Waduh, Pembungkus Makanan Cepat Saji Ternyata Bisa Jadi Penyebab Kanker

Dreamers.id Dipublikasikan 07.15, 08/08 • Rie127
Waduh, Pembungkus Makanan Cepat Saji Ternyata Bisa Jadi Penyebab Kanker

DREAMERS.ID - Sebagian besar masayarakat pasti menganggap bahwa pembungkus yang digunakan untuk membungkus makanan telah teruji dan aman, terutama pembungkus pada makanan cepat saji.

Namun, sebuah penelitian terbaru yang digagas kelompok advokasi lingkungan Toxic-Free Future dan Mind the Store, menemukan bahwa plastik pembungkus makanan, seperti burger yang ada di restoran cepat saji  mengandung bahan kimia beracun yang bisa berbahaya untuk kesehatan. 

Laporan berjudul ‘Packaged in Polution: Are Food Chains Using PFAS in Packaging?’ ini dirilis pada Kamis (06/08). Penelitian tersebut menemukan bahan kimia perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl (PFAS) dalam kemasan yang biasanya digunakan untuk membungkus burger atau kentang goreng di restoran cepat saji.

Tidak hanya kertas plastik pembungkus, PFAS berkonsentrasi tinggi juga ditemukan di mangkuk atau wadah yang dianggap ‘ramah lingkungan’ yang digunakan oleh beberapa rantai kuliner di Amerika Serikat (AS).

PFAS sendiri merupakan zat kimia anti-air dan minyak yang banyak digunakan dalam berbagai produk konsumen, termasuk kemasan makanan cepat saji, wajan anti-lengket, dan beberapa lainnya.

Sifat dari PFAS ini tidak dapat terurai di lingkungan, bahkan Center for Disease and Prevention Control (CDC) AS telah mendefinisikan PFAS sebagai ‘masalah kesehatan masyarakat’.

Dilansir dari CNN, sejumlah bukti telah memperlihatkan PFAS berbahaya bagi tubuh. Beberapa penelitian selama dekade terakhir telah menemukan bahwa paparan PFAS dapat memicu sejumlah masalah kesehatan, di mulai dari kerusakan hati, gangguan kekebalan tubuh, gangguan endokrin, hingga kanker.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Diabetes and Endocrinology menemukan, ada bahan kimia tertentu yang dapat menganggu proses endokron dengan merusak air mani dan meningkatkan kanker prostat pada pria, kanker payudara, sindrom ovarium polikistik, dan endometriosis pada wanita. Bahan kimia itu ditemukan juga dalam PFAS.

Selain itu, laporan CDC AS pada 2015, juga pernah menemukan bahwa PFAS terdeteksi dalam darah 97 persen orang Amerika. Ahli mikrobiologi Linda Birnbaum mengatakan bahwa hasil penelitian ini harus diperhatikan oleh masyarakat.

“Mungkin itu (hasil penelitian) adalah sesuatu yang perlu konsumen pikirkan. Apakah lebih penting membungkus makanan dengan PFAS untuk mencegah minyak berlebih? Atau, apakah kita akan membiarkan minyak itu, tapi tidak perlu menggunakan kemasan mengandung PFAS?” ujar Birnbaum.

Sebagai akhir dari hasil penelitian tersebut, sejumlah restoran cepat saji menyatakan akan mulai mengurangi penggunaan kemasan yang mengandung PFAS dalam beberapa waktu mendatang.

Artikel Asli