Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

AS Kirim Paket Senjata hingga Roket ke Ukraina untuk Lawan Rusia

Ilustrasi. Amerika Serikat mengirimkan gelombang baru bantuan militer ke Ukraina senilai US$450 juta dalam bentuk paket senjata. (Foto: US Marines via Reuters)
Ilustrasi. Amerika Serikat mengirimkan gelombang baru bantuan militer ke Ukraina senilai US$450 juta dalam bentuk paket senjata. (Foto: US Marines via Reuters)

Amerika Serikat mengirimkan gelombang baru bantuan militer ke Ukraina. Gedung Putih mengatakan pengiriman senilai US$450 juta itu dalam bentuk paket senjata, termasuk sistem roket, untuk melawan pasukan invasi Rusia.

"Paket ini berisi senjata dan peralatan, termasuk sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi yang baru," kata juru bicara Gedung Putih John Kirby dikutip dari AFP, Jumat (24/6).

AS juga mengirim puluhan ribu butir amunisi artileri dan kapal patroli, dalam paket senjata tersebut.

Sistem roket yang dikenal sebagai HIMARS berada di urutan teratas daftar keinginan Ukraina saat negara pro-Barat memerangi pasukan invasi Rusia yang maju melalui timur negara itu, dengan bantuan keuntungan signifikan dalam artileri berat.

Empat unit awal sistem roket telah dikirimkan. Pengiriman ini untuk memulai program pelatihan yang diperlukan bagi tentara Ukraina dalam mengoperasikan persenjataan yang canggih dan sangat akurat.

Kirby mengatakan dengan pengiriman terbaru, kontribusi AS untuk militer Ukraina sejauh ini akan mencapai $6,1 miliar.

Sejak invasi berlangsung selama empat bulan lalu, Rusia kini semakin beringas menggempur wilayah timur Ukraina, terutama Donbas.

Kepala Administrasi Militer Wilayah Donetsk Ukraina, Pavlo Kyrylenko mengatakan pasukannya kini hanya menguasai 45 persen wilayah tersebut. Itu berarti pasukan Rusia menguasai mayoritas wilayah Donetsk.

"Pasukan Ukraina menguasai sekitar 45 persen wilayah Donetsk, yang mana pertempuran sedang berlangsung," kata Kyrylenko, pada Rabu (22/6) dikutip CNN.

Kyrylenko mengatakan 55 persen wilayah yang dikuasai Rusia benar-benar hancur.

Artikel Asli