dr. Terawan, Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Maju yang Pernah Tersandung Kontroversi

Femina Dipublikasikan 10.00, 23/10/2019 • NF0365

Foto: twitter @kemenkes 

Salah satu nama yang mengejutkan dari jajaran kabinet Indonesia Maju adalah dr. Terawan sebagai menteri kesehatan. Pasalnya dokter yang sebelumya menjadi kepala rumah sakit angkatan darat ini pernah mendapat sanksi dari majelis kehormatan etik kedokteran.  

Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. (K), dokter Spesialis radiologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) mendapat lulus sebagai dokter pada usia 26 tahun dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia kemudian menjadi dokter di Militer Angkatan Darat.

Beberapa waktu belakangan namanya sempat dibicarakan karena metode Digital Subtraction Angiography (DSA) yang ia lakukan dalam pengobatan stroke.

"Mengenai DSA, karena ini merupakan teknis medis menjadi tanggung jawab saya untuk saya jelaskan. DSA sudah saya disertasikan di Universitas Hasanuddin bersama enam orang yang lain," ujar dr Terawan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto tahun lalu.

Menurut dr Terawan, metode DSA sudah diuji secara ilmiah.  Metode ini sebelumnya pernah didaftarkan dr Terawan dalam disertasi doktornya di Universitas Hasanuddin dengan judul Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis. Disertasi dr Terawan mengenai metode DSA itu dipaparkan di Universitas Hasanuddin, Makassar pada Agustus 2016.

Dokter Terawan tidak menepis bahwa tetap ada risiko dalam metode DSA, namun jika dilakukan secara cermat, detail, lewat persiapan yang baik, serta didukung doa, ia yakin akan memberi manfaat. 

Metode DSA yang diterapkan Terawan diapresiasi baik oleh beberapa tokoh di negeri ini. Sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, hingga Menkopulhukam Mahfud MD. Namun di sisi lain, terapi ala Terawan ini menuai kontroversi di kalangan kedokteran. Metode ini yang diduga menjadi akar persoalan Terawan dipecat sementara dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI. Dokter Terawan disebut melakukan pelanggaran etik serius dari kode etik kedokteran.

IDI saat itu akan memberikan sanksi pemecatan selama 12 bulan per tanggal 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019, kemudian IDI mencabut izin praktik dr. Terawan. Pemecatan ini akhirnya ditunda setelah adanya mediasi antara IDI, Kemenristekdikti, hingga Kemenkes bersama dr Terawan.

Metode yang kemudian disebut juga Terawan Theory, brain spa, hingga disamakan dengan metode cuci otak pada penderita stroke.

Sebagai Menteri Kesehatan, kerja dr Terawan diharapkan nantinya akan meningkatkan level kesehatan masyarakat dan mencegah agar tak mengalami stroke, salah satu ancaman kesehatan yang penderitanya makin banyak dan muda ini. Selamat bekerja, dokter.  (f)

Artikel Asli