Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Fenomena Artis Adopsi Spirit Doll, Ini Tanggapan Dosen Psikologi UNS

Artis sekaligus desainer Ivan Gunawan mengadopsi boneka arwah atau spirit doll/IG @furiharun
Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tri Rejeki Andayani menilai bermain boneka sebenarnya hal lumrah. Namun jika berlebihan dalam melibatkan emosi juga tidak baik.

Bisnis.com, Solo - Fenomena yang dilakukan sejumlah artis mengadopsi boneka arwah atau spirit doll menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Munculnya fenomena tersebut juga tak sedikit memicu pro dan kontra.

Menyikapi hal itu, Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tri Rejeki Andayani mengatakan bahwa memiliki boneka arwah atau spirit doll sebenarnya merupakan hal yang wajar.

“Bagi orang dewasa, memelihara boneka arwah dan merawatnya selayaknya ‘bayi’ masih wajar. Bahkan hal itu bisa dimanfaatkan untuk media praktek bagi mahasiswa kebidanan atau keperawatan,” ujarnya seperti dikutip dari laman uns.ac.id.

Sedangkan bagi anak-anak, dengan bermain boneka sebenarnya bisa melatih tanggung jawab. Pada era 90 an, ada sebuah permainan cukup terkenal yang disebut dengan Tamagotchi. Yaitu memelihara hewan virtual dalam sebuah konsol.

“Layaknya spirit doll yang viral belakangan ini, Tamagotchi juga dapat melatih tanggung jawab anak sebelum memelihara binatang peliharaan sungguhan,” imbuhnya.

Dalam sebuah literasi, dikatakan dia, hal itu muncul karena pada dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan akan rasa cinta dan ingin memiliki.

“Hal ini mendorong seseorang untuk menjalin hubungan emosional dengan orang lain yang jika tidak terpenuhi akan memunculkan rasa kesepian,” katanya.

Ia juga menambahkan, sejatinya manusia memiliki dorongan untuk memelihara, merawat, dan membantu (nurturance).

Bisa jadi dengan memiliki dan memelihara spirit doll dapat menjadi media untuk menyalurkan dan melampiaskan dorongan tersebut.

“Karena pada kenyataannya, tidak semua orang siap memiliki anak, atau belum memenuhi syarat untuk mengadopsi anak. Seperti kita tahu, prosedur untuk mengadopsi anak juga tidak mudah. Selain itu, tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga mental,” imbuhnya.

Namun demikian, ia juga memperingatkan bahwa bermain boneka dengan melibatkan emosi yang berlebihan juga berpotensi membuat orang kehilangan realitasnya.

“Mengganggap boneka tersebut bernyawa atau ada arwahnya dan memberikan fasilitas yang berlebihan yang cenderung mengarah pada hal-hal yang sifatnya mubazir,” imbuhnya.

Apabila hal ini benar-benar dialami seseorang, ia menyarankan agar pemilik spirit doll melibatkan bantuan profesional.

“Jika sudah demikian, ada baiknya juga lingkungan sosial segera membantu yang bersangkutan untuk kembali pada realitas yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Artikel Asli