Warga Protes Arti Orang Aceh di Google Translate Nyeleneh

Merdeka.com Dipublikasikan 04.53, 16/10/2019
Ilustrasi Google. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine
Ilustrasi Google. ©2015 Merdeka.com/Angeline Agustine

Sejumlah kata atau frasa di Google Translate dalam bahasa Jawa (Javanese) dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia mendiskreditkan masyarakat Aceh. Terjemahannya yang mengandung rasisme menuai protes dari sejumlah warga Aceh sejak kemarin.

Misal jika mengetik tulisan 'Orang Aceh' di kolom bahasa Jawa, lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya menjadi 'bajingan'. Begitu juga sejumlah frasa lainnya seperti terjemahan dari 'Gadis Aceh' diterjemahkan menjadi 'Dasar Brengsek'.

Akibatnya, produk layanan Google Translate ini menjadi perbincangan warga Aceh. Bahkan ada yang sudah melayangkan surat protes atas dugaan rasisme dan mendiskreditkan suku Aceh dengan terjemahan tersebut.

Seorang warga Aceh, Haekal Afifa melayangkan surat protes ke Google Indonesia di Jakarta. Menurut dia, terjemahan tersebut bentuk penghinaan terhadap masyarakat Aceh secara umum.

"Surat sudah diantar ke Google di Jakarta dan Google di Amerika sudah di-fax," kata Haekal Afifa di Banda Aceh, Rabu (16/10).

Haekal mencontohkan pada laman https://translate.google.com, opsi terjemahan dari bahasa Jawa (Javanese) dan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia, seperti 'dunia aceh' diterjemahkan 'dunia berantakan'. Lalu frasa lainnya 'tokoh Aceh' diterjemahkan 'sosok yang kasar'.

Bahkan, jika frasa 'anak Aceh' dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu diterjemahkan ke bahasa Inggris maka ditulis terjemahannya sebagai 'son of a bitch'.

"Itu terlihat seperti ada unsur kesengajaan dan bukan bagian dari terjemahan, tapi lebih kepada mendeskripsikan dan mendiskreditkan saya dan orang Aceh secara umumnya," ungkapnya.

Oleh karena itu, Haekal meminta kepada pihak perusahaan Google LLC atau pihak Google Indonesia untuk menghapus frasa-frasa tersebut. Khususnya terjemahan dari bahasa Jawa dan Melayu ke Bahasa Indonesia dan Inggris yang mengandung diskriminatif rasial sesegera mungkin.

Menurutnya, frasa yang dinilai rasis di tools Google translate itu telah melanggar Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial atau ICERD (International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination).

Ini juga sudah disahkan oleh Sidang Majelis Umum PBB Nomor 2106 (XX) pada 21 Desember 1965, serta telah diratifikasi oleh Republik Indonesia pada 25 Juni 1999.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kata Haekal, Forum Masyarakat Melayu dan Aceh juga menyatakan keberatan atas produk tersebut. Sejumlah pengertian dalam google translate telah merendahkan harkat dan martabat rakyat Aceh dan bangsa Melayu.

"Selambat-lambatnya 3x24 jam setelah surat protes ini sampai ke hadapan kantor tuan, yakni sejak Selasa, 15 November 2019. Apabila protes kami ini tidak tuan indahkan, maka kami akan mengambil tindakan lebih lanjut," tukasnya.

Haekal mengaku, bila dalam tenggat waktu itu tidak dihapus, dia bersama Forum Masyarakat Melayu dan Aceh akan menempuh jalur hukum atas dugaan rasisme tersebut.

Artikel Asli