WN Malaysia dan Singapura Mengeluh Hirup Kabut Asap Indonesia

CNN Indonesia Dipublikasikan 09.19, 16/09/2019 • CNN Indonesia

Indonesia kembali menjadi sorotan negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura, terkait kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan peningkatan titik api di Sumatera dan Kalimantan tahun ini.

Hampir setiap tahun, kabut asap karhutla di Kalimantan dan Sumatera ikut menyelimuti sebagian wilayah Singapura serta Malaysia sampai memicu protes dari kedua negara itu.

Salah satu warga Malaysia yang tinggal di Kuala Lumpur, Sofia Jalil, mengatakan pencemaran kabut asap kerap membuat dirinya frustasi karena terjadi hampir setiap tahun.

"Bagi saya, pencemaran asap menyebabkan sakit kepala yang konstan dari kabut asap tersebut. Saya juga melihat orang-orang yang lebih sensitif dari saya jatuh sakit atau kesulitan bernapas," kata Sofia kepada CNNIndonesia.com saat bercerita melalui pesan singkat, Senin (16/9).

Dia menuturkan akibat kabut asap karhutla, banyak sekolah di Malaysia harus diliburkan setiap tahun. Menurutnya ini merugikan para pelajar terutama ketika tengah menghadapi ujian.

Pencemaran kabut asap, menurut Sofia, juga membatasi dia dan warga Malaysia lainnya berada di luar ruangan terlalu lama.

"Ini (kabut asap) sangat merepotkan kami," kata salah satu pegawai di kantor media itu.

Ilustrasi kabut asap di Kuala Lumpur, Malaysia. (Mohd RASFAN / AFP)

Sofia menuturkan pemerintah Malaysia mengakui bahwa titik api tak hanya berasal dari Indonesia saja. Ia mengatakan kementerian lingkungan hidup Malaysia menuturkan turut mendeteksi sejumlah titik api di Negeri Jiran, terutama Sarawak.

"Menteri lingkungan hidup Malaysia telah mengatakan bahwa ada titik api di Malaysia, tetapi itu tidak menyebabkan pencemaran kabut asap parah yang sedang kita alami karena jumlah titik api kami lebih kecil jika dibandingkan dengan titik api di Indonesia," kata Sofia.

Sofia menyayangkan bahwa kedua negara belum bekerja sama secara maksimal dan efektif untuk menangani kasus pencemaran kabut asap ini. Menurutnya, Jakarta dan Kuala Lumpur bisa saling bertukar informasi dan teknologi untuk menangani masalah ini.

"Pemerintah Indonesia juga mungkin bisa menerapkan hukum yang lebih ketat lagi terkait kebakaran hutan atau menemukan metode yang lebih ramah lingkungan untuk mengganti metode penebangan dan pembakaran hutan untuk membuka lahan," ucap Sofia.

Senada dengan Sofia, seorang warga Singapura bernama Nur Hafizah mengaku turut terkena terdampak asap karhutla Indonesia setiap tahun.

Setiap musim kemarau, kabut asap kebakaran hutan yang meluas kerap mencemari sebagian wilayah Singapura. Beberapa hari terakhir, Nur mengaku harus menggunakan masker akibat kualitas udara semakin memburuk.

Selain mempengaruhi pernapasan, Nur mengatakan kabut asap juga membuat jarak pandang semakin pendek. Ia juga menuturkan tidak bisa melihat langit berwarna biru selama beberapa hari terakhir.

"Saya harus memakai masker karena kualitas udara sangat buruk. Kami bisa mencium bau asap setiap bernapas. Biasanya ketika di kantor, saya bisa melihat gedung-gedung di seberang tetapi karena kabut asap jadi tidak terlihat," kata Nur.

Nur mengatakan wilayah barat Singapura menjadi yang paling terdampak kabut asap. Meski begitu, hingga kini otoritas Singapura juga belum menerbitkan peringatan apa-apa terkait hal itu.

Selain itu, perkantoran dan sekolah juga masih beroperasi seperti biasa.

"Meski begitu, secara umum kualitas udara sudah lebih baik hari ini. Pihak berwenang mengimbau kami untuk lebih banyak minum air dan menetap di dalam ruangan jika tidak memiliki kepentingan beraktivitas di luar. Pihak berwenang baru merencanakan akan menutup sekolah jika kualitas udara semakin memburuk," papar Nur.

Artikel Asli