Wawancara Khusus dengan Komisaris Garuda Timbo Siahaan

kumparan Dipublikasikan 06.39, 08/12/2019 • Ilham Bintang
Komisaris Independen PT Garuda Indonesia bersama Menteri BUMN, Erick Thohir. Foto: istimewa

Di bawah pohon resto Hotel Whydham yang rindang di daerah Klungkung, Bali, Minggu ( 8/12) pagi, saya dapat dua jenis sarapan lezat sekaligus. Pertama, dua butir telur Sunny Side Up plus Croissant dengan hot teh English Breakfast. Kedua, yang ini paling lezat dan teramat penting:wawancara khusus dengan Herbert TimboSiahaan. Komisaris Independen PT Garuda Indonesia Tbk ini sudah seminggu ini jadi buruan wartawan. Semenjak kasus penyelundupan motor gede yang melibatkan Direktur Utama Garuda Indonesia, praktis sejak itulah pria berpostur tinggi besar ini tenggelam dalam kesibukan menghadapi skandal memalukan itu.

Dua hari saya japri ke WhatsApp dia tak berbalas, bahkan tak sempat dibaca oleh wartawan senior yang sehari-hari sebagai Pemimpin Redaksi stasiun televisi JAKTV tersebut.

Tadi pagi di tengah sarapan, tiba-tiba notifikasi di ponsel memunculkan pesan dari Komgar Garuda itu—begitu komunitas pemred menjuluki Timbo.

Tidak banyak yang tahu, Sabtu (7/12) pagi, ketika selaku Komgar dia menandatangani SK pemecatan sementara Dirut Garuda beserta 4 direksi lainnya, ia tak kuasa menahan tangis. Betulkah itu?

Direksi PT Garuda Indonesia melakukan pertemuan dengan Menteri BUMN. Foto: Istimewa

“Hah! Tahu darimana?,“ tanyanya dalam percakapan telepon kami—sekitar satu jam— untuk wawancara ini. Di selingi beberapa kali terputus lantaran signal kartu Indosat dan Telkomsel tak cukup kuat di lokasi.

“Iyalah. Bagaimana pun sebagai manusia biasa, kami sudah cukup lama bekerja sama dengan teman-teman itu. Namun, kami harus tegakkan aturan menurut UU,“ sahut dia.

Sesuai UU Perseroan, selain fungsi pengawasan, Dewan Komisaris juga memiliki kewenangan mengangkat memberhentikan sementara direksi yang melakukan pelanggaran. Begitu juga dengan Garuda Indonesia.

Timbo telah mengenal lama Ari Askhara, masih ketika periode dia terpilih pertama kali jadi Komisaris di Garuda. Waktu itu Ari Askhara menjabat Direktur Keuangan.

Sebelum ini, Timbo juga tak menyangkal ia menilai Ari Askhara seorang pekerja keras nan profesional. Gagasannya memajukan Garuda diapreciateoleh Timbo. Termasuk inovasi Ari “menjual” boarding pass Garuda menjadi sarana promosi atau iklan. Itu peluang mendapatkan tambahan pendapatan untuk Garuda. Gagasan itu sudah direalisasi. Boarding pass saya ke Bali kemarin di belakangnya sudah ada iklan mobil.

Jajaran direksi Garuda Indonesia dan Menteri BUMN. Foto: istimewa

Dari lima anggota Dewan Komisaris, tampaknya Timbo yang paling merasakan konflik batin. Ada yang menyaksikan dia meneteskan air mata waktu menandatangani keputusan pemecatan Sabtu itu. Meskipun di lain pihak dia yang bersikeras semua direksi yang ikut penerbangan Garuda yang menyelundup itu harus diberhentikan. Karena itu sudah masuk persoalan pidana. Latar belakang Timbo memang sarjana hukum. Dia mengerti perbuatan pidana tanggung renteng. Memiliki prinsip “tangan mencincang bahu memikul.” Artinya, siapa saja yang berada di locus kedian, patut diduga ikut perbuatan tindak pidana dan menanggung risiko hukum sesuai peran masing-masing.

Dilihat dari duduk masalahnya, rasanya memang tidak terbatas empat orang itu saja akan terkena sanksi hukum. Termasuk distributor automotif serta pemilik jaringan restoran Padang “Sari Mande” yang ikut dalam penerbangan. Hasil penelusuran redaksi, pemilik sepeda Brompton itu diduga pengusaha resto Padang itu.

“Jujur saja saya mengiyakan. Tidak menangis. Matanya saya berkaca-kaca. Sedih. Karier Ari Askhara berakhir begitu saja. Ini kan sisi manusiawi. Tetapi pada lain sisi, sebagai Komisaris yang diberi amanah oleh bangsa dan negara, tidak bisa lain saya harus berpihak dan mengamankan itu. Mengamankan upaya menegakkan kebenaran,” papar pria brewok yang sering lebih lembut dari penampakannya.

Betulkahdi Dewan Komisaris terjadi sempat alot membuat putusan memecat semua direksi? Bolehtahu siapa yang masih mencoba mementahkan putusan itu?

“Kalau ranah ini, itu rahasia dapur. Saya tidak mau komentar. Anda kan wartawan, bisa telusuri sendiri. Itu hak Anda, saya tidak kuasa melarang. Yang penting buat saya lihat saja bagaimana ujungnya. Ke arah mana keputusan itu diambil,” elak Timbo. Dia mengaku seminggu ini kurang tidur.

Jajaran direksi Garuda Indonesia Foto: Istimewa

Identifikasi perkara

Skandal Garuda ini menurut istilah dalam ungkapan orang Betawi, “sudah kagak ketulungankelewatannya”.

Setuju atau tidak, memang inilah skandal Garuda terbesar dan sangat memalukan. Penyelundupan motor dan sepeda mewah serta tas-tas branded itu sudah direncakan lama, sekurangnya sejak Agustus lalu.

Diatur oleh staf Garuda di Amsterdam. Rencana semula akan ditumpangkan dalam penerbangan reguler Garuda dari Amsterdam. Tapi Otoritas Garuda di sana menolak. Tidak berani. Lalu diusahakan menggunakan KLM, maskapai penerbangan Belanda. Tapi di sana juga ditolak. Akhirnya mengambil momentum penjemputan pesawat Garuda jenis baru Neo Air Bus 330-900. Dari Toulouse, Perancis, ke Jakarta. Semua barang-pesanan akhirnya dikirim ke Toulouse. Dan, terakhir berujung tersingkapnya kasus penyelundupan itu di Bandara Soekarno Hatta.

Penerbangan dari Toulouse-Jakarta mengangkut lebih 20 penumpang VVIP. Termasuk Dirut Garuda dan empat direksi lainnya dan istri masing-masing. Otoritas tertinggi dalam penerbangan itu jelas adalah Dirut Garuda Ari Askhara.

Komisaris Independen Garuda Indonesia, Timbo Timbo Siahaan; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani; dan Menteri BUMN, Erick Thohir. Foto: istimewa

Dari komposisi penumpang VVIP itu mudah diidentifikasi, “Garuda 1” itulah yang tertinggi, paling bertanggung jawab. Walaupun pada awal-awal ada upaya mencoba mengalihkan itu menjadi tanggung jawab pada karyawan status biasa.

Situasi makin runyam ketika Sekretaris Korporat Garuda mengatakan barang-barang itu atas nama staf. Garuda akan menanggung biaya masuk dan denda atas barang-barang tak bermanifes tersebut. Ini pernyataan bunuh diri.

Sebelum Erick Thohir turun tangan pun dengan mudah diidentifikasi keterlibatan “Garuda 1”. Apa pula urusannya Garuda harus menanggung biaya plus denda barang selundupan karyawan.

Kotak Pandora

Pada kasus pengangkatan Ahok tempo hari kontroversial, kali ini langkah Menteri BUMN menangani kasus Garuda mendapat dukungan 100 persen rakyat Indonesia. Termasuk Serikat Pekerja Garuda. Apalagi langkah Erick memberi signal tidak hanya berhenti pada kasus Garuda. Tapi lebih luas untuk menyoroti seluruh BUMN. Bukan rahasia umum lagi ada kemiripan skandal Garuda dengan BUMN. Termasuk skandal asmara petingginya.

Langkah Erick sudah benar. Konstitusional. Jauh dari alasan personal. Pemilik group usaha Mahaka ini memulai dengan mengembalikan fungsi Dewan Komisaris menurut ketentuan. Termasuk wewenang pemberhentian sementara direksi Garuda dikembalikan kepada Dewan Komisaris. Sebelum diputuskan secara definitif nanti dalam RUPS-LB. Pada instansi itulah nanti pemecatan diputuskan secara definitif. Begitu juga pengangkatan direksi dan komisaris baru. Begitu ketentuan dalam UU Persero.

Dekom Garuda sendiri sebelum mengambil keputusan dalam rapat dengan Menteri BUMN, terlebih dahulu meminta Komite Audit mengusut tuntas kasus penyelundupan itu. Hasilnya salah satu, mendasari putusan Dekom Garuda.

Komisaris Independen PT Garuda Indonesia bersama Menteri BUMN, Erick Thohir. Foto: Istimewa

Belajar pada kasus Garuda sebelum ini, banyak penyelesaiannya tidak menempuh prosedur seperti itu. Ambil contoh kasus penyulapan pembukuan Garuda dari rugi menjadi untung. Dekom pun tak berdaya dalam kasus ini, mayoritas terpaksa setuju. Hanya satu yang menolak: Chairal Tanjung, justru yang mewakili pemegang saham. Itu bisa terjadi karena peran Menteri BUMN, Rini Soemarno, sangat mendominasi.

Apa yang dimauidan dikehendaki Menteri itulah yang mesti jalan. Aturan lain menyesuaikan. Alhasil, tidak ada sanksi apa pun dari BUMN atas pelanggaran yang dilakukan direksi. Padahal, sanksi denda atas pelanggaran itu dijatuhkan oleh banyak instansi di luar Garuda menyikapi itu. Kasus ini boleh Erick dalami lagi. Apa yang terjadi sebenarnya.

Di Garuda, Erick telah membuka kotak pandora yang melingkupi manajemen maskapai penerbangan plat merah itu. Tidak mustahil praktik itu terjadi di seluruh BUMN. Itu bisa ditelusuri bagaimana Menteri BUMN Rini Soemarno menikmati penumpukan seluruh kekuasaan dan kewenangan di satu tangan. Tangannya sendiri. Dari tangannya lahir pula banyak komisaris kaleng-kaleng, asal tunjuk dan dudukkan orang dianggap berjasa menurut penilaiannya.

Ayo Erick. Kita tunggu langkah besar Anda selanjutnya. Ewako! meminjam jargon supporter pendukung PSM Makassar.Wawancara Khusus Dengan Komisaris Garuda Timbo Siahaan.

Artikel Asli