Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Belajar Soal Female Gaze Lewat Hometown Cha-Cha-Cha

(Grafis: Gambar diolah dari pexels.com)
(Grafis: Gambar diolah dari pexels.com)

Drama Hometown Cha-Cha-Cha, biasa disingkat dengan panggilan homecha, sudah rampung sejak 17 Oktober lalu. Tapi efeknya masih ngebuat kita semua terdushik-dushik dan terhyejin-hyejin sampai sekarang. 

Bukan cuma karena chemistry seluruh pemeran dramanya aja, tapi juga karena homecha sarat pesan-pesan penting mulai dari isu lingkungan, perceraian, sampai yang akan kita diskusikan sekarang: male gaze dan female gaze!

Male gaze dan female gaze tuh apa, sih? Itu kayak kalau YouTuber mau mulai video YouTubenya gitu, ya? Yang halo-halo gaze gitu? (baca: gaes). Oh, bukan? Oke sori. 

Jadi, secara harfiah gaze itu berarti tatapan. Kalau kata Jean-Paul Sartre sih gaze bisa didefinisikan secara figuratif dan filosofis sebagai kesadaran dan persepsi seseorang terhadap orang lain, kelompok, juga dirinya sendiri. 

Dari sana kita bisa menyimpulkan nih, ketika istilah gaze itu disandingkan dengan gender seperti female dan male, maka ia berarti persepsi laki-laki atau perempuan terhadap orang lain, kelompok, dan dirinya sendiri. Terus yang ngebedain keduanya apa, dong? 

Gini, male gaze cenderung menampilkan perempuan melalui sudut pandang yang maskulin dan heteroseksual. Male gaze memperlihatkan perempuan sebagai objek seksual. Sementara, female gaze akan menilik pada sisi yang lebih non-konvensional, dan menitikberatkan pada implikasi. 

Kamu masih bingung? Tenang, bosku. Kita bahas dua gaze ini lewat contoh-contoh dari drama homecha berikut. 

Sebelumnya, penting bagi kita untuk mengetahui penulis skrip yang bertanggung jawab atas segala keuwuan di drama homecha. Namanya adalah Shin Ha-eun! Lewat penulisan apik dari penulis Shin, dua karakter utama yang menjadi jangkar drama ini, Hong Du-Shik dan Yoon Hye-Jin, dapat diperlihatkan dengan begitu nyata dan multidimensional. 

Pada awalnya, Hong Du-Shik diperlihatkan sebagai sosok laki-laki yang nyaris sempurna. Dia punya penampilan fisik yang oke, bisa melakukan segala jenis pekerjaan, dan dekor rumahnya artsy abis! Di satu sisi, Yoon Hye-Jin adalah seorang dokter gigi yang mandiri, stabil secara finansial, dan terencana (cuantik pol juga).

View this post on Instagram

A post shared by The Swoon (@theswoonnetflix)

Tapi beda dengan drama lain yang sering memfokuskan cerita kepada betapa ganteng dan cantiknya para pemeran utama itu, homecha mengajak kita memedulikan sisi lain para karakter utama. Penonton diberi kesempatan melihat sisi rapuh Hong Du-Shik yang digambarkan periang dan ringan tangan, serta sisi hangat Yoon Hye-Jin yang ditampilkan tegas dan kaku. 

Nggak cuma itu, di drama ini nggak ada tuh yang namanya mansplaining. Du-Shik dan Hye-Jin sama-sama belajar dari satu sama lain. Mereka bersedia berproses dan menciptakan dinamika hubungan yang interdependen. Narasi "perempuan perlu diselamatkan" juga udah jauh dibuang ke laut Gongjin sama penulis Shin. 

Kembali kepada pesan bahwa dalam sebuah hubungan setiap orang harus diperlakukan setara sebagai mitra, Du-Shik dan Hye-Jin menyelesaikan setiap masalah dalam hubungan mereka tanpa harus mengorbankan kesejahteraan salah satu pihak. 

Dari contoh-contoh di atas, kamu bisa melihat bagaimana penulis Shin menggunakan perspektifnya sebagai perempuan—atau female gaze-nya—untuk menciptakan alur cerita dan karakter yang lebih kaya. 

Sebetulnya, baik female gaze maupun male gaze bisa sama-sama berbahaya lho jika digunakan untuk mengurangi keutuhan seseorang. Ini miskonsepsi yang umum terjadi ketika membahas perihal per-gaze-an duniawi. Misal, lewat male gaze, pengambilan gambar pada tubuh perempuan kerap kali digunakan untuk memantik birahi semata. 

Jadi nggak ada tuh kontribusinya untuk plot. Lalu, lewat female gaze kamu melakukan hal yang sama. Hanya beda objek aja, kali ini dengan tubuh laki-laki. Atau, banyak kasus saat male gaze menampilkan perempuan sebagai tokoh tanpa kedalaman karakter sama sekali. Kamu membalas ini lewat female gaze, dengan memperlihatkan tokoh laki-laki flat yang nggak penting-penting amat. 

Nggak gitu, bosku. Tidak semua hal mesti menganut konsep mata dibalas mata kan? Lagipula, apa perubahan yang akan kita hasilkan kalau pakai female gaze dengan cara yang sama sebagaimana laki-laki menggunakan male gaze? 

Lewat drama homecha, kita dapat mengerti cara penulis Shin memanfaatkan sensitivitas serta pengetahuan dan pengalaman mereka sebagai perempuan untuk menciptakan karakter yang kompleks dan cerita yang berpengaruh. 

Jadi, lain kali kamu nonton drama lagi, kamu bisa menganalisa nih, kira-kira karakter ini bias gender nggak, ya? Sudut pandang apa yang si pembuat gunakan dalam menciptakan tokoh-tokohnya? Dan, apakah mereka menggunakan gaze-nya dengan cara yang memperkaya cerita, atau justru mengobjektivikasi sebagian tokohnya? He he. Selamat binging drama yang berfaedah!

Podium adalah platform blog di LINE TODAY. Podium fokus pada artikel dengan tema "trendy", "futurist" dan "activism".