Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Film 'Ngeri-Ngeri Sedap’: Perempuan Harus Menuruti Adat, Laki-laki Punya Privilege Pergi Merantau

Pada awalnya saya tidak begitu tertarik menonton film ini apabila teman saya tidak ngoyo untuk mengajak saya nonton bareng.

Bisa dikatakan saya jarang tertarik nonton film Indonesia karena belum sesuai ekspektasi saya. Lebih-lebih ketika teman saya bercerita tentang film berjudul “Ngeri-Ngeri Sedap” yang bercerita tentang lingkungan keluarga Batak. Karena menurut review yang dibacakan oleh teman saya, film ini hanya sebatas film tentang adat batak dan FYI, saya bukan termasuk orang batak yang batak-batak banget.

Alangkah terkejutnya saya di malam Senin itu, tepat setelah layar pembuka berganti, lagu bernuansa Batak berkumandang beriringan dengan establish Danau Toba yang megah. Dan seakan-akan pembukaan itu “kurang Batak”, Bene Dion sang sutradara film ini menyuguhkan kami pemandangan yang lebih Batak daripada Danau Toba: sekelompok bapak-bapak yang nongkrong di lapo di tengah malam sambil membicarakan anak-anak mereka yang rantau.

Film “Ngeri-Ngeri Sedap” adalah film drama komedi berlatar suku Batak yang tayang 2 Juni 2022 dan dibintangi oleh Arswendy (Bapak Domu), Tika Panggabean (Mamak), serta anak-anak mereka. Keduanya mempunyai 4 anak antaralain Boris Bokir (Domu Purba), Gita Bhebhita sebagai Sarma, Lolox sebagai Gabe dan Indra Jegel sebagai Sahat.

Pak Domu dan Mak Domu adalah orang tua dengan empat orang anak: Sarma E. Purba; Domu, Gabe, dan Sahat Purba. Sarma tinggal bersama orangtuanya, sementara yang lain tinggal di kota-kota luar dengan karirnya tersendiri. Karena rindu dan menjelang sebuah pesta syukuran Batak, kedua orangtua ingin anak-anaknya pulang, namun terhalang dilema

Seiring dengan bergulirnya durasi film, muncul beragam isu-isu domestik khas Batak yang terasa sebegitu dekat dengan ingatan saya tentang keluarga Batak. Anak-anak laki-laki Mamak dan Bapak Domu yang semuanya rantau memiliki alasan masing-masing untuk tidak pulang ke kampung halamannya. Mulai dari si sulung yang berjodoh dengan “boru Sunda” , anak ketiga yang tidak memilih untuk menjadi hakim atau jaksa serta si anak bungsu yang memutuskan untuk merawat lahan milik orang lain di tanah Jawa.

Isu konstruksi sosial mulai merebak tipis-tipis melalui konflik-konflik yang muncul setelahnya. Mamak dan Bapak Domu lalu mencari cara dan menghalalkan berbagai macam cara untuk membuat anak-anaknya pulang.

Disini kita bisa melihat beragam stigma mengenai keluarga Batak, bagaimana keluarga harus selalu terlihat harmonis dan tanpa masalah, orang Batak harus punya keturunan yan sukses, orang Batak seakan memiliki regulasinya sendiri. Kecermatan dan kehalusan dari penulisan skrip film ini membuat pengangkatan isu konstruksi sosial dalam film ini terasa begitu mulus dan sangat baik.

Ketika isu-isu kecil itu meruncing kepada konflik utama, yang tidak saya duga-duga adalah munculnya konflik baru: konstruksi sosial terhadap anak perempuan. Seakan ditampar oleh kenyataan yang selama ini kita abaikan, anak perempuan dalam konstruksi sosial—dalam hal ini utamanya adalah adat—telah begitu banyak berkorban. Sarma sebagai satu-satunya anak perempuan Mamak dan Bapak Domu sudah kelewat banyak mengalah dan tidak memiliki daya untuk melawan keadaan.

Film ini menyadarkan saya bahwa dalam konstruksi sosial, anak-anak perempuan telah mengorbankan mimpi, cinta dan kepentingan dirinya sendiri demi merawat orangtua dan menuruti kehendak adat. Sementara anak laki-laki, meski di awal dijelaskan mereka memiliki ragam isu yang juga rumit, tapi anak laki-laki masih memiliki privilege untuk pergi merantau dari kampung halamannya dan lebih bebas untuk mengemukakan pendapat mereka ketimbang anak perempuan.

Yang saya kagumi adalah bagaimana narasi yang dibangun dalam film ini bisa sedemikian rupa tidak menimbulkan jenis-jenis sentimen yang membandingkan gender mana yang lebih menderita dalam konstruksi sosial. Narasi yang terbangun mampu membangkitkan empati audience untuk ikut berpikir dan yang terpenting, bagaimana kita bisa merubah konstruksi sosial yang sudah ada menjadi lebih manusiawi untuk segala jenis gender.

Saya juga mengagumi bagaimana cara penguraian konflik dalam cerita ini. Garis penyelesaian yang ditarik tidak hanya dari titik A ke titik B, namun juga mengedepankan proses. Narasi-narasi baru berkembang dan tiap pihak yang berkonflik memiliki refleksi pada dirinya masing-masing tanpa terkecuali.

Poin besar yang harus saya garisbawahi adalah refleksi orangtua mengenai kehendak mereka yang bertentangan dengan kehendak anak-anak mereka. Saya mengutip sedikit dialog dari orangtua

“Saya harus apa? Yang saya tahu dulu saya dibesarkan seperti itu.”

Refleksi tersebut saya rasa adalah dasar dari segala dasar konstruksi sosial yang mendarah—bukan hanya pada adat Batak, melainkan pada setiap adat dan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Dan penyelesaian yang diumbar oleh cerita ini secara sederhana dan indah tergambar pada dialog lain

“Anak-anak berkembang, orangtua juga harus berkembang.”

Saya rasa diskusi mengenai film ini akan menjadi begitu keren dan progresif jika dibarengi dengan mengangkat isu-isu yang terkandung didalamnya—jadi tidak hanya sekedar membahas mengenai hal teknis seperti sinematografi atau scoring. Lebih-lebih mengingat jarangnya kehadiran film-film dengan kualitas setara hadir di perfilman Indonesia.

Film ini bisa menjadi konsumsi yang sangat baik bagi semua kalangan, anak-anak muda, orangtua, orang-orang dengan marga, tanpa marga, siapapun.

Akhir kata, saya tutup ulasan ini, horas, bah!

Artikel Asli