Wawancara Direktur Astra Digital International: Kami Tidak Kenal Tahap Burning Money

Merdeka.com Dipublikasikan 10.40, 18/09/2019
Direktur Astra Digital Kemas Henry Kurniawan. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Wawancara eksklusif Merdeka.com dengan Kemas Henry Kurniawan, Direktur PT Astra Digital International, startup ala korporasi raksasa PT Astra International Tbk. Simak detailnya di sini!

Arus digitalisasi semakin deras mengalir di PT Astra International Tbk, kelompok usaha dengan 220 anak usaha, pendapatan Rp 239 triliun, dan laba Rp 21,6 triliun pada tahun lalu. Langkah serius Astra menekuni ranah digital dimulai lewat investasi senilai US$ 150 juta ke Gojek Indonesia, startup lokal yang kini berstatus decacorn.

Buntut dari aksi korporasi tersebut, Astra International dan Gojek membuat platform digital bernama Go-Fleet. Usaha patungan keduanya ini dirilis pada Juli lalu.

Selain digitalisasi internal di anak usaha, digitalisasi besar Astra Group berikutnya adalah mendirikan anak usaha baru bernama PT Astra Digital International. Ini menarik karena bentuknya perusahaan rintisan (startup) teknologi. Bahkan diam-diam, Astra Digital sudah memiliki empat platform digital, yakni Cariparkir, Sejalan, Movic, dan Seva.id. Tiga nama pertama adalah aplikasi smartphone, sedangkan nama terakhir berbasis website.

Untuk mengetahui lebih detail cerita tentang Astra Digital dan target besarnya, M Syakur Usman dan Iqbal S Nugroho dari Merdeka.com mewawancarai Kemas Henry Kurniawan, Direktur Astra Digital International di kantornya yang bergaya anak muda di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan latar belakang pendirian Astra Digital International?

Pada September 2016, Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, mengundang 22 perusahaan under Astra. Diwakili 22 orang, termasuk saya, kami berkumpul bersama. Pesan Pak Pri, kami diberi kertas putih, diminta memikirkan digitalisasi untuk Astra. Belum tahu akan bikin apa, kami diberikan kebebasan.

Saat itu saya masih di Auto2000. Ada juga perwakilan Toyota, Daihatsu, Honda, dan lain-lain. Jadi ada task force berjumlah 22 orang. Setahun kemudian, kami mulai aksi dan menggodok semua rencana hingga melahirkan beberapa pilar.

Pilar pertama, platform; kedua, mobility solution; ketiga big data, keempat customer relations atau royalty. Jadi kami fokus ke digitalisasi. Kami lakukan rapat intensif bersama manajemen Astra. Hingga akhir 2017, kami berhasil merumuskan dua hal dengan nama Astra Digital Project. Proyek ini memiliki dua gol besar, yakni memperkuat value Astra dan fokus ke customer centric.

Apa pertimbangannya?

Alasannya, Astra punya value dan kompetensi kuat saat ini. Tapi teknologi dan inovasi, kami sadari, suatu saat berubah. Dari situ, Astra ingin tetap stay inline dengan bisnisnya sehingga value Astra ikut terus dengan perubahan itu. Arahnya lewat digitalisasi.

Kedua, customer centric. Kami melihat perilaku konsumen berubah karena teknologi. Pada 2017, e-commerce ramai dan lahir startup unicorn. Banyak pula pihak asing masuk ke pasar Indonesia. Mereka melihat pasar Indonesia, ingin engagement dengan konsumen Indonesia. Ini ranah baru bagi banyak orang, termasuk Astra. Pendatang baru juga masuk. Kalau di industri otomotif, ada pemain baru seperti Wuling dan DFSK.

Kami melihat pasarnya ada, tapi konsumen berubah. Dulu product oriented, sekarang customer oriented. Maka itu, Astra harus fokus ke customer centric. Itu obyektifnya.

Maka pada Maret 2018, kami membuat PT Astra Digital International. Jadi ceritanya Astra Digital memiliki punya dua muka, sebagai corporate function under Astra International (holding company).

Berapa modal awal dan disetor dari Astra International?

Kami memang 100 persen dimiliki oleh Astra International. Kami semua di sini masih under Astra. Tapi saya tidak bisa sebutkan modal awal kami (sambil tertawa).

Saat ini kami berhasil mengembangkan empat produk. Pada Maret 2018, kami rilis tiga produk, yakni Seva.id, Sejalan, dan Cariparkir. Kemudian pada September 2018, saat peresmian kantor baru di Sunter, kami rilis produk keempat; Movic.

Bisa dijelaskan keempat platform tersebut?

Pertama, Seva.id adalah platform otomotif yang menyediakan solusi menyeluruh, mulai dari simulasi kredit kendaraan, pembelian kendaraan baru dan bekas, kendaraan komersial, booking service, dan penjualan suku cadang. Platform Seva.id ibarat marketplace dari seluruh produk dan layanan Astra Group.

Sejalan adalah aplikasi ride sharing yang mempertemukan pengemudi dan penumpang yang memiliki rute perjalanan searah. Selain bisa menghemat biaya perjalanan, pengguna aplikasi ini bisa mendapat relasi baru.

Ketiga, Cariparkir. Ini adalah aplikasi untuk mencari tempat parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Tersedia di smartphone berbasis Android dan iOS, aplikasi ini sudah bekerja sama dengan ratusan penyedia jasa parkir di Jabodetabek yang ada di mal, stasiun, terminal, pintu tol, dan gedung perkantoran.

Yang bontot, namanya Movic (monetize vehicle). Ini platform penyewaan mobil yang memberikan kemudahan sewa kendaraan di mana saja. Lewat Movic, Anda bisa menjadi penyewa atau pemilik mobil sewaan. Saat ini Movic memiliki lebih dari 3.300 model kendaraan di 47 kota, mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, hingga Maluku-Papua.

Direktur Astra Digital Kemas Henry Kurniawan. ©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Bagaimana pertumbuhan platform itu?

Jadi Astra Digital berkonsep startup. Maka itu, kami tidak melakukan kegiatan launching platform, seperti layaknya startup teknologi. Kami selalu mengecek model bisnisnya, apakah sesuai atau tidak dengan pasar atau konsumen. Misalnya platform Sejalan, ternyata diminati juga oleh perusahaan travel. Jadi mereka menjual kursi di armadanya seperti rute Jakarta-Bandung atau Jakarta-Yogyakarta.

Kemudian Seva. id, platform berbasis website, kunjungan per bulan satu juta orang, meski saat ini turun ke 400-500 ribu kunjungan per bulan.

Platform Sejalan dan Cariparkir mirip-mirip pertumbuhannya, karena pasarnya sangat spesifik. Kedua aplikasi mobile ini menuju 300 ribu unduhan.

Yang seru, aplikasi Movic, meski bungsu, aplikasi ini memenuhi kebutuhan kustomer terutama pemilik mobil rental yang membutuhkan platform. Hampir 500 ribu unduhan di Google Play Store. Belum di App Store, mungkin total 600 ribuan.

Kami melihat keempat platform ini seluruhnya terkait industri otomotif?

Benang merahnya memang otomotif, ekosistem otomotif tepatnya. Pertimbangannya, selama ini konsumen setelah membeli kendaraan bermotor, kembali berhubungan dengan merek, untuk servis saja dengan masa kepemilikan rata-rata tiga tahun. Oleh karena itu, kami bikin platform Sejalan dan Cariparkir, supaya konsumen kembali lagi ke Astra, setelah masa kepemilikan mobilnya selesai (lunas).

Sementara di platform Seva.id, kami tidak menjual produk. Platform ini hanya membantu mengarahkan konsumen yang ingin membeli merek kendaraan di bawah Astra, seperti Toyota, Daihatsu, BMW, dan Peugeot. Jadi setelah masuk ke Seva.id, kami arahkan langsung ke tenaga penjualan masing-masing merek untuk dealing. Fungsi online to offline (O2O) jalan di sini. Jadi kustomer punya banyak alternatif.

Memang masing-masing merek otomotif punya website, diler juga punya. Namun, kami menawarkan solusi kepada kustomer dengan fitur "One Day Delivery" dan "Pilihan Expert". Di seva, kami melihat pin point yang bisa kami layani apa saja. Misalnya fitur One Day Delivery ada, karena value chain Astra komplet. Mulai dari produk (mobil), leasing, asuransi, dan sebagainya. Itu yang kami fokuskan. Pin point kustomer mobil baru di situ.

Pin point kustomer mobil bekas beda lagi. Mereka punya uang, tapi bingung mau beli mobil apa akibat banyak pilihan. Padahal mereka inginnya langsung bawa pulang mobil. Maka itu, kami munculkan fitur Pilihan Expert, sebab kami punya kompetensi. Kami tawarkan kondisi mobil bekas yang bagus, seperti jarak tempuhnya masih rendah, kondisi eksterior dan interior bagus. Mungkin harganya sedikit lebih mahal. Jadi Seva.id dibangun berdasarkan sudut pandang kustomer.

Oya, Seva.id juga memasarkan produk properti milik Astra dan suku cadang seperti aki dengan menggunakan QR code.

Intinya, kustomer bisa dilayani oleh Astra, itu poinnya.

Astra Group masuk ke Gojek, kemudian bikin anak usaha baru Astra Digital International. Apa gambaran besar dari strategi digitalisasi yang sedang berjalan ini?

Astra International memiliki banyak aktivitas yang membutuhkan digitalisasi. Yang simpel tentu digitalisasi dari unit-unit bisnis, seperti Toyota, Astra Credit Company (ACC), dan sebagainya. Semua melakukan digitalisasi sendiri-sendiri.

Langkah berikutnya, sebagai holding, Astra, melihat ada potensi inovasi dan value creation di Gojek. Merasa bisa berkolaborasi, maka Astra investasi lah di Gojek.

Nah, kami, Astra Digital adalah venture builder. Maksudnya, kami develop kompetensi sendiri, sehingga bisa menghasilkan empat platform itu. Namun, kami bisa pula menjadi venture capital, meski skalanya kecil. Apalagi kami juga sudah bermitra dengan akselerator startup di Amerika Serikat bernama Plug and Play. Kalau ada startup yang cocok dengan Astra Digital, kami terbuka masuk sebagai investor.

Jadi, gambaran besarnya, Astra International fokus ke startup besar, sedangkan kami fokus ke startup kecil yang punya value creation dan scale-up bagus.

Pertama, ada Astra International di Gojek, sedangkan kami ada di belakangnya, mengintegrasikan satu sama lain. Lalu ada platform Go-Fleet, usaha patungan antara Astra International dan Gojek.

Kelihatannya seperti jalan sendiri-sendiri, tapi semua mengarah pada customer centric, bagaimana menyenangkan kustomer. Apakah suatu saat seluruh platform itu gabung, kami tidak tahu.

©2019 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Pengembangan empat platform itu dilakukan oleh software engineer lokal atau asing?

Semua proses pengembangan platform in house. Mulai dari proses bikin ide, prototipe, hingga masuk ke minimum viable product (MPV). Kami bikin semua sendiri, tidak dikerjakan di India atau di luar negeri. Semua in house, sebab visi Astra adalah ingin orang Indonesia tumbuh. Namun, kondisi ini tantangan juga bagi kami.

Untuk itu, kami melakukan bootcamp, bekerja sama dengan beberapa universitas. Tujuannya supaya kami mendapat talenta-talenta potensial di kampus sehingga kami bisa running dengan teknologi seperti big data.

Tantangan terbesar di sumber daya manusia ya?

Mahasiswa yang baru lulus, sebenarnya punya kompetensi, tapi belum match dengan kebutuhan dunia usaha. Jadi kami buat bootcamp selama 3-6 bulan buat mereka. Konsepnya seperti management trainee, cuma lebih fokus. Kami bantu kemampuan soft skill mereka, seperti leadership, sedangkan hard skill-nya kami matching dengan kebutuhan Astra Digital.

Bootcamp ini kami lakukan bekerja sama dengan UI, ITB, ITS, UGM, dan sebagainya.
Saat ini sudah ratusan sarjana yang kami serap dari dua kali bootcamp. Kami punya 100 orang developer dari total 200 orang karyawan di Astra Digital.

Tantangan selain SDM, teknologi atau modal mungkin?

Kami adalah startup ala korporasi Astra Group. Dalam konteks ini, kami tidak mengenal tahap burning money sepertistartup pada umumnya. Tapi kami juga tidak bisa semaunya. Semua investasi kami pertanggungjawabkan dengan detail. Tapi saya tidak bisa menyebutkan modal kami.

Yang pasti kami investasi di orang dan teknologi. Seru lah, belajar dari bawah lagi. Soal coding dan sebagainya. Kami bisa buat platform sesuai yang diinginkan konsumen.

Sekarang kami sedang bikin kecerdasan buatan (AI) dengan menggunakan perangkat CCTV. Lewat AI ini, kami bisa mengetahui berapa banyak orang, face recognation, dengan cepat. Semua bisa kami capture. Contohnya, ada dua mobil di pameran, seperti GIIAS, kami bisa langsung tahu di model apa orang paling banyak, sehingga kami bisa ambil keputusan untuk menambah orang yang jaga atau tenaga penjual, dan sebagainya.

Sebenarnya apa target Astra Digital?

Astra selalu jago bikin target. Ada target jangka pendek, menengah, dan panjang. Tapi kami tidak bisa sampaikan. Pesannya adalah memperkuat Astra value dan customer centric.

Dalam waktu tidak lama, kami akan develop produk baru untuk lebih support customer. Apalagi produk Astra Group sangat banyak dan beragam, dari yang ada di hutan sampai di kota besar. Kami akan koneksikan semua, tapi saat ini belum bisa kami koneksikan semua.
Jadi ini channel online to offline Astra, sehingga kami nanti bisa input ke Astra International dan unit bisnis masing-masing. Astra punya kekuatan di seluruh Indonesia, jadi kami siapkan kustomer ingin apa saja.

Bisnis digital ini berada di mana dari tujuh lini bisnis utama Astra Group?

Dari tujuh pilar bisnis Astra; otomotif, jasa keuangan, alat berat-pertambangan-energi, agribisnis, infrastruktur-logistik, teknologi informasi, dan properti, kami masih berada di dalam holding. Jadi kami entitas yang belum berinduk ke tujuh pilar bisnis itu, mungin nanti. Karena saat ini kami support ke semua pilar bisnis Astra International.

Saat ini apakah Astra Digital sudah mendapat revenue?

Saat ini kami tidak tarik fee dari semua platform. Singkatnya, kami belum lakukan monetisasi. Seva.id misalnya hanya meneruskan calon kustomer ke unit bisnis Astra. Movic, tarifnya ditentukan oleh si pemilik mobil rental, bukan kami.

Katakanlah saat ini kami sedang investasi platform dan teknologi, serta dalam tahapan refining bisnis. Padahal kalau mau, kami bisa minta fee 5 persen atau 10 persen di platform kami yang masif penggunanya.

Artikel Asli