Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Mengingat Langit Senja episode 5

a story by Remmy Rocco from JOYLADA | source picture : unsplash.com

Pagi ini rasanya indah sekali. Aku tau, seharusnya semua pagi sama aja. Tapi menurutku kali ini matahari pagi bersinar begitu terang tapi lembut. Suasana di luar kamarku tampak sedikit terang dan berkabut tipis. Ah, mungkin karena belek mata ini karena tidur jam 3 pagi gara-gara ngobrol di WA dengan Rizki. 

Kenapa aku ingin tertawa keras-keras? Kenapa aku nggak bisa menahan mulutku untuk berhenti tersenyum? Oh, ini semua ulah cowok itu. Membuatku seperti masuk dalam dunia dongeng Upik Abu. 

Kugeser-geser layar HP hingga muncul foto kami berdua sebelum dia berpamitan pulang dengan taksionline.Aku benar-benar masih sulit mempercayai bahwa Rizki mungkin sedikit menyukaiku. Ya Tuhan, apa ini beneran? 

HP di hadapanku tiba-tiba bergetar, lalu muncul nama Rizki. Tanpa pikir panjang aku segera berdeham beberapa kali lalu kutekan tombol hijau.

"Halo …," sapaku pelan.

"Pagi," balas Rizki lewat speaker.

"Gimana kabar?" tanyaku cepat, lalu disambut sebuah tawa renyah. 

"Kita baru selesai ngobrol empat jam yang lalu, eh, lo dah tanya kabar," ledek Rizki. "Gue baik aja, nggak sabar pengen cepet kabur buat ketemu lo lagi." 

Aku berteriak senang dalam hati. Yes! 

"Janji, loh, ya. Jangan lupa roti cokelatnya!"

"Siap, Bos."

Setelah sambungan telepon terputus, aku segera mandi dan melakukan konser tunggal. Rasanya aku nggak pernah segembira ini dalam hidup. Melebihi semua hadiah ulang tahun yang pernah aku dapat. Seingatku sih, begitu.

Jam demi jam seperti bergerak dengan merangkak setelahnya. Membuatku nggak sabar ingin sore segera datang. Setelah selesai membantu memasak di dapur umum untuk para pegawai pasar malam, aku mulai menata boneka-boneka baru yang datang lewat ekspedisi di konter lempar bola. 

"Makasih, ya." Suara Om Aryo membuatku berhenti memunguti boneka. "Dapat endorse gratis!" Beliau melambai-lambaikan HP yang dipegangnya dengan ekspresi gembira.  

"Ah, itu masalah kecil," sahutku santai. Membujuk Rizki bukan pekerjaan yang sulit, nyatanya semalam ia bersedia foto beramai-ramai dengan para pegawai Om Aryo hingga belasan kali. Belum termasuk para pekerja yang ingoing berfoto selfie dengannya. 

Aku nggak menyangka Rizki ternyata bisa sabar menghadapi orang-orang yang kepo dengan masalahnya saat ini. Cowok itu sangat profesional dan rendah hati di depan orang banyak. Sesekali ia mencuri pandang dan tatapan kami bertemu. Singkat namun berhasil membuatku jantungan.

Kemarin malam sebelum taksi onlinepesanannya tiba, kami duduk berdua di pos penjaga sementara si sekuriti sedang asyik menonton film horor lewat gawainya. Kami masih saling bicara, seolah begitu banyak yang ingin kami ceritakan. Terlalu banyak yang ingin kami tanyakan. Berbagi cerita tentang sekolah, teman, keluarga, makanan kesukaan, film kesukaan, dan masih banyak lagi. 

"Gue suka sama lo." Akhirnya kata-kata itu keluar dari bibirnya, dan jangan bayangkan penyampaian dengan nada gugup ataupun lembut. Enggak sama sekali. Rizki Ardhaka yang asli bukan sosok cowok bucin yang romantis seperti dalam film-film remaja yang pernah ia mainkan.

Rizki mengatakan itu dengan nada ringan. Mungkin karena ia memakai kata suka, bukan cinta. Tapi ia menyampaikan kalimat itu dengan  kesadaran yang seolah baru saja datang menghantam otaknya. 

"Terlalu cepat kalo kamu bilang suka aku. Kamu belom lihat sisi jeleknya Embun."

"Ya, trus kenapa? Emangnya klo jigong lo bau trus gue nggak suka lo, gitu?" Rizki meraih tanganku kemudian, "konsepnya cinta nggak kayak gitu, bukan gue yang nyiptain perasaan suka. Dia datang gitu aja, nggak bisa ditolak dan nggak bisa di panggil."

"Gimana aku bisa percaya? Kamu itu Rizki Ardhaka, banyak yang lebih cantik dan punya pendidikan tinggi yang jelas suka kamu. Nah, kalo aku? Bahkan aku nggak bisa dijadikan saingan. Lagian, kamu bilang suka padahal mungkin dua hari lagi balik Jakarta. Apa adil ini namanya?"

"Enggak, emang nggak adil buat kita. Tapi gue harap kita nggak hilang kontak."

"LDR maksudnya?"

"Ya, kenapa nggak? Bukannya sekarang aksesnya lebih gampang?"

Jujur aku ragu. Bukan ragu sama perasaan ini ataupun perasaanya tapi seberapa kuat kita bakal bertahan saat berjauhan. Apalagi dunia kita seperti siang dan malam. Memangnya bakal bertahan berapa lama? Jadi akupun menegaskan, "aku nggak yakin."

"Kita jalani aja dulu, oke?" Nadanya memelas dan membuatku nggak sanggup menatapnya lama.

"Kenapa? Kenapa harus aku?"

"Kan gue dah bilang, gue nggak tau. Gue nggak punya alasan yang khusus. Emangnya suka harus punya satu alasan khusus?"

Aku terdiam kali ini, karena jawaban itu bener-bener sama dengan apa yang aku rasain. Ada banyak alasan aku suka dia, tapi semuanya nggak bisa disatukan menjadi satu alasan yang khusus. 

Seperti kata ibuku waktu itu. Saat kita berani mencintai seseorang maka kita harus siap dengan rasa sakit dan kesepian yang akan selalu datang di saat-saat tertentu. Namun ia akan bisa bertahan melewati puluhan rasa pedih itu karena ia berpegang pada sebuah keyakinan bahwa belahan jiwa memang layak untuk diuji Tuhan.

"Nah, ngelamun lagi!" Om Aryo menepuk tangannya sekali dengan keras dan mengantarkanku kembali pada dunia nyata.

"So--sori, Om tadi mau bilang apa?"

"Nggak penting." Ia kemudian mengambil tempat duduk di sampingku. "Kamu mikirin Rizki, ya?" lanjutnya.

"Ih, kepo," gumamku masam.

"Kamu yakin bisa tahan sama Rizki? Dunia kalian beda, loh. Kamu belum kenal siapa dia."

"Aku paham, tapi bukannya kalo nggak dijalani dulu kita nggak akan punya pengalaman?"

"Ya, terserah kamu, sih. Om cuma ngingetin aja. Bukannya--"

"Gaes!" Tiba-tiba suara Pak Yanto menyela dengan lantangnya. Sebuah ekspresi tegang tercetak jelas di wajahnya. Menyembul dari balik pintu papan stan milikku.

"Ada apa?"

"Bocah yang pemain film itu barusan masuk TV," jawabnya cepat. Firasatku mulai merasakan kejanggalan detik itu juga. "Temanmu semalam itu, loh, Mbun. Dia kecelakaan di sekitar tol Waru."

"A--Apa?" Seketika seperti bom besar meledak di depanku dengan tiba-tiba. Aku merasa kosong dan mendadak tuli. Om Aryo menepuk lenganku beberapa kali dan mengatakan sesuatu yang bahkan aku tidak bisa memahami kalimatnya.

Semua bergerak seperti adegan yang diperlambat. Menyadari kenyataan Rizki menjadi korban kecelakaan ternyata lebih berat daripada mempertanyakan perhatiannya padaku selama ini.

"Gimana keadaannya?" tanyaku lirih.

"Dia sudah mendapat penanganan di Rumah Sakit Mitra Jaya. Masih belum jelas kondisinya bagaimana. Yang pasti sopirnya meninggal."

Ya, Tuhan. Separah itukah? Otakku mulai melumpuh dan hanya bisa merasakan jantungku yang berdebar kacau. Sesaat kemudian Om Aryo memberikan air minum padaku biar lebih tenang.

"Pastinya dia sekarang sudah ditangani dokter yang terbaik. Jadi jangan panik dulu, kita tunggu beritanya," tutur Om Aryo.

"Si penyanyi yang masih baru itu juga ada di dalam mobil, Pak. Beruntung dia cuma luka ringan." Pak Yanto menghela napas panjang lalu bergumam, "namanya musibah siapa yang bisa mengira."

"Vhania?" 

"Iya! Tadi di TV disebut nama itu. Lah, Bapak kira Rizki itu suka kamu, tapi ternyata dia masih punya hubungan sama si penyanyi cantik itu, ya?" celetuk Pak Yanto.

"To! Sejak kapan kamu suka gosip?!" tegur si Om. "Udah, sana balik kerja!"

Vhania. Nama itu membangunkan pikiranku yang tengah kalut. Nama itu kemudian menggerakkan otakku untuk mencari penjelasan apa yang sebenarnya dilakukan cewek itu di dalam mobil dengan Rizki?

 

To be continued…

 

***

 

Bagaimana akhir kisah cinta mereka berdua? Ikuti terus kisahnya di LINE Today!

 

***

 

Remmy Rocco menulis sejak remaja. Pernah menerbitkan novel teenlit dan setelah hiatus sekian lama memilih untuk menulis di Joylada sampai sekarang. Di Joylada ia sudah menghasilkan beberapa cerita yang sudah tamat dan sudah ada dalam bentuk karya cetak. Semua itu karena Joylada adalah platform yang nyaman untuk berekspresi lewat tulisan. Event seru yang selalu diadakan tiap bulan bakal memacu kreatifitas para penulis untuk terus produktif. Ikuti cerita Remmy di Joylada lewat akun Remmy Rocco.

IG : @remmy.rocco.

Artikel Asli