Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

WHO Sebut Covid-19 Varian Delta akan Dominan Secara Global

SINDOnews Dipublikasikan 10.11, 22/06 • Iman Firmansyah
WHO Sebut Covid-19 Varian Delta akan Dominan Secara Global
WHO Sebut Covid-19 Varian Delta akan Dominan Secara Global. Foto/Wdio.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Covid-19 varian Delta akan dominan secara global. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India.

Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan mengungkapkan kekecewaan atas kegagalan kandidat vaksin Covid-19, CureVac dalam uji coba untuk memenuhi standar kemanjuran WHO. Ini karena varian baru yang sangat mudah menular meningkatkan kebutuhan akan suntikan vaksin baru yang efektif.

"Varian Delta sedang dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," ungkap Soumya dilansir dari Channel News Asia, Selasa (22/6).

Hal senada juga diungkapkan oleh otoritas kesehatan masyarakat Jerman yang memperkirakan varian ini akan dengan cepat menjadi varian dominan meskipun tingkat vaksinasi meningkat. Sebelumnya, Inggris juga melaporkan peningkatan tajam infeksi varian Delta.

Baca Juga :Gejala Covid-19 Ini Hanya Dialami Orang yang Sudah Divaksin

Sementara itu, vaksin CureVac yang dibuat oleh perusahaan dari Jerman tersebut melaporkan bahwa vaksinnya terbukti hanya efektif 47% dalam mencegah penyakit, jauh dari standar WHO yaitu 50%.

Mengingat bahwa vaksin mRNA serupa dari Pfizer-BioNTech dan Moderna mencatat tingkat kemanjuran yang mencapai 90%, Soumya mengatakan bahwa dunia telah mengharapkan lebih banyak kandidat vaksin lainnya.

Di sisi lain, ia juga mengatakan bahwa Afrika tetap menjadi area yang menjadi perhatian, meskipun hanya menyumbang sekitar 5% dari infeksi global baru dan 2% kematian.

“Kasus baru di Namibia, Sierra Leone, Liberia, dan Rwanda telah berlipat ganda dalam seminggu terakhir. Sementara akses vaksin tetap sangat kecil. Ini sangat memprihatinkan, populasi Afrika sangat rentan, tidak terlindungi oleh vaksin,” ucap kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan.

Baca Juga :Jadi Obat Terapi buat Pasien Covid-19, Apa Itu Ivermectin?

Artikel Asli