Wanita, Waspada Penggunaan Pantyliner yang Lama dan Rutin

Kompas.com Dipublikasikan 05.03, 17/11/2019 • Ellyvon Pranita
Dian Maharani
Pembalut dan pantyliner yang diuji kadar klorinnya oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

KOMPAS.com - Mungkin Anda adalah salah satu wanita yang terbiasa menggunakan pantyliner  (pembalut tipis) untuk menyiasati keputihan. Tapi tahukah Anda, terlalu sering menggunakan pantyliner juga tidak baik bagi daerah kewanitaan.
Disampaikan Dokter Obsteri dan Ginekologi Konsultan Fetomental RSCM, Dr dr Ali Sungkar SP OG-KFM, penggunaan pantyliner secara rutin tidak begitu dianjurkan.
"Keputihan pada wanita itu normal, tapi memang bisa jadi abnormal karena berbagai hal. Tapi kalau dengan itu jadi pakai pantyliner terus-terusan juga tidak bagus," kata Ali dalam acara bertajuk Upaya Pencegahan dan Tatalaksana Anak Prematur Agar Tumbuh Kembang Optimal, Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Apalagi, lanjut Ali, jika pantyliner dipakai seharian tanpa menggantinya dengan pantyliner baru.

Baca juga: Sering Keputihan, Waspadai Diabetes

Lantas apa pengaruhnya pantyliner bagi daerah V (vagina)?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ali menjelaskan bahwa sebenarnya daerah V juga membutuhkan bakteri.
"Pantyliner itu kan pelembap, jadi seperlunya aja kalau mau pakai. Tahu kan kalau luarnya itu plastik, sehingga buat orang nyaman karena enggak keluar (keputihan)," ujarnya.

Tetapi ternyata hal itu justru mempengaruhi organ V wanita, karena akan membuat organ V tersebut terus-terusan dalam keadaan lembap.
"Kalau dipakai lama jadinya kan lembab terus, tapi kalau sering-sering diganti atau juga seperlunya saja, akan ada pertukaran udara di situ," tuturnya.

Baca juga: Senang Makanan Manis Bikin Wanita Rentan Keputihan
Kelembapan yang terjadi di sekitar daerah V bisa menjadi tempat kuman jahat dapat tumbuh subur, yang bukan tidak mungkin dapat menjadi penyebab atau faktor risiko berbagai penyakit.
Mengenai berapa lama pemakaian pantyliner, kata Ali, hal itu tergantung kondisi orang yang bersangkutan. Setiap orang memiliki kondisi dan risiko keputihan berbeda-beda.
Meskipun demikian, diakui Ali, bahwa vagina tetap membutuhkan bakteri.
"Bakteri di vagina itu ada, namanya lactobacillus, tergolong bakteri yang baik. Bakteri ini membuat pH vagina lebih asam dan menjaga keseimbangan di daerah vagina," ujar dia.

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Sri Anindiati Nursastri

Artikel Asli