Misteri Tanjakan Angker

Kompasiana Dipublikasikan 07.07, 14/01 • Budi Susilo
Foto oleh veeterzy dari Pexels
Foto oleh veeterzy dari Pexels

Malam buram tanpa bintang. Berdesir aroma wangi bersama tawa melalui lubang hawa. Meremang bulu kuduk, sekalipun pengalaman itu bukan yang pertama. 

Sudah tiga hari aku menginap di sini. Di kota tempat sendu bermuara. Di mana langit enggan biru dan lebih kerap mencumbu kelabu.

Sejak hari kesatu, semerbak itu telah menyelinap ke dalam kamar, tapi ku abaikan. Aku sedang asyik bertualang di belantara frasa, memungut kata-kata. 

Namun pada malam terakhir yang sunyi ini, inspirasi bergelayut pada awan angan. Ia sepertinya takingin menggali lagi puisi yang ku buat untuk menutup lubang luka.

Aku menyerah. Jemari berhenti mengetuk tombol ketik. Aku meluruskan punggung pada sandaran kursi. Napas menghembus bersama asap putih setelah menyesap buih, menyisakan seperempat botol bir.

Khayal melayang, menyusul ingin yang kian jauh mengikuti angin. Gagasan menyingkir, kelu dalam sudut pilu. Kegiatan menulis puisi terhenti. Sepi.

Lagi-lagi indera penciumanku terusik. 

Aroma wangi bunga melati? 

Rasa-rasanya aromanya tidak merebak kuat di udara sedingin ini. 

Atau. Bisa juga harum bunga kemuning yang menghambur bersama hawa lembab.

Akan tetapi, aku tahu persis, tanaman tersebut tidak tumbuh di sekitar bangunan tua ini.

Pondok berada di tepi tanjakan yang, konon, tersohor keangkerannya. Jalan dari atas demikian curam, sehingga tak sedikit pengendara kehilangan kendali atas kendaraannya. Beberapa kali terjadi benturan maut di depannya.

Tiga bulan lalu tersiar kabar, terjadi lagi musibah kecelakaan lalulintas di jalan licin menurun tajam berlapis aspal hot mix itu. 

Sebuah bis bermuatan penuh menghantam pagar jembatan, kemudian terjun langsung ke dasar sungai berbatu, hancur menjadi onggokan. 

Tidak satu pun penumpang yang selamat.

Katanya, setelah peristiwa itu, beredar santer kisah-kisah tentang arwah gentayangan di kalangan penduduk sekitar.

Apakah keangkeran itu berhubungan dengan wewangian dan suara cekikikan ini? Segera kutepis bisikan mistis tersebut.

Lebih elok jika aku membaringkan tubuh yang tegang sesudah dua malam begadang. Siapa tahu besok pagi badan lebih bugar dan pikiran segar kembali, demi melanjutkan tulisan.

Waktu berputar cepat, rasa-rasanya baru saja memejamkan mata, terdengar lagi suara cekikikan dan wangi semerbak. 

Jarum jam pendek dan panjang menunjuk angka dua belas. 

Penasaran. Aku bangun dari ranjang, melangkah menuju jendela. Dengan sangat berhati-hati, tangan menyibak korden berwarna cokelat susu, perlahan. Sedikit asal bisa mengintip. 

Hal yang paling kutakutkan, bila dari balik kaca tiba-tiba muncul bayangan bermata merah, bermuka pucat, berambut panjang, berbaju serba putih dengan punggung berlubang. Tiada tempat untuk melarikan kengerian di bilik sunyi.

Sejenak tidak ada sesuatu yang aneh di keremangan. Pupil membesar, berproses menyesuaikan diri dengan suasana halaman luar yang temaram. Lamat-lamat tampak dua siluet bergoyang-goyang berjalan menuju arah kamarku.

Jantungku berdegup. Mereka mendekat. Aku menahan napas. Mereka semakin merapat. Postur keduanya kelihatan semakin jelas.

"Cekrek…," terdengar anak kunci berputar.

Seorang lelaki memeluk pinggang wanita berkaos putih yang berkikikan. Wanginya menyengat, khas parfum yang banyak dijual di pasar.

Mereka memasuki kamar tepat di sebelah bilik sunyi yang ku sewa selama tiga hari untuk mencari inspirasi.

Penulis: Budi Susilo

Artikel Asli