Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Rumah Makan

Jawapos Diupdate 02.31, 09/01 • Dipublikasikan 09.31, 09/01 • Ilham Safutra
Rumah Makan

”Menikahlah denganku,” ucap sang sopir nyaris setiap usai meniduri si perempuan. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali dalam percintaan mereka yang ganjil. Meloncat-loncat lewat butiran keringat dan derit kasur, seperti laju truk di jalanan berlubang dan berbatu. Tak ada yang tahu rahasia kata-kata dari bibirnya yang hitam.

IA memainkan tubuh perempuan itu sedemikian rupa, sebagaimana ia memainkan setir di belokan tajam, di tempat sempit dan curam. Lincah, cergas, dan penuh ketelitian. Secepat ia memulai, secepat itu pula ia menyudahi. Ringkas dan agak terburu-buru, seperti menarik persneling dan menekan gas dan rem dalam sekali sentakan. Ia mendengus serupa babi, lalu membenamkan tubuhnya ke badan si perempuan.

”Sudah berapa kali kubilang, ha?! Jangan cium bibirku, kataku!” maki si perempuan ketika lidah sang sopir menjalar tak keruan. Lidah yang meliuk seperti truk pada setiap belokan tajam.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Di sini semua orang pandai menjaga rahasia. Sopir truk semacam dirinya, nyaris sepanjang hidupnya menghabiskan waktu di jalanan, memerlukan hal-hal ringan pengisi waktu agar tidak membosankan. Di tempat semacam inilah biasanya, rumah makan yang ramai oleh sopir truk, Fuso, dan tronton, mereka mencari sedikit hiburan. Saat-saat seperti ini pula ia terlihat lebih berkuasa dari kernet yang di setiap pemberhentian mesti memeriksa ban, angin, rem, serta segala kelengkapan lainnya.

Di usianya yang nyaris empat puluh tahun, lebih dari separonya telah ia habiskan di jalanan. Kali pertama ia ikut bus antarkota dalam provinsi, sebagai kernet dua –istilah untuk kaki tangan kernet yang sebenarnya, jika umur bertambah dan tentu juga pengalaman, ia akan naik pangkat jadi kernet satu– sebelum ia tamat sekolah dasar. Dari sana pula sekaligus ia belajar menjadi sopir, ketika semua penumpang habis dan mobil diangkut ke tempat pencucian. Dari satu bus ia pindah ke bus lain, dari bus antarkota ia beralih ke bus antarprovinsi. Sesekali waktu ia bisa pula ikut truk ke luar pulau. Begitu seterusnya, dari kernet ia menjadi sopir. Sampai kini, sampai usianya nyaris empat puluh tahun, sampai perutnya membuncit dan uban sudah rimbun di kepalanya.

Ia tak pernah sekali pun menikah.

”Dengan menikah kau bisa belajar mengumpulkan uang, tidak menghambur-hamburkannya di rumah makan dan membaginya dengan banyak perempuan,” begitu omongan kawan-kawannya di pangkalan. Tapi ia sudah terbiasa hidup di jalanan. Ia terlalu lama berhubungan dengan rem, gas, dan oli.

Kalaupun sesekali ia berkehendak, siapa yang mau kawin dengan sopir truk gemuk dan bau asap macam dirinya? Sementara di luar sana, dia tahu, dunia bergerak dengan cepat. Sesekali ia menyesali mengapa dulu tak berpikir usia tua macam begini?

***

Si perempuan mendesah. Tubuhnya mati rasa. Setelah memastikan tak ada lagi getaran kasar laksana truk tua di jalanan berlubang, ia mendorong tubuh yang membuat dadanya sesak itu dengan kasar. Berat dan menyusahkan. Ia mesti menarik napas berkali-kali. Ia merasa seperti tertindih ban tronton yang sarat dan melebihi kapasitas.

”Geser sana. Panas. Badanmu bau knalpot!”

Udara benar-benar pengap. Atap hanya sepenggalah dari kepala. Perempuan itu lalu berdiri. Keringat mengalir di tiap pori tubuhnya.

”Ke mana? Kenapa kau tak pernah mau tiap kali aku ajak menikah?” ucap si lelaki dari ranjang. Tubuhnya besar berminyak, seperti babi yang siap dibakar.

”Aku tak tahan dengan panas.”

Dibiarkan tubuhnya yang telanjang. Atap seng yang karatan dan bolong menyimpan, lalu memantulkan panas sedemikian rupa. Dibukanya jendela kecil yang menghadap jalan. Hari hampir petang, matahari masih memanggang. Jalanan lengang dan terbungkus debu. Angin dengan semena-mena menerobos kamar yang pengap dan panas seperti neraka itu. Tak lupa membawa debu dan bau ban terpanggang.

Ia menatap lurus ke jalan. Lengang. Di luar langit begitu terang, biru membentang. Apakah langit berwarna biru? Apakah yang berwarna biru itu adalah langit?

Di bawah berjejer truk-truk dan tronton bersilang-seling, penuh muatan dan barang-barang. Beberapa orang dengan tubuh setengah telanjang berbaring di bawah kendaraan masing-masing –para kernet yang terbiasa dan bersiaga dengan mesin, ban serep, dan dongkrak– penuh oli dan peralatan. Yang lain menggelindingkan ban, menggeser ke sudut kiri halaman. Perjalanan rasanya masih sangat jauh. Ke utara selepas persimpangan menuju kampung-kampung di kaki bukit dengan orang-orangnya yang udik, jalanan akan lebih kecil, lalu terdapat cabang-cabang kecil, berliku dan melulu gunung dan perkampungan melewati provinsi demi provinsi. Arah selatan penuh tanjakan dengan jurang di sisi kanan, beberapa persimpangan besar dan berujung di pelabuhan.

Dia masih berdiri di depan jendela. Tak banyak yang memperhatikan ruang yang menyerupai gudang yang terdiri atas tiga kamar tempat istirahat para sopir –yang sering kali ditemani perempuan seperti dia (ah, bisakah mereka, para sopir itu, sungguh-sungguh istirahat?). Tempat yang kotor, terjepit di antara rumah makan di bagian paling depan– yang memakan sebagian besar tempat persinggahan ini, kamar mandi dan sebuah musala kecil di belakang. Sementara di bagian depan, ia cukup terlindung oleh dahan ceri dan pondok kecil bertulisan ”tempel benan” dan ”tubles”, harta satu-satunya seorang Batak tua yang sepanjang hari berada di sana. Di seberang yang lain, berjejer kios-kios makanan kecil, roti dan minuman, pedagang mi rebus dan nasi goreng –sebagian masih milik tuan pemilik rumah makan. Dia penguasa kecil dan memiliki banyak musuh tentu saja. Beberapa armada bus harus dikuasai, para sopir harus dilayani sempurna dan sopir truk dan tronton pun perlu diservis sedemikian rupa agar tak memarkir kendaraan di rumah makan lain.

Lubang dan bekas tambalan aspal serupa koreng di punggung jalan. Beberapa kendaraan yang lewat seperti melarikan diri dari impitan nasib. Dulu dia berpikir, di sebalik ini semua sudah tak ada apa-apa lagi. Hanya gunung dan sepenuhnya kosong, tempat penghabisan jalan. Dan memang demikian, mesti tidak sehiperbola yang dibayangkan. Tak jauh dari sini, jalan-jalan bercabang, setiap cabangnya memiliki riwayat dan nasib sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, hampir semua kendaraan umum dan pribadi akan istirahat di sini, memulihkan diri untuk perjalanan yang agak menjengkelkan: semata lengang, semata jurang. Mereka, para sopir, lebih suka melewatinya berkonvoi dengan kendaraan lain. Sewaktu-waktu para perampok suka berkeliaran di pendakian. Dan dia, seirama dengan kesepian ini, serupa lekuk jalan penuh tikungan, senantiasa dilewati dan selalu ditinggalkan.

Ia sudah akrab dengan sopir dan kernet sejak lama. Sejak menyelesaikan bangku SMP ia sudah terbiasa dengan bus antarkota. Ia tak melanjutkan sekolah, lalu bekerja di sebuah rumah makan kecil di pinggir pantai tempat wisata. Di sana ia mula-mula melewatkan hidup yang keras dan berhadapan dengan lelaki. Di tempat wisata itu, ia akrab dengan bahasa kasar para preman dan lonte-lonte bernasib malang. Malam hari, pantai itu menjadi tempat mereka mencari uang. Para preman memungut uang keamanan, yang perempuan mendampingi lelaki yang butuh teman.

Ia menikah dengan seorang kernet bus antarkota yang kemudian menjadi sopir truk. Setelah mereka bercerai, lelaki itu mati dihajar orang ketika menabrak anak sekolah.

Ia lelaki yang pandai mengggoda. Di hari Sabtu ketika bus teramat padat oleh anak-anak sekolah yang pulang dari ibu kota, si gadis ikut berdesakan di dalam bus. Saat-saat demikian, dengan siasat tak terduga, si kernet menggesekkan badan ke tubuh si gadis. Si gadis sudah terbiasa dengan aroma ini dan mulai menikmatinya. Tak jarang, jika hari-hari tertentu ketika si gadis pulang, selalu menjelang petang, tentu bukan di hari Sabtu (ketika dia punya alasan pada si bos) ketika bus mulai lengang mereka duduk berdua di bangku penumpang. Usianya delapan belas tahun ketika itu dan si kernet berusia dua satu tahun. Perkenalan yang lima bulan itu cukuplah untuk mereka memutuskan menikah.

Setelah menikah, ia melarang suaminya menjadi kernet bus. Lebih baik ikut truk, katanya. Ah, perempuan gampang cemburu. Tentu ia mengingat bagaimana dengan mudahnya dia teperdaya dulu. Sopir dan kernet angkutan sama saja, orang yang nyaris tak bisa dipercaya soal wanita. Tapi sama saja, truk yang hanya bermuatan tak lebih dari tiga orang itu pun tak bisa jauh-jauh dengan perempuan. Di setiap pemberhentian langganan, selalu ada perempuan.

Maka secepat pernikahan dimulai, secepat itu pula mereka bercerai.

Ia mulai bekerja dari satu rumah makan ke rumah makan yang lain, dari satu pemberhentian bus ke pemberhentian yang lain. Anaknya semakin besar dan ia mulai tak cukup dengan bayaran yang kecil.

Berhadapan dengan sopir, ia mesti pandai-pandai mengambil hati. Tetapi kemudian ia pun terjebak pada dunia itu, menemani para sopir truk dan tronton yang kesepian. Sampai kemudian ia memutuskan sepenuhnya melayani berahi para sopir. Ia terbiasa diambil di satu rumah makan dan diturunkan di rumah makan yang lain. Sopir tronton dan Fuso yang biasanya berjumlah dua orang itu akan menggilirnya di ruang tidur sempit yang berada persis di belakang sandaran kursi. Dia akan melayani mereka secara bergantian dan mobil tetap jalan agar setoran tetap lancar.

Sampai kemudian ia tinggal di rumah makan terpencil yang ujung-ujung jalannya memiliki banyak simpang. Sampai ia bertemu sopir cerewet, berbadan tambun, dan mengigaukan soal-soal pernikahan ini.

***

”Kenapa kau tidak mau menikah denganku?” teriak si sopir agak keras. Dia masih meringkuk di ranjang tua dan berisik itu. Bulatan cahaya dari bolongan atap mencacah tubuhnya yang besar-gempal.

”Kenapa kau ingin menikah denganku?” si perempuan berteriak tak kalah keras. Ia mesti berakrab dengan kegelapan sesaat yang ia rasakan setelah berhadapan dengan matahari di luar jendela sana.

”Karena aku menyukaimu.”

”Karena itu aku tidak ingin menikah denganmu.”

”Keras kepala.” Si sopir bangun disertai suara berat dari tiap sendi ranjang.

”Kau yang celaka. Apa tak puas dengan tubuhku? Tak mau berbagi dengan yang lain?” Si perempuan melemparkan beberapa pakaian yang bertebaran. Celana kolor, kaus kutang dengan bau asap dan keringat.

”Kau terlalu cantik untuk tinggal di sini…”

”Dan aku dibayar untuk meramaikan tempat ini!”

”Bukankah kau bebas untuk tinggal di mana? Setiap sopir menurunkanmu di mana dia suka. Kenapa kau tidak turun saja di sebuah tempat bersamaku dan selamat tinggal tempat celaka ini.”

”Aku dibayar untuk bercinta di kamar ini. Kau bisa bebas membawaku dan menurunkan di tempat tertentu dengan perhitungan harga yang jelas.”

”Nanti aku akan membawamu, jauh-jauh. Nanti…” Sopir menerawang menghadap dinding, menatap tumpukan kardus dan sarang tikus.

”Kau tak akan punya cukup uang membayarku. Aku dihitung per jam dan berapa lama kau membawaku, di tempat mana aku kau turunkan.”

”Aku bisa membawamu kalau aku cukup uang…”

”Uangmu tak akan cukup untuk itu.” Suaranya bergetar dan dalam. Seperti keluar dari kejauhan.

”Kau perempuan keras kepala.”

”Kau pemain yang buruk di atas ranjang.”

”Terserah!! Akan kutunggu sampai kau meralat ucapan itu.” Si sopir meradang. Ia berdiri. Menatap si perempuan dengan mata nyalang. ”Tiga atau empat hari lagi aku akan singgah di sini. Menghabiskan semua uang untuk bisa mendapatkanmu.”

”Gajimu tak akan cukup kecuali kau rampok semua uang bosmu dan menggadaikan truk tua itu.”

Sopir itu mendekat, si perempuan mundur sesaat, si sopir terus merapat. ”Aku sungguh-sungguh menginginkan dirimu. Berapa kali sudah kubilang, menikahlah denganku, menikahlah denganku…” Lalu dirogohnya kantong. Sebelum keluar dilemparkan beberapa lembar uang ke atas ranjang.

Si perempuan berbalik, ditutupnya kembali jendela, nyaris tanpa suara. Di sebelah terlalu bising. Tetapi di luar lengang. Dia kembali ke ranjang.

”Kalau kau belum puas datang lagi kapan-kapan.”

”Tak perlu kau suruh, aku tahu kapan aku membutuhkanmu. Itu pun kalau kau masih butuh uangku.”

”Asalkan kau selalu membayar dengan penuh.”

Sopir berbalik dan menatapnya lebih garang

”Kau tak punya alasan untuk menolakku, tak pula cukup kuat untuk terus berada di tempat terkutuk ini, bukan?”

Pintu dibanting dari luar.

Hening! Perempuan terpekur sejenak. Laki-laki aneh yang hanya mau dilayani olehnya. ”Aku mencintaimu,” bisik si sopir selalu. Ah, betapa main-main saja rasanya. Seperti remaja belasan tahun, si perempuan berpikir nakal.

Demikian berbulan-bulan. Setiap datang, laki-laki itu terus mengigau soal pernikahan. Siapa yang percaya dia belum pernah menikah? Kalaupun iya apa bedanya?

Ia tahu, lelaki itu bersungguh-sungguh. Tapi apa jaminan atas kesungguhan? Laki-laki itu kini menyukainya karena ia punya harga. Jika nanti menikah, masihkah ia akan memujanya dan tidak berhenti di pangkalan lain dan meniduri perempuan lain? Siapa yang menjamin itu semua? Bukankah sedari awal laki-laki itu suka jajan dan bahkan mereka bertemu pun sebagai penjual dan pelanggan.

Betapa sulit untuk memercayai.

Dijatuhkan tubuhnya di ranjang. Masih telanjang ia terlentang.

Di luar udara panas, tapi ada sungai yang mengalir dari kamar cekung itu yang berhulu di matanya. Mencari muara jauh…! (*)

INDRIAN KOTO, Lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Aktif di Rumahlebah Jogjakarta dan Rumah Poetika. Mengelola toko buku kecil dan penerbit kecil, #KedaiJBS dan Penerbit JBS.

Artikel Asli