Wacana ekspor bibit lobster, Susi: 8.000 ekor setara 2 motor Harley

Alinea.id Dipublikasikan 04.41, 15/12/2019 • Fandy Hutari
Wacana ekspor bibit lobster, Susi: 8.000 ekor setara 2 motor Harley
“Awal tahun 1990-an, lobster kecil tidak laku. Makin ke sini semua dibeli. Akhirnya, semua diambil,” ujar Susi.

Wacana Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tentang kemungkinan pemerintah akan membuka kembali keran ekspor benih lobster dengan kuota, mengundang polemik. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun dibuat geram. Melalui akun Twitternya, Susi berkomentar.

Menurut Susi, kurang lebih 8.000 ekor bibit lobster setara dengan dua sepeda motor Harley-Davidson atau 60 sepeda Brompton. Jika bibit lobster tidak diambil, kata dia, di laut menjadi besar dan nilainya bisa menjadi minimal 20 sepeda motor Harley-Davidson atau 600 sepeda Brompton.

“Tidak usah kasih makan, Tuhan yang memelihara. Manusia bersabar, menjaga pengambilannya. Tuhan lipatgandakan,” kata Susi melalui akun Twitternya, Sabtu (14/12).

Susi berkisah, ia mendapatkan informasi pengambilan bibit lobster pada 1995 di Lombok dan mulai menyebar ke daerah lain pada 2000-an. Sebelum tahun 2000, kata Susi, Indonesia ekspor ribuan ton lobster rebus ke Jepang.

“Setelah tahun 2000, banyak jual lobster hidup ke Hong Kong,” kata Susi.

Susi melanjutkan, seiring waktu harga lobster terus melonjak karena jumlahnya turun. Pasar Jepang kalah, sementara harga lobster hidup semakin mahal.

“Pengambilan bibit besar-besaran menyebar di wilayah selatan Jawa dan barat Sumatera. Nelayan dulu tiap musim lobster bisa dapat ratusan juta rupiah,” katanya.

Menurut Susi, sebelum ditunjuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, dirinya tidak tahu berkurangnya jumlah lobster dari ribuan ton menjadi hanya puluhan ton per musim panen.

“Awal tahun 1990-an, lobster kecil tidak laku. Makin ke sini semua dibeli. Akhirnya, semua diambil,” ujarnya.

Susi mengatakan, satu ekor bibir lobster mutiara dijual seharga Rp100.000 hingga Rp200.000. Bila sudah besar, satu ekor semisal 800 gram bisa dikalikan harganya menjadi Rp5 juta per kilogram.

“Maka, yang satu ekor tadi jadi Rp4 juta untuk 20 kalinya. Belajar hitung dulu, tapi pasti Vietnam lebih pintar dari kita,” tutur Susi.

Menurutnya, Vietnam budi daya hanya membesarkan, dan hanya dari Indonesia negara tetangga itu bisa mendapatkannya, melalui Singapura atau yang langsung.

“Negara lain yang punya bibit, tidak mau jual bibitnya, kecuali kita karena bodoh,” ujar Susi melalui akun Twitternya, Kamis (12/12).

Semasa memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi melarang ekspor benih lobster. Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri KKP Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah RI.

Beleid ini diterapkan supaya masyarakat bisa membesarkan lobster dahulu, sehingga nilai ekspornya lebih baik daripada hanya sekadar benih. Ekspor benih dikhawatirkan juga akan menguntungkan negara pengimpor.

Artikel Asli