Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Miss B: (Part 90) Tetangga Kaya(k) Apa?

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 07/01 • Fira Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki
Ilustrasi by Rendy Basuki

Tetanggaku, BS, ternyata masih eksis. Bahkan kehadirannya membuatku pusing delapan keliling. Delapan, karena itu kata Bunny.

 "Mbak B … BURU!' teriak Bunny melihat aku muncul di depan pintu bareng Matt.

 "Ada apa sih?" sahutku judes.

 "Ini, ini, ada kiriman kotak dari Si Bart, tetangga," jawab Bunny mengangkat kotak berwarna merah dengan pita warna yang sama.

 "Bart Simpson?" ujar Matt geli.

 Aku menyikut Matt. "Itu secret admirer, B?" tambah Matt dengan santai.

 Aku mengangkat bahu. "Gak tahu. Aneh emang orangnya," jawabku tak kalah santai.

 "Woi! Buka dong! Aku itu penasaran dari tadi. Kan Pak Padmo titipin ke aku. Aku pengen tahu banget isinya!" seru Bunny.

 Aku geleng-geleng. "Paling juga barang-barang promosi. Dia ‘kan orang marketing atau apa gitu, selain pelukis," ujarku.

 "Kamu tuh samain semua orang kayak di majalah, dapat upeti dari klien, B," kata Matt.

 "Aku mandi dulu," kataku pada Bunny.

 "Jangan dong! Aku penasaran!" seru Bunny dengan wajah serius. "Please!" tambahnya.

 "Kira-kira isinya apa, ya?" tanya Matt.

 "Kotak panjang gitu sih, aku bisa tebak … tapi masa iya?" kata Bunny jawab sendiri, tanya sendiri.

 Aku jadi geli. Akhirnya aku meletakkan tas di kursi meja makan, lalu duduk di sebelah Bunny. Matt duduk di depanku. Bunny menyerahkan kotak itu. Di dekat pita marah, hanya ada tulisan: Beauty Ayu, di bawahnya tertulis BS.

 "Nama orang kok inisialnya BS, kayak b*lls**t aja," ujar Matt geleng-geleng.

 "Bart Santoso. Ya bukan salah dia, dia ‘kan dikasih nama sama ortunya," kataku.

 "Cie, belain," ujar Matt dengan nada seperti menyindir.

 Aku menggoyang-goyang kado itu. Sengaja berlama-lama, agar Bunny tambah penasaran.

 "Mbak B! Aduh! Kalo isinya barang elektronik udah modyar!" seru Bunny kesal.

 "Hahaha, barang elektronik apaan sekecil ini?" kataku.

 "Itu ketebak kotak panjang. HP kali," jawab Matt enteng.

 Bunny membelalak. "OMG! Bener, itu HP! Jangan-jangan … HP gambar apel terbaru!" teriak Bunny terlalu lebay.

 Aku menarik napas. "Mana ada tetangga ngasih tetangganya HP terbaru yang harganya puluhan juta?" tanyaku pada Bunny.

 Bunny mengangkat bahu. "Setahuku belum ada. Kecuali dua hal, dia terlalu kaya, atau tetangga itu punya modus!"

 "Modus apaan?" tanyaku polos.

 "Modus deketin kamulah!" jawab Matt gusar. "Awas aja kalau benar isinya HP, aku datengin itu BS!" kata Matt mulai emosi.

 "Aku gak bakalan buka kado ini, sampai kalian berdua tenang. Matt, janji dulu, kamu gak akan datangin BS! Bunny, janji kamu gak usah teriak-teriak lebay!" kataku bak seorang ibu pada dua anak laki-lakinya.

 Matt dan Bunny saling memandang. Aku pura-pura memandang ke arah balkoni. Lalu ke arah balkoni tetangga. Hmmm, tumben BS gak olahraga di balkoni? Oiya, ini sudah sore, biasanya pagi. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

 "Woi! Bangun dari mimpi, woi! Buruan buka! Kalau HP, daripada gak mau, untuk aku aja," kata Bunny.

 "Kamu itu seenaknya! Kalau HP, ya balikinlah! Emangnya tunanganku harganya sama dengan HP?" kata Matt melotot.

 Bunny melenguh.

 Aku geleng-geleng. "Sudah, sudah. Coba aku buka, habis gitu baru kita putuskan," jawabku.

 Aku buka dengan pelan-pelan. Sampai-sampai Bunny bergaya menggigit kuku. Aku mulai berdebar-debar, masalahnya dengan ujung kotak berwarna putih, jangan-jangan …

 Akhirnya aku sampai juga membuka semuanya dan … kami bertiga terdiam. Benar kata Bunny. Kotak berplastik itu bergambar telepon genggam bergambar apel terbaru. Kami saling berpandangan.

 Akhirnya setelah ada jeda dan waktu diam, Matt berdiri menghampiriku dan mengambil kotak itu. "Aku gak terima! Aku mau balikin!" teriaknya membahana.

 Bunny menutup mata. "Itu telepon genggam impianku. Kalau kalian gak mau, kenapa gak disumbangkan ke aku? Aku anak yatim piatu, lo," kata Bunny lirih.

 Aku melotot ke arah Bunny. Tampak wajah Bunny benaran sedih. "Setidaknya buka dulu, pengan tahu warnanya rose gold-kah, sierra blue-kah, atau apa …”

 Aku menggeleng. Matt tampak geram. Aku membiarkan Matt mengambil kotak tadi, lalu ke arah pintu. Aku dan Bunny saling berpandangan dan menyusul Matt yang kalap. Benar saja, Matt mengetuk pintu dengan menggebu-gebu. Seakan bersiap akan mendobrak pintu itu.

 TOK! TOK! TOKKKKK!

 Tidak ada jawaban. Bunny dengan ragu-ragu memencet bel di ujung pintu. Matt terlalu emosi sampai tidak bisa melihat bel tadi.

 TING TONG! TING TONG!

 Tidak ada jawaban juga.

 "Belum pulangkah? Mungkin masnya kerjaannya banyak," ujar Bunny ragu-ragu sambil melihat Matt.

 TING TONG! TING TONG! TING TONG!

 Berkali-kali. Sampai-sampai, tetangga sebelah BS membuka pintu menyangka belnya yang berdering. Seorang pria muda berambut cepak melotot ke arah kami bertiga. Setelah ia melihat kami berdiri di depan apartemen BS ia mengangkat tangan kanannya dan kemudian memberikan jari tengah.

 Aku berbisik lembut ke telinga Matt, "Sayang, kita balik saja nanti, ya. Takut tetangga lain terganggu."

 Matt memandangku. Aku tadi sudah berusaha keras memilih kata-kata yang menurutku tak bakal membuatnya murka. Kalau aku bilang jangan ke apartemen BS kan pasti Matt makin menyangka aku membela BS.

 Akhirnya Matt mengangguk. Aku dan Bunny mengikuti Matt kembali ke apartemenku dengan lunglai.

 "Aku harus kembalikan HP ini! Aku harus ketemu Si BS itu!" ujar Matt sambil mengepalkan kedua tangannya.

 Aku dan Bunny saling memandang dan ketakutan. Begitu sampai apartemen, Bunny langsung berlari kecil ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

 "Apa?" tanya Matt ke arahku seakan aku diancam tak boleh bersuara.

 Baiklah.

*

Nantikan kisah lanjutan Miss B hanya di LINE TODAY pada tanggal 15 Januari 2022!

***

Tentang Penulis

Fira Basuki adalah penulis senior Indonesia yang produktif (34 buku). Kisah hidupnya yang ditulis di buku “Fira dan Hafez” (Grasindo, 2013) diangkat menjadi film “Cinta Selamanya” yang diproduksi Demi Istri Production dan Kaninga Pictures (2015), disutradarai Fajar Nugros dan dibintangi Atiqah Hasiholan sebagai Fira dan Rio Dewanto sebagai Hafez, almarhum suaminya.

Fira menghidupkan kembali fiksi seri Miss B, terbitan Grasindo yang sempat populer dan menjadi best sellers beberapa tahun silam. Miss B menceritakan kisah hidup dan keseruan cewek milenial bernama Beauty Ayu Pangestu yang akrab dipanggil Miss B. Ia tinggal di apartemen bersama Bunny dan Q serta Cantik, kucingnya.