Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Misteri Vila Gong Menthik: Di Luar Dugaan (Part 5)

kumparan Dipublikasikan 10.25, 20/10 • Dukun Millenial
Ilustrasi vila horor, dok: pixabay

Jantung Raul berdebup. Sekilas ia mencium prasangka yang mengada-ada. Tapi entah, ia seolah mengamini perkataan wanita itu. Teror hantu prajurit semalam mendadak melintas di pikiran Raul. Ia menduga wanita itu menyimpan rahasia hantu Villa Gong Menthik.

“Maksudnya bu?”

“Penjaga vila itu bukan orang baik-baik. Pokoknya hati-hati saja. Camkan pesanku,"

Raul menyerahkan uang pas sesuai permintaan wanita itu. Ia tak berani menoleh. Kata-kata dari mulutnya seakan selaras dengan praduganya. Vila itu memang berhantu. Raul mengambil kesimpulan, wanita tadi bukan wanita sembarangan. Lalu apa korelasinya dengan pak Nora?

Kejadian alam yang paling ditakutkan Raul telah datang. Lingsir malam dan kemunculan sang rembulan. Tapi, keputusannya menunda kepulangan tak sedikitpun Raul sesali. Sebagai laki-laki tidak ada alasan untuk menolak undangan gadis cantik seperti Kinasih.

Meski itu berarti ia harus siap dengan teror hantu susulan. Tapi, bukan Raul namanya jika tak memiliki strategi dan persiapan. Sepiring penuh bakwan goreng dan puluhan cabe rawit hijau dari Kinasih telah terhidang di kamar. Ia berniat terjaga semalaman.

Hantu itu datang dalam mimpi. Aku harus tetap terjaga! Gumam Raul sambil duduk bersila di atas ranjang. Di dalam kamar, Raul berulang kali mengepulkan asap rokok sambil memasang kewaspadaan. Sudah enam batang ia membakar rokoknya dengan sesekali mengunyah cabe.

Sesuatu yang tak diinginkan justru terjadi pada saat Raul melihat botol air mineralnya hampir tandas. Ia lupa menyetok air minum. Dan itu berarti ia harus berlari ke dapur, untuk memasak air. Kebodohan yang berujung penyesalan! Raul menyumpahi kelalaiannya bertubi-tubi.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/Vynto@1nl4nd3r]

“Duh..apes!” bibirnya yang menebal karena kepedasan, tak bisa menunggu waktu lebih lama.

Pada dapur dan area servis tempat ia mengendus wangi bunga sedap malam. Ke sanalah Raul menuntun langkahnya dengan perlahan-lahan.

Raul mengecek arloji di pergelangan tangannya. Ia sedikit tenang. Baru jam sebelas malam, desisnya dalam degup jantung yang mulai berdebar.

Ia mulai menghitung langkah. Satu demi satu.

Dari arah luar gerimis dan angin berdesis bergantian, hembusan angin itu mengantarkan bunyi ranting pohon yang saling bergesekan. Raul tak berhenti dalam langkah pelannya. Ia tak sanggup melawan rasa pedas yang semakin lama semakin tak tertahan.

Pintu kamar yang tadinya terkunci rapat itu dibuka dengan perasaan gamang. Ia terus menyemburkan afirmasi positif dalam pikiran.

Raul tidak takut. Setan tidak ada. Aku tidak takut. Raul laki-laki pemberani.

Kriyet.

Dheg!

Bak secepat kelebat cambukan cemeti, sebatang rokok yang belum dibakar pada sela kedua jari tangannya terlontarm, dan berpindah tempat.

Ilustrasi langkah kaki, dok: pixabay

Raul merasakan lontaran listrik yang mengentak jantungnya. Matanya sontak membelalak mengiringi lututnya yang gemetaran. Seketika itu juga ia terjengkang ke belakang. Pantatnya yang lebar runtuh menimpa lantai kamar dengan kencang.

Mana suara derapmu! Mana suara langkah serentak itu! Protes Raul dalam hati. Strateginya sekali lagi meleset. Hantu itu datang tanpa di dahului pertanda-pertanda ganjil layaknya dalam film-film horor.

“Raul, vamos la!” ucapan yang sama kembali terdengar menusuk telinga Raul.

Tetiba dari balik sosok hantu prajurit itu muncul asap hitam yang sangat pekat. Asap itu lalu membentuk sulur-sulur panjang yang meliuk-liuk mendekati Raul. Dalam posisi yang terjepit, Raul tidak memiliki pilihan selain bertahan.

Satu-satunya yang dapat dilakukan Raul hanyalah satu. Mendekap kaki ranjang.

Sulur-sulur asap pekat itu tak tinggal diam. Ujungnya menggulung pergelangan kakinya dengan anggun. Makin lama gulungan itu menjelma ikatan yang kuat.

Sekonyon-konyong menyeret tubuhnya untuk mendekati hantu itu dengan kasar.

Raul melakukan perlawanan sebisanya. Dengan posisi tubuh tiarap ia makin kuat mendekap kaki ranjang. Tapi perlawan Raul tampaknya menemui jalan buntu.

Hantu itu kembali menghantarkan cairan kehitaman yang sangat pahit ke dalam mulut Raul. Sekarang ia dalam posisi menegak tepat dua jengkal dari hantu berseragam. Kembali Raul dalam keadaan yang sama dengan malam sebelumnya.

Tubuhnya membeku tak dapat sedikitpun digerakkan. Mulut Raul terjahit kebisuan. Satu-satunya yang dapat dilakukan Raul hanyalah pasrah.

Vila Gong Menthik Hitam Putih, Dok: Penulis

Hmpft!

Raul terbangun dari tidurnya dengan terengah-engah. Ia melayangkan pekikan lantang sambil menjambak rambutnya dengan sekuat-kuatnya. Sekejap ia berusaha memulihkan kesadaran dan mengelap keningnya yang basah oleh keringat dingin.

Ia gagal terjaga malam itu. Entah apa yang terjadi. Dalam sisa ketercekatan yang mulai melandai, ia menyingkap sprei putihnya dengan satu kibasan cepat. Buru-buru ia berlari ke kamar mandi untuk membuang isi kantung kemih.

Dalam kamar mandi itu Raul dada Raul kembali menyesak begitu melihat air seninya yang berwarna merah.

Ia bergidik sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Sudut matanya mulai basah oleh bulir-bulir bening yang mulai menetes, membasahi pipinya yang kasar.

Serbuan berbaris pertanyaan yang memenuhi kepalanya harus dituntaskan. Aku harus bertanya pada pak Nora!

“Bang…bang…” suara panggilan Kinasih yang lembut mengusir lamunannya pagi itu. Pada anak tangga depan vila utama, Raul meratapi kegetiran malam-malamnya yang kelam. Jika saja tak ada Kinasih, gadis cantik itu, tak sudi Raul tinggal lebih lama.

“Ya dik, aku di depan,” balas Raul sedikit lantang.

Kinasih oh Kinasih. Ya… Kinasih yang cantik pagi itu terlihat makin rupawan. Daster pendek di atas lutut yang dikenakannya begitu mengundang hasrat laki-laki normal seperti Raul.

Bulu-bulu halus di paha Kinasih sangat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat.

“Bapak sedang ada urusan bang. Ini aku bawakan sarapan ya, jangan lupa nanti malam perayaan ulang tahunku yang ke dua puluh satu.”

“Baik, dik…tapi nanti aku langsung pulang ya.”

“Oh..silakan bang. Kalau memang ndak kerasan, pintu terbuka lebar.”

“Eh, bukannya tak kerasan dik, tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku dua malam diganggu hantu.”

“Hah? Hantu? Yang bener bang? Hantu pocong? Kunti ? Atau apa?”

“Hantu lelaki berseragam tentara dik. Sudah dua malam ini aku di terornya.”

“Masa sih bang. Aku tinggal bertahun-tahun di sini aman-aman saja tuh. Mungkin abang ndak pernah berdoa ya sebelum tidur. Atau jangan-jangan abang cuma alasan.”

“Alasan?”

“Biar Kinasih nemenin abang …….” Kinasih mencondongkan kepala.

"Bobo…." desahnya lembut pada ujung kuping Raul.

Gleg.

Kinasih oh Kinasih. Mengapa kau sekali lagi menawarkan sesuatu yang sangat sulit kutolak? Kemana kewarasanku?

Bersambung…

Artikel Asli