Wanita Alami Mimpi Buruk Berulang Usai Dioperasi Dalam Keadaan Sadar

Liputan6.com Diupdate 01.00, 14/12/2019 • Dipublikasikan 01.00, 14/12/2019 • Giovani Dio Prasasti
Ilustrasi ruang operasi (iStock)
Ilustrasi ruang operasi (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Seorang wanita di Inggris mengalami gangguan stres pasca trauma serta mimpi buruk yang kerap terjadi usai dirinya menjalani operasi dalam keadaan tersadar. Hal itu diketahui karena kesalahan tenaga medis saat melakukan prosedur operasi.

Yeovil District Hospital, tempat pasien tersebut dioperasi, mengakui mereka telah gagal dalam membius pasien dengan benar dan membuatnya harus dioperasi saat tersadar.

Dilansir dariThe Independent pada Jumat (13/12/2019), pasien tersebut diberi anestesi spinal ketika melakukan operasi ginekologis pada tahun lalu. Padahal seharusnya, mereka bisa menggunakan anestesi umum.

Ini membuat wanita 30 tahun itu masih tersadar ketika laparoskop (tabung kamera panjang) dimasukkan ke tubuhnya dan perutnya diisi dengan gas. Diketahui, para staf tidak mendengar dia berteriak saat perutnya dibuka karena mulutnya yang tertutup masker oksigen.

 

Kepercayaan Terhadap Dokter Hancur

Ilustrasi ruang operasi (iStock)

Irwan Mitchell, firma hukum pasien mengatakan bahwa peningatan tekanan darah telah membuat staf sadar akan rasa tidak nyamannya. Namun prosedur itu tetap dilanjutkan.

Pasien tersebut mengatakan bahwa usai operasi, dia mengalami gangguan stres pasca trauma serta mimpi buruk yang berulang.

"Saya melihat gambaran berbaring di meja dengan orang-orang melihat saya dan tidak mendengarkan teriakan saya. Itu mengerikan dan saya terbangun tiga kali dalam seminggu karena ini," kata pasien itu.

"Saya juga sangat gugup dan paranoid ketika berada di sekitar dokter. Kepercayaan saya baru saja hancur." Dia berharap, kejadian yang dialaminya bisa menjadi pelajaran agar tidak lagi terjadi pada orang lain di sekitarnya.

Pihak rumah sakit sendiri telah meminta maaf pada pasien atas kejadian yang dialaminya. Dikutip dari USA Today, juru bicara dari Yeovil Hospital mengatakan kemungkinan, gangguan komunikasi membuat penggunaan anestesi tidak sesuai dengan apa yang biasanya digunakan.

"Kami meminta maaf jika pasien menderita kesulitan sebagai akibatnya," kata juru bicara Yeovil Hospital.

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Artikel Asli