP Image Awards, the Critics; Choice Awards, dan the Golden Globe Awards.

Untuk aktingnya dalam film ini, Will Smith memenangi penghargaan sebagai aktor terbaik, antara lain dari the National Board Review, the Academy Award, the Golden Globe, and Screen Actors Guild Award.

Film ini bercerita tentang Richard Williams yang sering dijuluki sebagai King Richard, ayah sekaligus pelatih dari Venus dan Serena Williams (diperankan oleh Saniyya Sidney dan Demi Singleton), atlet tenis perempuan Afrika-Amerika terbaik di dunia.

Tak seperti kebanyakan film drama olahraga, King Richard tidak ditutup dengan kemenangan tokoh utamanya. Ia justru ditutup oleh kekalahan Venus Williams dalam pertandingan debutnya di the Bank of the West Classic pada Oktober 1994. Kekalahan ini merupakan permulaan dari serangkaian kemenangan mantan petenis nomor satu dunia itu.

Perjuangan perempuan kulit hitam Amerika

Orang-orang kulit hitam, termasuk keturunan Afrika-Amerika, masih rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan di Amerika Serikat. Dalam film ini, King Richard menarasikan serangkaian kekerasan rasial yang ia alami.

Kondisi ini juga yang mendorongnya untuk melecut Venus dan Serena bekerja keras agar bisa keluar dari Compton, California, yang di tahun 1980-1990an terkenal dengan kekerasan geng-nya.

Hanya saja, olahraga tenis yang dipilih King Richard tidaklah biasa. Pasalnya saat itu tenis juga hanya dimainkan oleh orang-orang berkulit putih di klub olahraga khusus. Namun dengan optimism dan humoris, King Richard terus meyakinkan bahwa anak-anaknya mampu menjadi pembuka pintu gerbang bagi lebih banyak anak-anak perempuan kulit hitam lainnya, terutama yang berasal dari daerah kumuh, untuk bermain tenis.

Tak hanya dilatih oleh sang ayah, Serena dan Venus juga dilatih oleh ibu mereka, Oracene (diperankan oleh Aunjanua Ellis) yang juga seorang atlet. Pada satu scene, Oracene mengingatkan kedua anaknya agar tak lupa dari mana mereka berasal.

Ia mengutip frase pidato Sojourner Truth–aktivis hak asasi perempuan kulit hitam Amerika Serikat, “Aain’t I a woman?” dan mengingatkan bahwa perempuan kulit hitam bisa melakukan apa saja.

Serena dan Venus merepresentasikan perempuan kulit hitam yang harus berjuang tidak hanya untuk menghentikan rasisme, tapi juga seksisme. Hal ini sebagaimana dikatakan Bell Hooks dalam bukunya yang juga berjudul “Aint I a woman?” yang terbit pada 1982.

Dalam salah satu bagian buku tersebut, Bell Hooks mengkritisi asumsi bahwa gerakan-gerakan perempuan kulit hitam hanya fokus berupaya mengakhiri rasisme. Padahal, menurut Hooks, pergerakan feminis yang tersegregasi, mendorong aktivis perempuan kulit hitam untuk membentuk kelompok mereka sendiri, yang sebetulnya bertujuan mengakhiri rasisme dan seksisme.

Bell Hooks pun percaya seorang feminis seharusnya memperjuangkan semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, terbebaskan dari seksisme, dominasi kelompok lain, dan juga segala bentuk opresi.

Tak melulu mengejar kemenangan

Meskipun bersikap tegas dan disiplin pada anak-anak perempuannya, King Richard juga seorang ayah yang lembut dan suka membesarkan hati anaknya.

Pada satu scene, King Richard rela dipukuli oleh seorang remaja laki-laki yang lebih besar dan lebih kuat darinya.

Mulanya ia hanya memperingatkan anak itu agar tidak melakukan cat calling terhadap anak perempuannya, tapi malah ia sendiri yang terkena bogem mentah.

Pada saat Venus bermain di kelas junior, tak seperti orang tua lain yang tampak frustasi saat anaknya kalah, King Richard justru berpesan agar anak-anaknya bersenang-senang di lapangan. Ia kemudian menarik Venus dari pertandingan kelas junior karena tidak ingin anaknya mengalami tekanan di usia yang sangat muda.

Ia ingin anaknya kembali bertanding saat telah benar-benar siap secara mental sehingga tidak gampang ‘tumbang’ setelah tenar. Dengan cara ini, Ia berhasil mengantar Williams bersaudara malang-melintang di lapangan tenis dunia sepanjang dekade 2000an.

Kakak beradik ini juga beberapa kali dipercaya mewakili Amerika Serikat di ajang Olimpiade, dan mempersembahkan medali emas, baik di nomor tunggal maupun ganda putri.

Kabarnya, Richard Williams sempat khawatir film ini akan membuat orang-orang membencinya, mengingat banyaknya ucapan dan perbuatan kontroversialnya di dunia tenis pada masa lalu. Tapi dengan keterlibatan seluruh keluarganya dalam film ini yang ingin ia digambarkan secara jujur, film ini menunjukkan segala perasaan orang tua yang mengiringi keberhasilan anaknya.

King Richard berhasil digambarkan sebagai ayah yang kebaikan-kebaikannya layak dijadikan contoh oleh generasi yang lebih muda.

(Foto: Kompas.com)

Artikel Asli