Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Obsesi (Saat Cinta Mulai Menggila) episode 4

a story by Gitta Anggraita from JOYLADA | source picture : pixabay.com

Seminggu berlalu, pencarian atas hilangnya Tami belum juga terselesaikan. Polisi yang dilibatkan juga mengalami kesulitan karena kurangnya bukti. Hingga saat ini pun perampok yang sedang mencuri perhatian publik masih menjadi buronan.

“Bagaimana keadaan anak kita, Pa?” tanya mama Tami.

“Belum ada kabar, Ma.” Papa Tami merangkul istrinya yang sedang terisak di sofa. “Ma, apa perlu papa cari ke seluruh kota ini seorang diri? Papa bisa gunakan sepeda motor lalu buat poster yang diikat di tiang di belakang motor. Bagaimanapun juga Tami anak gadis kecil kita.”

“Tidak usah sampai seperti itu, Pa. Kita buat selebaran pencarian orang hilang saja. Barangkali ada yang melihat bisa hubungi kita,” usul mama Tami.

“Perampok itu pasti yang mencuri anak kita karena sering meliput mereka. Kejadian ini kan sering terjadi di kota tempat kita tinggal. Kalau kita buat selebaran, mereka pasti semakin menahan Tami.”

Di ruang tamu itu hanya ada papa, mama, dan Elena. Semua anggota keluarga yang tadinya akan hadir di acara pertunangan Tami dan Barra harus pulang ke kotanya masing-masing karena urusan mereka. Berulang kali orangtua tami meminta maaf atas kejadian ini kepada orangtua Barra. Namun, tidak ada yang bisa berbuat apa-apa.

“Apa bedanya, Pa? Papa kan juga mau buat poster.” Elena bertanya dengan nada yang cukup serius.

“Kalau poster ittu kan kemungkinan kecil dilihat oleh para perampok itu. Papa kan sambil mengendarai motor,” jawab papa penuh keyakinan.

Rasa sedih begitu dalam bagi papa ketika anak gadis kesayangannya kini hilang tanpa kabar. Kurang rasanya jika papa harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan sesuatu apa pun. Baru teringat pula bahwa Tami sedang memiliki penyakit maag yang cukup akut.

“Tami pasti kumat maagnya kalau dalam kondisi sedih dan telat makan,” ucap papa melanjutkan.

Satu jam berlalu berdiskusi atas apa yang akan papa lakukan. Tak lama papa nekat melakukan apa yang telah direncanakan. Motor Harley koleksi papa yang sudah lama tidak digunakan segera dikeluarkan dari garasi rumah. Rencananya papa akan menaruhnya di bengkel terlebih dulu agar perjalanan berjalan lancar. Sementara itu, Barra menuruti kemauan papa untuk membuat poster berukuran besar yang tergambar foto Tami serta nomer telepon yang bisa dihubungi.

“Papa yakin?” tanya Barra.

“Yakin, Nak Barra. Papa nggak bisa berdiam diri saja seperti ini,” jawab papa Tami.

“Poster baru bisa jadi besok siang ya, Pa.”

Papa mengangguk lalu duduk di depan teras menatap kosong langit sore. Dalam ingatannya muncul kenangan bersama Tami di perkarangan rumah. Mereka sering bercocok tanam dan bersepeda bersama pada pagi hari. Ia tak menyangka gadis kecilnya sedang tidak bersama dirinya. Padahal papa rela melepas Tami bersama Barra bukan bersama orang yang tidak tahu asal usulnya seperti sekarang.

“Elena hanya berdoa semoga papa selalu dalam keadaan sehat. Mama sama Elena sudah tidak bisa melarang papa untuk hal seperti ini,” kata Elena yang muncul dari balik pintu.

“Iya yang terpenting sekarang hanya lah doa sedangkan ikhtiar yang sedang papa usahakan. Oh iya, papa sekarang ke bengkel ya takut tutup.”

“Pa, besok pagi saja.Service motor pasti lama,” ujar Elena menatap nanar sang papa.

Kurang lebih sepuluh menit baru papa setuju dengan ucapan Elena. Mereka pun masuk ke dalam runah dan melaksanakan sholat Ashar berjama’ah.

***

Sore itu Eron ingin mengajak Tami keluar rumah hanya untuk membeli makan di sebuah pusat perbelanjaan. Eron menyuruh Tami mengenakan jaket serta topi dan masker agar tidak ada yang mengenalinya.

“Nah, gitu dong, tetap cantik, kok!” seru Eron.

Tubuh Tami terlihat semakin kurus. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan semenjak pertama kali diculik Eron. Ia tidak selera makan dan batinnya tersiksa. Lalu, suasana baru yang ditawarkan Eron menjadi sesuatu yang setidaknya membuat Tami bisa melepas penat.

“Kita mau ke mana?” tanya Tami.

“Nanti kamu juga tahu. Tempatnya bisa buat hatimu senang, Tam,” jawab Eron.

Kemudian Eron menggandeng Tami dengan paksa. Sambil jalan mengikuti Eron, Tami melihat sekitar rumah. Retinanya menangkap informasi mengenai setiap sudut rumah. Ia berharap bisa kabur di waktu yang tepat.

Saat hampir sampai mobil, Tami menatap seseorang yang lewat di rumahnya. Tatapan seseorang itu menelik. Penuh rasa kecurigaan dalam benaknya.

“Mas Eron!” sapa nenek Jum tetangga sebelah rumah yang baru keluar rumahnya dan mengunci gerbang.

“Eh, Nenek. Mau ke mana?”

“Biasa lah, mau ke rumah anaknya Nenek. Itu siapa yang sedang di sampingmu?”

Sekuat tenaga Tami mencoba mengedipkan matanya kepada Nenek Jum tapi usahanya lagi-lagi percuma. Topi dan masker yang Tami kenakan membuat nenek kesulitan membaca kode yang diberikan Tami. Raut muka Tami tidak begitu bisa dimengerti.

“Sepupu Saya, Nek. Oh iya, Nek. Hati-hati, ya!”

“Iya, Eron. Hati-hati juga untukmu.”

Tami dan Eron sudah berada di mobil. Posisi duduk Tami di kursi belakang dan membungkukkan badannya. Sedikit saja Tami mengganti posisinya, Eron tidak segan-segan membentak dan menakuti Tami.

Mereka mulai menuju pusat perbelanjaan termewah di kota. Tempat itu sering dikunjungi Tami bersama Barra. Walaupun Tami tidak begitu menanggapi Barra tapi tempat yang saat ini dikunjungi menjadi tempat yang Tami harapkan bisa bertemu dengan Barra.

“Ayo turun! Ingat yang aku pesan tadi di mobil. Jangan coba-coba cari simpatik orang lain. Aku nggak akan segan-segan membuatmu tersiksa nantinya. Belum pernah kan kamu rasakan? Makanya jangan coba-coba,” hardik Eron saat turun dari mobil.

“I-iya.”

Tempat yang pertama mereka kunjungi adalah supermarket yang letaknya paling bawah. Eron berniat berbelanja kebutuhan sebulan agar tidak perlu keluar lagi. Sesampainya di supermarket, Eron mengambil troli berukuran besar sedangkan Tami mengikuti di belakangnya.

“Ikuti aku di belakang. Jangan ke mana-mana!”

“Kamu tenang aja, Eron. Aku selalu ada di sampingmu,” ucap Tami.

Sel-sel saraf di kepala Tami cukup menegang. Ia berusaha mencoba untuk mengalihkan perhatian Eron yang terpusat pada perasaannya pada Tami. Rencana kabur Tami harus tersusun rapi tidak boleh dicurigai Eron sedikit pun.

Saat Eron mulai merasa tenang, terlintas dalam benak Tami untuk melakukan sesuatu.

“Aku kebelet, nih. Ke kamar mandi dulu, ya?”

“Nggak bisa ditahan apa?”

“Jadi penyakit tahu kalau ditahan-tahan gitu.”

“Yaudah deh, aku ikut ya!”

“Iya,” ucap Tami pasrah.

Tak lama mereka pun ke kamar mandi yang ada di dalam supermarket. Eron menunggu Tami tepat di depan kamar mandi sehingga membuat Tami kesulitan menjalankan aksinya. Kamar mandi itu terdiri dari beberapa toilet di dalamnya. Tiba-tiba seseorang masuk ke kamar mandi sedangkan Tami yang berada di dalam langsung mencoba meminta bantuan.

“Aku diculik. Bisa kah kamu membantuku?” tanya Tami.

Sayangnya orang itu hanya berdiam saja lalu mengangkat bahunya dan masuk ke dalam toilet. Tami masih sabar menunggu orang itu keluar. Harapan Tami hanya pada orang itu. Lima menit pun berlalu, orang itu keluar dari dalam toilet. Tami segera menghampirinya tapi ternyata orang itu penyandang tuna rungu. Ia mencoba menjelaskan menggunakan bahasa isyarat pada Tami.

“Hm, gagal, deh,” batin Tami.

“Tami?” Suara Eron menggema dari luar. Ia menyondongkan tubuhnya ke dalam kamar mandi wanita. Matanya mencari sosok Tami.

“Iya. Ini baru saja selesai. Perutku mules tadi.” Tami terpaksa berdusta.

Tami akhirnya keluar kamar mandi dengan perasaan sedih. Usahanya gagal untuk kedua kalinya. Hampir saja ia menampakkan kesedihannya.

 

To be continued…

 

***

 

Akankah Tami bisa melarikan diri di kesempatan selanjutnya? Cari tahu jawabannya di episode selanjutnya!

 

***

 

Penulis bernama lengkap Gitta Chintyami Anggraita yang lahir di Madiun tanggal 30 September 1990. Terjun ke dunia kepenulisan sejak September 2021. Nama pena penulis adalah Gitta Anggraita. Gitta pernah mengemban pendidikan S1 Manajemen Bisnis di Institut Manajemen Telkom angkatan tahun 2008. Saat ini status Gitta sebagai ibu rumah tangga. Terakhir Gitta bekerja di Gramedia sebagai buyer selama dua tahun. Gitta merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua asli jawa timur. Saat ini Gitta tinggal di Bekasi bersama suami. Baca cerita Gitta hanya di Joylada dan LINE Today!

Artikel Asli