Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Miss B: (Part 91) Masih Tentang Tetangga

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 14/01 • Fira Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki

BS bikin gara-gara, kenapa dia mesti hadiahi aku ponsel termahal dan terbaru? Sekarang aku dipusingkan urusan Matt dan Bunny seputar pro-kontra menerima hadiah itu.

 Matt memang keras kepala. Ia bersikukuh menolak pulang sebelum bertemu Si Bart alias BS tetanggaku. Alasannya, hadiah dari BS sungguh tak pada tempatnya, yaitu ponsel berlambang apel model terbaru. Matt sangat tersinggung dan marah, bersikeras ingin menemui BS dan mengembalikan ponsel tersebut. Bunny? Ah, Bunny. Bisa ditebak, Bunny ingin agar gawai canggih itu tetap diterima. Jika aku menolak menerima, aku bisa memberikan kepadanya. Sementara aku berusaha mematikan perasaan pribadiku. Sesungguhnya aku merasa numb alias mati rasa.

 "Gini, Mbak B, minggu depan ‘kan Natal, ya? Aku tuh mengalami tahun yang teramat sulit. Saat pandemi banyak nganggur, trauma sempat dipenjara. Sepertinya … hape ini buatku hadiah terindah dan bikin aku ceria, deh," ujar Bunny sambil bertopang dagu di meja makan.

 Aku yang duduk di seberangnya diam saja. Aku melirik ke arah sofa panjang, tempat Matt tertidur, tapi sesekali ia terbangun dan matanya melihat ke sekeliling. Matt memang berkemauan kuat, dia pasti ingin terus mencoba menemui BS.

 "Bentar ya, Bun, tunggu situasi," ujarku.

 "Itu tunangan Mbak B kepala batu amat. Oiya, namanya Matt, jadi amat-amatlah. Mungkin bintangnya Leo atau Taurus, dan shionya bisa jadi Naga atau Macan," ujar Bunny sok tahu.

 Aku menghela napas. Aku terus memandang Matt yang melihat langit-langit agak lama. Ia baru tersadar dari tidur. Kulirik jam dinding, wah jam setengah satu pagi. Aduh, pantas aku merasa sangat mengantuk.

 Matt bangkit untuk duduk dan melihat ke arahku dan Bunny. Ia lalu berdiri, melirik ke arah jam dinding besar merah di tembok sebelah meja makan.

 "Yuk, Beauty. Kita coba lagi," ujar Matt.

 "Maksudnya?" tanyaku.

 "Ya kita ke rumah Si B*ngsat itu dan melabrak!" teriak Matt.

 "Hah? Ngelabrak apaan? Emangnya aku sama dia apa gimana, kok istilahmu itu lo, Matt," ujarku kesal.

 "Ya situasinya aku belum tahu. Aku mau interogasi dulu, kenapa bisa kirimin hadiah mahal banget. Dalam rangka apa dan apa alasannya?" tutur Matt.

 Aku geleng-geleng.

 "Mahal itu Rolls Royce! Itu baru sultan atau crazy rich!" seru Bunny, mencoba menurunkan emosi Matt.

 Aku melotot ke arah Bunny. Bunny pura-pura tak melihat, ia justru mendekati Cantik yang terbangun dari tidurnya. Bunny mengangkat kucing malangku itu sebagai tumbal pelarian dari Matt.

 "Ayo!" seru Matt.

 Aku memberi kode ke Bunny agar ikut. Dengan lunglai Bunny melepas Cantik dan mengikutiku.

 Matt jalan dengan semangat. Ia kembali memencet bel sekaligus menggedor pintu.

 TING TONG! TING TONG! TING TONG! DOK! DOK! DOK!

 Aku dan Bunny saling berpandangan, jantungku rasanya berdetak sangat-sangat cepat. Lalu, pelan-pelan pintu terbuka.

 Apa? Kenapa bukan BS? Siapa dia? Rambutnya plontos, badannya kurus tinggi.

 "Ada apa ya, pagi-pagi? Punya kesopanan, gak?" tanya pria tadi melotot ke arah kami.

 Jelas Matt badannya lebih besar. Memang kalau BS yang keluar, Matt kalah kekar. Tapi ini? Matt jelas akan menang. Ini yang kutakutkan, aku takut Matt akan menghajar pria malang yang tak kukenal ini.

 "Kamu Bart?" hardik Matt.

 Ia menggeleng. "Kamu siapa? Kamu yang datang ke sini!" teriaknya, tapi masih kalau kencang dengan teriakan Matt.

 Matt melihatku seperti memastikan itu Bart atu bukan. Aku menggeleng. Ia beralih ke arah Bunny, Bunny pun langsung menggeleng tegas.

 Aduh, aduh, jangan sampai tetangga lain keluar, batinku. Bunny sembunyi di balik badanku. Takut banget.

 "Saya cuma mau cari BS. Saya ada urusan!" seru Matt. Fiuh, sepertinya Matt percaya bahwa pria itu bukan BS.

 "Wah, gak peduli. Saya gak mau tahu," tanya pria tadi yang kita semua tidak tahu siapa dia.

 Tanpa ba-bi-bu, pria tadi menutup pintu. Matt diam dan lalu memandang kami semua. Aku kira dia akan memencet bel lagi atau menggedor pintu. Nggak tuh, Matt malah jadi cengengesan.

 Aku memandangnya heran. Matt melihatku lalu mencium pipiku.

 "Beres!" katanya ringan lalu berbalik badan sambil meraih tangan kananku.

 "Beres gimana?' tanyaku penuh kebingungan.

 "Jadi hapenya buat aku?" sahut Bunny.

 "Bun!" seruku.

 Bunny tertunduk.

 "Hahaha, taunya BS gay!" seru Matt gembira.

 "Hah?" Aku dan Bunny serempak berseru.

 "Ya iyalah. Malam-malam ada cowok di rumahnya, apa namanya kalau bukan gay? Sudahlah, ambil aja itu hadiah, anggap hadiah akhir tahun dari tetangga!" seru Matt.

 Bunny meloncat kecil. Aku geleng-geleng. Sampai apartemen, dengan mantap kuberikan HP tadi ke Bunny.

 "Anggap ini hadiah Natal!" seruku.

 "Pasti! Ini yang kumau!"

*****

Nantikan kisah lanjutan Miss B hanya di LINE TODAY pada tanggal 21 Januari 2022!

***

Tentang Penulis

Fira Basuki adalah penulis senior Indonesia yang produktif (34 buku). Kisah hidupnya yang ditulis di buku “Fira dan Hafez” (Grasindo, 2013) diangkat menjadi film “Cinta Selamanya” yang diproduksi Demi Istri Production dan Kaninga Pictures (2015), disutradarai Fajar Nugros dan dibintangi Atiqah Hasiholan sebagai Fira dan Rio Dewanto sebagai Hafez, almarhum suaminya.

Fira menghidupkan kembali fiksi seri Miss B, terbitan Grasindo yang sempat populer dan menjadi best sellers beberapa tahun silam. Miss B menceritakan kisah hidup dan keseruan cewek milenial bernama Beauty Ayu Pangestu yang akrab dipanggil Miss B. Ia tinggal di apartemen bersama Bunny dan Q serta Cantik, kucingnya.