Virus corona sengaja disebarkan dokter-apoteker Indonesia? Cek faktanya

antaranews.com Diupdate 18.30, 13/08 • Dipublikasikan 18.30, 13/08 • Tim JACX
Virus corona sengaja disebarkan dokter-apoteker Indonesia? Cek faktanya
Pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Jumar (3/4/2020). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/pras.

Jakarta (ANTARA/JACX) - Pemilik akun Instagram @ayoe2146, pada Rabu (12/8), terlihat membagikan komentar di salah satu konten akun @antaranewscom yang berjudul "UJI KLINIS FASE III VAKSIN SINOVAC RESMI DIMULAI".

Dalam unggahan komentar itu, akun @ayoe2146 menyebutkan virus corona baru penyebab COVID-19, yang hingga Kamis (13/8) telah menyerang 132.816 orang di Indonesia, sengaja disebarkan oleh tiga serangkai, yakni dokter, tenaga kesehatan, dan apoteker.

Para pekerja di bidang medis itu, menurut pemilik akun tersebut, memperluas penyebaran COVID-19 di Tanah Air untuk mendapatkan uang dari hasil penjualan vaksin. Motif itulah yang menjadi penyebab virus corona baru tidak mereda di Indonesia sampai saat ini.

Berikut sepenggal narasi yang diunggah akun Instagram @ayoe2146:

"IBARAT PETANI MEREKA MENEBAR BENIH VIRUS CORONA DI TAHUN 2020 DAN MENUAI HASILNYA DGN MENJUAL VAKSIN DI TAHUN 2021. ITULAH RENCANA BUSUK IKATAN DOKTER DAN IKATAN APOTEKER INDONESIA".

Namun, benarkah virus corona di Indonesia tidak mereda agar dokter-apoteker demi mendapatkan uang dari penjualan vaksin?

Penjelasan:
Antara, melalui mesin pencari berita, mencoba menelusuri kasus-kasus penyebaran virus corona di Indonesia, yang sengaja dilakukan pekerja medis. Hasilnya, tidak ada satu pun rujukan yang menunjukkan dokter, tenaga kesehatan, dan apoteker di Tanah Air terlibat dalam kasus penyebaran COVID-19.

Sebaliknya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sudah ada 74 dokter meninggal akibat terinfeksi virus corona maupun berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yang kini disebut kasus suspek, sejak April hingga awal Agustus 2020, mengacu berita katadata.co.id pada 8 Agustus 2020.

Dari fakta tersebut, dapat diketahui uang bukanlah menjadi keuntungan bagi dokter maupun tenaga kesehatan lainnya pada masa pandemi COVID-19. Sebaliknya, kematian dan penularan virus corona baru dari pasien manjadi ancaman terbesar bagi para pekerja medis.

Lantas, mengapa kasus positif corona di Indonesia tak kunjung mereda?

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menjelaskan Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap penyebaran virus corona baru (SARS-CoV-2), penyebab COVID-19, sebagaimana dituliskan Kompas.com pada 11 Mei 2020.

Salah satu alasannya, menurut Pandu, karena jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 268 juta jiwa (berdasarkan data 2020). Logikanya, semakin besar jumlah penduduk suatu negara, semakin besar pula potensi transmisi virus di negara itu.

Selanjutnya, populasi yang bepergian atau meninggalkan rumah untuk berbagai kegiatan menurut data 2019, mencapai 28,2 persen. Dalam perjalanan, peluang untuk bertemu dengan banyak orang menjadi semakin tinggi, demikian Pandu.

WHO mencatat COVID-19 dapat menyebar terutama dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar, saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Dengan demikian, semakin banyak bertemu orang, maka peluang tertular COVID-19 juga meningkat. Apalagi, jika tidak menggunakan masker atau penutup mulut dan hidung.

Pandu juga menerangkan jumlah populasi di Indonesia, yang tidak menerapkan praktik cuci tangan dengan benar masih tinggi, yakni mencapai 50,2 persen (berdasarkan data riset kesehatan dasar 2018). Padahal, tangan menjadi salah satu perantara utama penyebaran virus COVID-19.

Dari penjelasan itu, dapat disimpulkan akun Instagram @ayoe2146, telah memuat narasi rekayasa, tanpa disertai dengan bukti valid.

Klaim: Virus corona sengaja disebarkan dokter-apoteker Indonesia demi mendapatkan uang penjualan vaksin
Rating: Salah/Disinformasi

Cek Fakta: Korban meninggal akibat COVID-19 di dunia mencapai 1,6 juta jiwa?

Baca juga: Hoaks jadi salah satu tantangan saat pandemi

Artikel Asli