Yasa - CHAPTER 4

Storial.co Dipublikasikan 03.28, 20/05 • Mizan Media Utama
CHAPTER 4

Yasa di Mata Daza

“There’s always that one person that you’ve had feelings for since the moment you first met them.”

—Unknown

***

“Bahagia banget muka lo, kayak abis menang giveaway.”

Daza melirik sahabatnya, Erik, yang baru saja bertanya dengan raut terheran-heran. Bibir Daza terus melengkung, memberi kesan kebahagiaan yang tak habis-habis. Meskipun dia masih senyum-senyum bak orang gila, tangannya tetap telaten memotong-motong martabak telur di piring.

“Awas, entar disenyumin balik sama martabaknya, Daz,” gumam Agrita, yang kini bertopang dagu menatap Daza tepat di depannya.

Bibir Daza mengerucut sesaat. “Gue lagi bahagia, tau!” Daza memasukkan potongan martabak ke mulutnya. Selagi mengunyah, pandangan Daza mengarah ke taman belakang sekolah di luar kantin yang hanya terhalang dinding kaca. Siswa-siswi yang mengenakan seragam atasan putih beraksen tartan—khas SMA Nusa Cendekia—melintasi taman sejuk di luar sana dengan ceria.

“Tadi senyam-senyumin martabak, sekarang malah fokus ke Mbak Melati,” ucap Erik yang sontak membuat Daza beristigfar. Disikutnya rusuk Erik sampai cowok itu mengaduh.

Agrita cekikikan geli.

“Serem banget, sih, Rik.”

Mbak Melati yang disebut Erik konon kabarnya adalah penunggu pohon beringin yang menjulang di tengah taman sekolah. Setiap angkatan sudah tahu betul sepak terjang Mbak Melati, si hantu wanita yang doyan mengganggu murid laki-laki.

“Emang lo kenapa, sih, Daz? Gara-gara kakak kelas kesayangan lo itu?” tebak Erik kemudian.

Senyum Daza kembali merekah, “Ih, kok lo tahu sih, Rik?”

Erik, yang sejak kecil bertetangga dengan Daza, tentu mudah menebak hal sepele macam ini. Cuma cinta yang bisa membuat Daza berevolusi menjadi makhluk yang doyan cengengesan. Dan, setahu Erik, yang Daza suka sejak kelas VII SMP cuma Yasa seorang. Meskipun Erik tidak satu SMP dengan Daza, yang artinya dia tidak kenal Yasa sebelumnya, tetap saja nama cowok itu selalu melekat dalam curhatan Daza di rumah. Jadi, secara tidak langsung, sosok Yasa tak begitu asing baginya.

Berbeda dengan Erik, yang sudah berteman sama Daza dari zaman mereka masih pakai popok, Agrita baru mereka kenal saat awal masuk SMA. Cewek bertubuh tinggi, langsing, dan putih macam anggota girl band Korea ini satu kelas sama mereka.

“Kakak kelas yang mana?” tanya Agrita.

“Kak Yasa, Grit. Yang jaga stan pendaftaran pas kalian daftar ekskul jurnalistik,” jelas Erik.

Mulut Agrita langsung membulat. “Ketemu lagi lo sama dia, Daz?” Ia pun bertanya.

“Iya! Padahal gue belum nyariin, tapi udah ketemu aja,” jawab Daza semangat.

“Ya, namanya satu sekolah, Daz. Kebetulan itu namanya,” kata Erik.

“Jangan anggap sepele yang namanya kebetulan. Lo nggak tahu, ya, kata Fiersa Besari, kebetulan itu adalah takdir yang menyamar,” ucap Daza dengan kedua alis yang naik turun, seakan menantang Erik untuk memberikan penyangkalan.

Erik cuma bisa menghela napas panjang. Yah, mau bagaimana lagi, dia nggak pernah menang adu mulut sama Daza.

“Emang ketemu di mana?” tanya Agrita.

“Di koperasi, pas gue mau fotokopi tadi. Nggak cuma ketemu, kami juga ngobrol, flashback masa-masa SMP gitu.”

“Emang dia mau ngobrol sama lo?” tanya Erik cuek. Daza langsung mencubit kecil lengan Erik.

Cowok tinggi dengan rambut potongan undercut itu spontan berteriak, “Aduh, sakit!” gerutunya sambil mengusap-usap lengan yang menjadi korban kebarbaran Daza. Sadar kalau teriakannya tadi memancing tatapan ingin tahu anak-anak di kantin, Erik langsung mengatur ekspresinya senormal mungkin.

“Syukurin!” balas Daza.

Agrita cengar-cengir geli melihat interaksi dua sekawan di depannya. Ini, nih, salah satu alasan dia mau bergabung di geng Daza-Erik. Setiap hari, bahkan setiap saat, dia bakal disuguhi hal-hal receh yang menyenangkan.

“Emang apa sih, Daz, alesan lo suka Kak Yasa? Sukanya pas kelas satu SMP pula. Gue, mah, pas SMP masih sibuk mikirin besok bawa bekal apa, lo malah udah ngerti cinta-cintaan,” kata Agrita santai.

“Cinta monyet,” timpal Erik. “Cinta monyet yang lama-lama berevolusi jadi cinta beneran.”

“Ih, kok lo tahu sih, Rik?” Daza berpura-pura terharu sahabatnya itu bisa sangat memahami dirinya.

Erik berdecak, dijitaknya Daza agar berhenti mendramatisasi suasana.

“Kenapa bisa berevolusi jadi cinta beneran?” Agrita masih penasaran.

“Karena Kak Yasa ganteng!” sahut Daza tanpa ragu.

“Banyak kali yang ganteng di Nusa Cendekia. Contohnya, Kak Angkasa, anak kelas XII IPA 1 yang katanya playboy, atau Kak Sagara Miller yang bule. Mereka jelas lebih oke daripada Yasa Yasa itu.”

“Nggak, Grit. Di mata gue, gantengan Kak Yasa.”

“Alah, sekalian aja lo naksir selebriti kalau mau cari yang ganteng. Banyak, tuh, tinggal sebut aja. Mau yang kebarat-baratan, ada Tom Holland, Cameron Dallas, Manu Rios. Yang Korea tambah banyak pilihannya. Jungkook, Sehun, Lee Jong-suk, wah, banyak pokoknya.”

“Ih, bedalah, Grit. Selebritas kan unreachable, sedangkan Kak Yasa nyata di depan mata.” Daza memamerkan senyum sejuta dolarnya.

“Nyata, tapi kalau nggak bisa lo raih, sama aja,” komentar Erik.

“Mulutnya pedes banget, minta ditabok bolak-balik pakai piring, ya? Atau, pengin nambah kena cubitan maut?”

“Nggak! Awas lo berani nyubit gue lagi! Gue cuma bicara fakta, kok,” bela Erik.

“Nggak usah nyindir-nyindir rasa suka gue ke Kak Yasa, Rik. Itu pilihan gue buat naksir dia.”

Erik menghela napas. “Jika Daza mencintai Yasa sebanyak 100 persen, dan Yasa membenci Daza sebanyak 90 persen, sedangkan jarak yang memisahkan keduanya sejauh 100 kilometer. Berapa persentase tekanan batin yang dirasakan Daza karena Yasa?”

Daza mengerucutkan bibir mendengar pertanyaan matematika karangan Erik yang nggak nyambung itu. Bicara tentang tekanan batin, Daza sebetulnya sadar Yasa memang sulit untuk diraih. Cowok itu terang-terangan menunjukkan penolakan atas dirinya. Memang agak menyakitkan, sih, tapi Daza tetap tidak mau menyerah. Ada alasan yang lebih istimewa kenapa dia kukuh memperjuangkan Yasa.

Yasa itu ibarat boyfriend goal bagi Daza. Ganteng dan pintar. Kombinasi yang sempurna. Dia tipikal cowok semi berantakan yang punya daya tarik tersendiri. Tinggi tubuhnya sekitar 175 sentimeter, garis wajahnya tegas, mirip cowok-cowok yang fotonya sering di-upload di Instagram @jaw. Yang paling menggemaskan, mata sipit Yasa yang saat ketawa hanya tinggal segaris.

Kepribadian Yasa juga baik. Dia punya good sense of humor. Walaupun agak cuek dan kadang galak, suka bentak dan teriak, marahnya itu tidak pernah bertahan lama.

Untuk urusan akademik, Yasa juga patut diacungi jempol. Setahu Daza, cowok itu masuk daftar sepuluh besar siswa dengan nilai Ujian Nasional terbaik se-SMP-nya dahulu. Selain itu, di bidang olahraga, Yasa tidak lembek. Dia laki banget, lah, pokoknya.

Adapun bakat utama Yasa itu di dunia fotografi. Entah mengambil gambar untuk kegiatan tertentu dengan angle terbaik ataupun memotret karya seni, Yasa juaranya. Tak usah jauh-jauh, feeds Instagram-nya saja kece banget. Bisalah dibandingkan dengan feeds Instagram akun Aliando Syarief atau Adipati Dolken.

Daza memang menyukai segala kelebihan Yasa. Namun, di balik itu, ada satu lagi alasan istimewa kenapa Yasa bisa merebut tempat spesial di hatinya.

Adalah pertemuan pertama mereka.

Awal dari segala sesuatu yang sampai saat ini belum menemukan akhir.

***

Artikel Asli