Warga Badui Minta Wilayahnya Dihapus dari Kawasan Wisata, Ini 4 Faktanya

Merdeka.com Dipublikasikan 05.23, 08/07

                suku baduy. ©2013 Merdeka.com/Eko Prasetya
suku baduy. ©2013 Merdeka.com/Eko Prasetya

Kabar mengejutkan datang dari kawasan adat Badui di pedalaman Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pasalnya sesepuh adat setempat mengeluarkan mandat agar kawasan Badui luar dan dalam bisa dihapuskan sebagai destinasi wisata budaya.

Dilansir dari Liputan6, permohonan berupa mandat tersebut diketahui salah satunya akibat semakin tergerusnya kearifan lokal berbasis leluhur yang selama ini dipegang teguh oleh seluruh masyarakat adat di Badui.

Tersebarnya Aktivitas Sehari-hari Warga Badui Secara Luas

Menurut Jaro Saija, selaku sesepuh adat setempat mengungkapkan jika alasan masyarakat Badui ingin menghapus wilayahnya dari destinasi wisata Indonesia maupun dunia karena foto-foto maupun video aktivitas masyarakat Badui telah tersebar di dunia maya.

Bahkan di aplikasi Google Map, terdapat beberapa dokumentasi alam Badui di perkampungan Cikeusik, Cikertawarna, dan Cibeo. Ketiga wilayah tersebut notabenenya sebagai wilayah Badui Dalam yang terlarang untuk dikunjungi maupun diekspos.

Jaro juga menjelaskan jika di Badui sudah ada larangan yang selalu disampaikan untuk mendokumentasikan dan mempublikasikannya ke dunia luar. Namun masyarakat selalu mendokumentasikannya.

Meninggalkan Banyak Sampah

Selain itu alasan lainnya adalah banyaknya sampah-sampah yang ditinggalkan wisatawan luar ketika berkunjung ke kawasan Badui. Jaro menjelaskan jika seiring banyaknya wisatawan yang datang ke Badui, membuat sampah semakin menumpuk di dalam perkampungan.

Menurutnya hal tersebut akan merusak kelestarian alam desa setempat. Tentu hal itu juga akan berpengaruh negatif terhadap tatanan masyarakat adat di kawasan Kanekes tersebut.

Mengirimkan Mandat ke Presiden dan Cap Jempol dari Perwakilan Adat Badui

Perwakilan Adat Badui saat menandatangani mandat penghapusan kawasan palemburan Badui dari peta wisata Indonesia dan Dunia. Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Informasi terakhir yang didapat, Jaro Saija beserta beberapa perwakilan lembaga adat setempat telah mengutus empat orang, yakni Heru Nugroho sebagai pegiat internet, Henri Nurcahyo pegiat seni dan budaya, Anton Nugroho pegiat sosial dan lingkungan, dan Fajar Yugaswara pegiat seni, untuk mengirim surat terbuka ke Presiden Jokowi.

Surat tersebut berisi pesan agar wilayah adat Badui dihapus dari peta wisata Indonesia dan dunia. Bahkan perwakilan lembaga adat sudah memberikan cap jempol sebagai tanda pengesahan.

"Agar bapak presiden melalui perangkat birokrasinya, berkenan membuat dan menetapkan sebuah kebijakan, supaya wilayah adat Baduy tidak lagi dicantumkan sebagai lokasi objek wisata. Dengan kata lain, kami memohon agar pemerintah bisa menghapus wilayah Adat Badui dari peta wisata Indonesia," begitu bunyi petikan surat tersebut.

Meminta Presiden Menghukum Para Penyebar Dokumentasi di Badui

Saat dikonfirmasi oleh wartawan via telepon, Heru Nugroho menjelaskan bahwa isi surat tersebut merupakan pesan keresahan warga Badui terkait ekspos besar-besaran wilayahnya, dan meminta para pelanggar adat tersebut agar dihukum.

Selain itu menurutnya, warga setempat juga berupaya kembali menjaga tradisi adat turun-temurun mereka dengan menghapus kawasannya dari peta wisata.

"Agar bapak Presiden melalui lembaga birokrasinya, mengeluarkan peraturan untuk tidak mengizinkan pihak mana pun di seluruh dunia, membuat dan mempublikasikan citra gambar wilayah Badui, khususnya Badui Dalam, dari sudut mana pun, tanpa terkecuali. Terhadap pelanggaran ini, kami usulkan agar dapat dikenakan sanksi yang tegas," tulis lanjutan surat tersebut.

Artikel Asli