Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Miss B: (Part 92) Kamu itu Monalisa, B!

Ilustrasi by Rendy Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki

BS lagi. Jangan bosan, ya. Dia memang topik yang sedang hangat. Pun ketika aku pikir masalah ponsel mahal hadiah darinya sudah selesai.

 "Sebentar lagi beberapa tanggal merah hadir, yaitu Hari Natal dan Tahun Baru. Sebenarnya pemerintah mengingatkan akan bahayanya pandemi ini, terutama dengan adanya varian baru Omicron. Tapi, barusan saya ngobrol dengan Bu Queen, beliau memberikan izin cuti bagi kalian yang membutuhkan. Misalnya, harus Natalan bersama keluarga ke luar kota. Walau, lagi-lagi, kami tidak menyarankan hal ini," ujarku di rapat redaksi Artsy.

 "Aku gak mau cuti, kok. Aku mau Natalan di rumah aja. Gak pa-pa tahun ini gak usah pasang pohon Natal, gak pa-pa aku gak rayain, toh aku dapat hadiah hape baru," ujar Bunny sambil mempertontonkan ponsel barunya berlogo buah apel itu ke sekeliing meja bundar kami.

 "Sombong!" seru Rani.

 "Gak boleh seperti itu di kantor. Tidak boleh menyombong, tidak boleh berkomentar," ujar Budi.

 "Cucok, Mas Budi!" sahut Bunny girang.

 Bunny tertawa dengan sumbang. Aku geleng-geleng.

 "Apalah itu hape terbaru. Buatku, yang terindah tetaplah senja," celetuk Putra.

 "Apa sih," kata Bu Ken geleng-geleng.

 Aku tertawa. Sungguh menggembirakan berada di kantor bersama mereka.

 Pak Sorjan alias Si Mbah tahu-tahu muncul depan pintu kaca yang tak terkunci.

 "Kenapa Mbah? Silahkan masuk saja," ujarku.

 "Gak, Mbak. Nganu, ada tamu di lobi cari Mbak B," ujar Si Mbah.

 "Oh, siapa?" tanyaku yang tak merasa punya janji.

 "Hmm … Siapa, ya … Bar…"

 "Bart?" tanyaku hati-hati.

 Si Mbah mengangguk. "Nah, itu!"

 Aku menghela napas. Bunny melihatku dengan mengedipkan sebelah mata. Nyebelin.

 "Ya udah, itu dulu rapat editorialnya. Tolong dikerjakan semua sesuai deadline," ujarku membubarkan rapat.

 Aku lalu berjalan lunglai ke arah lobby. Kenapa Si BS itu?

 BS ternyata baik-baik saja. Dia tersenyum lebar. Mengenakan kemeja abu-abu terang dan celana khaki serta ikat pinggang kulit warna cokelat, serta sepatu abu-abu. Tunggu, tunggu, kenapa aku bisa sebutkan detail, ya? Kenapa juga aku perhatikan? Eh, rambutnya juga klimis, baru potong.

 "Selamat pagi, Beauty Ayu!" seru BS dengan senyumnya seraya berdiri dari duduknya.

 "Gak pake masker?" ujarku mengingatkan.

 "Oh iya!" serunya sambil merogoh celananya dan segera mengenakan masker yang juga berwarna abu-abu. Matching banget.

 "Terima kasih untuk pakai masker juga menanyakan kabarku. Ada apa ya, Bart?" tanyaku sambil tanganku menyilahkan duduk. Aku pun duduk di depan Bart.

 "Gak, aku mampir aja. Kebetulan aku nanti ada janji sama klien dekat-dekat sini. Soalnya kata adikku, kalian … Eh, maksudku kamu dan rombonganmu datang ke apartemenku malam-malam ‘kan? Justru aku yang mau menanyakan apa ada masalah?"

 Aku menggeleng. "Gak, gak ada masalah. Hm … adikmu yang tempo hari di apartemen?"

 Bart mengangguk. "Iya, aku ada pekerjaan melukis untuk keluarga kaya pemilik pabrik rokok di Jawa. Selama aku keluar kota, aku minta tolong adikku jagain rumah," jawab Bart.

 Aduh, aku jadi merasa bersalah. Matt kenapa menyangka itu 'pacar' Bart, sih? Ternyata pria di apartemen itu adalah adiknya. Jadi, Bart gak gay?

 "Aku minta maaf ya, kami gak ada masalah sama sekali, kok. Sekalian aku belum sempat bilang terima kasih banyak atas hadiahnya. Tapi, sejujurnya, itu terlalu mahal untuk aku," ujarku.

 Bart tersenyum. "Dipakai ‘kan, hapenya?"

 Fiuh, untung ponselku ada di dalam saku celana. Aku mengangguk cepat. Ya Tuhan, maafkan aku sudah berbohong.

 "Kenapa kamu memberiku hadiah hape terbaru dan termahal itu, sih?" tanyaku.

 "Kenapa? Aku senang, kok. Aku senang melakukannya. Lagipula … a … aku senang sama kamu," ujar Bart dengan intonasi pelan dan suara nyaris tak terdengar. Tapi aku menangkapnya dengan sangat jelas.

 Aku tidak bodoh. Siapa sih pria yang mau memberikan ponsel terbaru dan mahal tanpa tujuan?

 "Maaf ya Bart, aku sudah tunangan," ujarku sambil menunjukkan jari manis kiriku.

 Bart mengangguk. "Gak masalah, Beauty. Buatku, kamu itu Monalisa," ujar Bart.

 "Hah, Monalisa lukisan?" tanyaku bingung.

 "Iya, Monalisanya Leonardo da Vinci. Kamu sudah pernah ke Louvre di Paris ‘kan?" tanyanya lagi.

 Aku mengangguk.

 " Nah, kamu tahu, semua orang ke sana ingin melihat Monalisa. Diberitahu bahwa banyak lukisan yang lebih bagus, lebih besar … ‘Kan memang kenyataannya, lukisan Monalisa itu ukurannya gak besar, ya? Tapi tetap saja, mereka maunya Monalisa. Semua mau Monalisa. Tapi Monalisa gak dijual. Terlalu mahal harganya. Kalau pun ada yang mampu beli, gak bakalan bisa dibeli,” tutur Bart.

 "Lalu, apa hubungannya denganku?" tanyaku polos.

 "Kamu, Beauty, adalah Monalisa. Aku gak bisa membeli kamu, pun jika aku mampu. Aku cukup jadi orang yang mengagumimu. Aku mengagumimu, Monalisaku," ujar Bart.

 Oke, boleh aku gemetar? Bolehkah jantungku berdetak kencang? Kenapa tanganku jadi keringatan.

 "Ng … Terima kasih, ya," ujarku gak tahu mesti ngomong apa.

 "Ya sudah kalau gak ada masalah. Aku senang kamu mau menerima pemberian aku. Semoga hape itu bermanfaat bagimu, ya. Selamat bekerja, Beauty. Aku pamit dulu," ujarnya.

 Aku mengangguk dan seperti terhipnotis, tidak bergerak. Pun ketika Bart berdiri dan mengangguk, lalu sosoknya menghilang dari pandanganku.

 Aku membalik diri dan melihat Bunny mengintipku. "Jadi, hapenya buat Monalisa?" godanya.

*****

Nantikan kisah lanjutan Miss B hanya di LINE TODAY pada tanggal 28 Januari 2022!

***

Tentang Penulis

Fira Basuki adalah penulis senior Indonesia yang produktif (34 buku). Kisah hidupnya yang ditulis di buku “Fira dan Hafez” (Grasindo, 2013) diangkat menjadi film “Cinta Selamanya” yang diproduksi Demi Istri Production dan Kaninga Pictures (2015), disutradarai Fajar Nugros dan dibintangi Atiqah Hasiholan sebagai Fira dan Rio Dewanto sebagai Hafez, almarhum suaminya.

Fira menghidupkan kembali fiksi seri Miss B, terbitan Grasindo yang sempat populer dan menjadi best sellers beberapa tahun silam. Miss B menceritakan kisah hidup dan keseruan cewek milenial bernama Beauty Ayu Pangestu yang akrab dipanggil Miss B. Ia tinggal di apartemen bersama Bunny dan Q serta Cantik, kucingnya.