Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Review Film: ‘Ali & Ratu Ratu Queens’

Cineverse Dipublikasikan 06.00, 22/06 • Tri Meilani Ameliya

“Di New York ada banyak plang satu arah, tapi juga sediain banyak jalan untuk jadi diri sendiri.” – Ali.

Tidak seperti ulasan-ulasan film sebelumnya, kali ini paragraf pembuka untuk mengulas film yang satu ini ditulis bersama segenap rasa terima kasih sekaligus puji nyaris tanpa kata tetapi. Telah dapat disaksikan sejak hari ini 17 Juni 2021 di Netflix, film ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ menjadi film Indonesia yang paling disayangkan tidak dapat dinikmati di bioskop-bioskop tanah air.

 

© Netflix

 

Film sentuhan sutradara Lucky Kuswandi ini tidak disangka mampu memberikan penuturan kisah selama 100 menit dengan sangat memukau. Kisahnya yang pada tampilan terluar cukup klise karena membawa narasi tentang bagaimana gambaran menginjakkan kaki di negeri orang ternyata tidak seperti yang tersentuh oleh perkiraan.

‘Ali & Ratu Ratu Queens’ benar-benar hadir sebagai dirinya sendiri dengan ide cerita yang dapat diibaratkan seperti sosok jiwa muda penuh kebebasan, tidak memedulikan apa kata orang, ia hanya ingin bercerita. Tepuk tangan meriah sekalipun agaknya tidak berlebihan untuk diberikan kepada sang penulis naskah, Gina S. Noer.

Pusat cerita film ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ adalah tokoh utamanya, yaitu Ali (Iqbaal Ramadhan). Rasa kerinduan terhadap Mama (Marissa Anita) yang seakan enggan melalui jalan pulang menuju rumah dan rasa kehilangan karena Ayah (Ibnu Jamil) telah menutup usia menyatu di dalam diri Ali sehingga membuat tekadnya bulat untuk berkunjung ke New York menemui Mama.

Selanjutnya, cerita mulai mengitari orang-orang dan berbagai hal di sekitar Ali, mulai dari cara Ali meyakinkan keluarga besar ayahnya, pengalaman pertama di New York disambut oleh ibu-ibu asal Indonesia yang masih memperjuangkan mimpinya, hingga menuntaskan rindu untuk berhadapan langsung dengan Mama.

 

© Netflix

 

Film ini kemudian semakin menyala dengan keberadaan tokoh lain, yaitu sekelompok ibu-ibu penghuni salah satu hunian bernama Queens. Ada Tante Party (Nirina Zubir), Tante Ance (Tika Panggabean), Tante Chinta (Happy Salma), dan Tante Biyah (Asri Welas).

Keempat orang tante yang menawarkan hunian sewa kepada Ali selama ia di New York itu seakan tengah meyakinkan penonton bahwa ibu-ibu tidak semenyebalkan pelaku “kejahatan skala paling ringan” yang menyalakan lampu sen kanan, namun berbelok ke kiri. Ibu-ibu ternyata bisa menjadi manusia yang asyik pada waktunya.

Pergerakkan cerita mengalir sendu ketika pencarian makna tentang keluarga ikut dimunculkan dan mendominasi. Ali sebagai pihak yang kurang beruntung karena keutuhan keluarganya dikalahkan oleh mimpi sang ibu di New York dihadapkan pada sebuah sudut pandang baru yang menyimpulkan bahwa makna keluarga bisa saja tidak terbatas pada keberadaan sosok ayah, ibu, lalu anak. Makna keluarga tidak melulu tentang mereka yang sedarah.

Selain jalan ceritanya yang segar, keunggulan ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ ada pada permainan peran para pemain yang sekilas tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam berakting. Iqbaal Ramadhan sudah seperti bunglon, meskipun identik dengan beberapa tokoh dalam film-film Indonesia yang lain, ia mampu menjadi sosok “Ali yang paling Ali” di dalam filmnya kali ini.

Air mukanya tampak alami tampil di depan kamera. Kesan dari sebuah trauma akibat orang tua yang berpisah sehingga ia tidak pernah merasakan ada yang bisa mengasihi dan menyayanginya muncul dengan baik dalam setiap cara Iqbaal bertutur dan memainkan gestur tubuh di depan kamera, khususnya ketika mudah meledak oleh amarah. Iqbaal mengeksekusi perannya sebagai pemuda yang sedang memahami proses pendewasaan dan sosok yang penuh kasih sayang terhadap keluarga dengan sangat rapi.

 

© Netflix

 

Para ratu, keempat tante yang diperankan oleh Nirina Zubir, Tika Panggabean, Happy Salma dan Asri Welas membangun chemistry yang bisa dibilang sempurna. Keempatnya hadir dengan kekuatan karakter yang menonjol, namun tidak memberikan sedikitpun ruang kepada salah satu dari mereka untuk terlihat lemah dalam beradu peran. Dialog-dialog yang dilafalkan benar-benar nyaman untuk didengar dengan mimik dan gestur tubuh yang selaras.

Mia atau Mama Ali yang diperankan oleh Marissa Anita juga tidak kalah mencuri perhatian. Entah apa yang telah ia lakukan di balik layar, Marissa muncul di depan kamera sebagai sosok yang terasingkan, sesuai dengan karakter Mia yang memang tidak “sefrekuensi” dengan teman-teman sebayanya dari Indonesia, keempat tante ratu.

Pemain pendukung pun patut untuk dilibatkan dalam pembahasan karakterisasi ini, ada Budhe yang kokoh berpegang pada tradisi diperankan secara maksimal oleh Cut Mini dan Bayu Skak sebagai salah satu sepupu Ali bernama Zul mewakili anak muda yang cepat beradaptasi di dunia modern.

Realitas sosial yang sebenarnya cukup berat jika diangkat ke dalam layar lebar juga mampu dihadirkan oleh film ‘Ali  & Ratu Ratu Queens’ dengan gaya tutur yang ringan sehingga tidak kalah mampu untuk menghadirkan sudut pandang baru kepada para penonton. Salah satunya adalah keberadaan pihak keluarga besar ayah Ali yang digambarkan menjunjung budaya tradisional mewakili realitas terkait masyarakat yang tertutup.

 

© Netflix

 

Keunggulan-keunggulan lainnya dari film ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ terdapat pada sentuhan komedi yang mampu hadir tanpa kesan terpaksa ataupun memaksa. Tone film sepanjang durasi sangat memperlihatkan ciri khas film produksi Palari.

Sinematografinya bekerja dengan mengesankan karena tidak menangkap lingkungan Kota New York secara berlebihan atau dalam bahasa yang kurang baiknya, norak. Latar musik tampil berani dengan lagu-lagu populer yang kekinian sehingga tidak perlu upaya berlebih ia berperan membuat penonton semakin betah menyaksikan film sampai akhir durasi.

Sisi negatif dari film ini sebenarnya memang cukup sulit untuk ditemukan. Akan tetapi, ketika berhasil ditemukan, kelemahan tersebut menjadi sangat disayangkan karena membuat kesempurnaan yang harusnya bisa digapai menjadi tidak tercapai.

Walau begitu, ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ justru mempunyai kelemahan yang muncul pada konflik utamanya, yaitu konflik di antara Ali dan sang ibu. Penyelesaian yang dihadirkan terkait konflik tersebut kurang mendapatkan banyak sorotan dalam penceritaan hingga berkesan tanggung. Salah satu adegan klimaks mengalir terlalu sederhana sehingga kurang cukup berkesan.

 

© Netflix

 

Pada garis besarnya, film ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ merupakan film Indonesia berkelas yang tertonton melebihi ekspektasi. Ia benar-benar segar untuk dinikmati dan lihai mengundang kehadiran beragam emosi, mengacak-acaknya, namun tetap mampu untuk tiba pada kesimpulan yang paling adil, yaitu menyentuh dan menghangatkan hati.

Film ini dapat dikatakan sebagai film Indonesia paling ajaib karena setelah menontonnya, ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ membekas dengan sangat mengagumkan.

 

Director: Lucky Kuswandi

Cast: Iqbaal Ramadhan, Nirina Zubir, Asri Welas, Tika Panggabean, Happy Salma, Aurora Ribero, Marissa Anita, Bayu Skak, Cut Mini, Ibnu Jamil.

Duration: 100 minutes

Score: 8.0/10

Artikel Asli