Waspada! Kontaminasi Ftalat Membahayakan Kesehatan Mama dan Keluarga

Popmama.com Dipublikasikan 08.30, 06/08 • Ester Sondang
Unsplash

Ami Zota, asisten profesor kesehatan lingkungan dan kerja di Universitas George Washington, mengatakan, hampir semua orang Amerika memiliki phthalate di dalam urinnya.

Menurut National Center from Biotechnology Information (NCBI), Australia, ini bisa membahayakan kesehatan hormonal (pubertas dan reproduksi) serta kehamilan dan persalinan.

Popmama.com akan menjelaskan kepada Mama apa itu phthalate dan seberapa besar bahayanya bagi kesehatan Mama dan keluarga seperti yang sudah diuraikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di lamannya.

1. Apa Itu Phthalate?

Freepik

Phthalate (THAL-ates) atau ftalat adalah sekelompok bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih fleksibel, lebih sulit dihancurkan (tahan lama), dan memberi efek transparan disebut juga plasticizer.

Ftalat juga digunakan sebagai pelarut dalam bahan lain, seperti pada produk lantai vinil, perekat, deterjen, minyak pelumas, plastik otomotif, pakaian plastik (jas hujan), dan produk perawatan pribadi seperti sabun, sampo, hairspray, kutek, dan lainnya.

Bahan kimia juga digunakan secara luas dalam plastik polyvinyl Chloride (PVC) untuk membuat produk lain seperti film dan lembaran kemasan plastik, selang taman, mainan tiup, kidney dialysis, kantong darah, pipa transfusi, dan beberapa mainan anak.

2. Apakah Ftalat aman?

Freepik

Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan ini. Mengapa? Ftalat bukanlah bahan kimia tunggal, melainkan terdiri dari beberapa bahan kimia. Tiap-tiap bahan, layaknya anggota keluarga, memiliki karakter yang berbeda dan dampak yang berbeda pula pada tubuh tiap orang. Dan, penelitian mengenai ftalat pun lebih banyak dilakukan pada binatang, bukan manusia.

Jadi, bagaimana ftalat memengaruhi manusia, masih terus dalam pantauan. Menurut penelitian, hasil dampaknya pada manusia masih berupa prediksi risiko.

Di mana disebutkan, jika terpapar ftalat dalam skala yang sangat tinggi manusia berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti terganggunya sistem hormon endoktrin (banyak terdapat pada pria), masalah kesehatan pada janin laki-laki (penis mengecil dan keguguran), obesitas abdominal, dan diabetes tipe-2. 

Sejumlah lembaga ilmiah pemerintah dan badan pengawas kesehatan dunia telah memelajari secara menyeluruh, meninjau, dan menyimpulkan bahwa ftalat jenis BBP, DBP, dan DEHP tidak aman digunakan dalam produk komersial.

Sebagai alternatif plasticizer, Direktur Environmental Health Center Dallas, William J. Rea, MD, mengatakan ftalat jenis diisononyl phthalate (DINP) dan diisodecyl phthalate (DIDP) diperbolehkan. Itu pun aman pada tingkat paparan yang khas, seperti yang digunakan pada mainan anak dan produk rumah tangga.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, BBP, DBP, dan DEHP bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di bawah 3 tahun, mengiritasi kulit manusia (DBP), dan pada tikus laboratorim menyebabkan kerusakan sistem reproduksi (terutama pejantan) juga kanker.

2. Aman pada paparan yang khas, berdasarkan penelitian

Unsplash

Seperti yang sudah disebutkan di atas, ftalat aman selama yang digunakan pada paparan yang khas, yaitu seperti yang disarankan badan pengawas obat dan makanan dan badan kesehatan dunia.

Informasi yang dikumpulkan CDC selama 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa, terlepas dari kenyataan bahwa ftalat digunakan dalam banyak produk, paparannya sangat rendah bahkan jauh lebih rendah daripada tingkat perhatian yang ditetapkan oleh badan pengatur.

Selain CDC, ada beberapa lembaga serupa yang melakukan penelitian mengenai DINP dan DIDP, yaitu:

  • Pada 2013, European Chemicals Agency (ECHA) menyimpulkan, tidak ada masalah kesehatan pada anak dan orang dewasa dari penggunaan DINP dan DIDP di perlengkapan seperti sarung tangan, alas kaki, jas hujan, perlengkapan sekolah anak-anak (kotak pensil, tas sekolah dan penghapus), tirai kamar mandi, furnitur berbahan kulit, interior mobil, cat dinding, kawat, kabel, dan lain-lainnya.
  • Pada tahun 2017, Environment and Climate Change Canada (ECCC) tidak menemukan masalah pada anak dan orang dewasa dengan penggunaan DINP dan DIDP pada benda seperti kain berlapis (jok dan kulit buatan), liner kolam renang, sarung tangan, pakaian PVC, perekat, sealant dan pelapis.
  • Pada tahun 2017, U.S. Consumer Product Safety Commission(CPSC) mengkonfirmasi bahwa DIDP dapat digunakan dalam aplikasi sensitif seperti mainan dan peralatan lain untuk kebutuhan anak.
  • Pada tahun 2018,Environment and Climate Change Canada (ECHA) dengan bulat menyimpulkan bahwa DINP tidak menunjukkan efek buruk pada fungsi seksual, kesuburan, atau perkembangan janin. Itulah mengapa, DINP tidak diklasifikasikan sebagai bahaya reproduksi dan perkembangan di Uni Eropa.

Ya, penelitian ini mungkin merujuk pada penggunaan ftalat (DINP, DIDP) skala paparan yang khas.

4. Anak-anak dan wanita lebih rentan terhadap Ftalat!

Unsplash

Manusia bisa terpapar ftalat dengan cara:

  • Mengkonsumsi makanan dan minuman yang kontak langsung dengan wadah dan produk yang mengandung ftalat.
  • Menggunakan produk yang kontak langsung dengan wadah yang mengandung ftalat (sampo, sabun, jas hujan, dan lain-lain).
  • Pada tingkatan yang lebih rendah, paparan terjadi dari menghirup udara atau debu yang mengandung dan terkontaminasi partikel ftalat.
  • Anak kecil mungkin memiliki risiko lebih besar terkena partikel ftalat dalam debu daripada orang dewasa, karena perilaku hand-to-mouth yang sering mereka lakukan. Setelah ftalat memasuki tubuh seseorang, ftalat diubah menjadi produk pemecahan (metabolit) yang ‘pingsan’ dengan cepat dalam urin.
  • Wanita dewasa juga memiliki risiko terkena partikel ftalat lebih tinggi karena sering menggunakan produk kesehatan dan kecantikan.

Ftalat ternyata juga bisa mengkontaminasi binatang di alam liar, loh. Seperti hasil penelitian College of Charleston dan Chicago Zoological Society yang ditulis di jurnal American Geophysical Union. Di situ disebutkan, ftalat juga terdapat di dalam tubuh lumba-lumba hidung botol.

Penelitian diambil dari 17 ikan lumba-lumba di Teluk Sarasota, AS. Konsentrasi metabolit ftalat tertinggi pada lumba-lumba adalah 71%, ini sebanding dengan kadar yang pernah ditemui pada manusia.

Jelas mengagetkan mengingat manusia paling mungkin dan sering terpapar benda-benda yang mengandung ftalat dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan lumba-lumba? Dari sini kemudian kita sadar sudah sebanyak apa limbah rumah tangga yang mencemari laut.

5. Bagaimana melindungi diri dari Ftalat?

Freepik

Tubuh manusia memang memiliki sistem detoksifikasi alami, tapi cara terbaik melindungi diri dari ftalat adalah dengan menghindarinya sebanyak mungkin. Berikut ini cara memulainya:

  • Baca label produk. Apakah produk mengandung ‘Phthalates’?Waspada, kandungan ftalat terkadang tampil di label kemasan dengan akronim seperti DHEP atau DiBP.
  • Pilih item berlabel bebas ftalat atau phthalate free, bila memungkinkan.
  • Gunakan wadah makanan dan plastik microwave safe danphthalate free, terutama pada makanan berminyak atau berlemak.
  • Perhatikan apa yang Mama makan. Studi menunjukkan bahwa diet tinggi susu dan daging mengakibatkan tingkat paparan ftalat yang tinggi.
  • Hindari makanan cepat saji. Zota dan peneliti lain telah menemukan bahwa wadah makanan cepat saji dapat menjadi sumber paparan berbahaya.
  • Minta perangkat medis bebas ftalat jika Mama menjalani dialisis ginjal atau menerima transfusi darah.

Setelah membaca ini, mudah-mudahan Mama jadi lebih mampu menjaga diri dari bahaya ftalat.

  • Apakah Wadah Plastik BPA Free Benar-Benar Aman untuk Anak?
  • Awas, 4 Bahan Kimia Ini Berbahaya Bila Terpapar pada Ibu Hamil
  • Tanpa Bahan Kimia, Ini 7 Obat Alami Atasi Sakit Perut Saat Hamil
Artikel Asli