Virus Corona: Korban Tewas Kian Melonjak, Diklaim Sembuh Bertambah

kumparan Dipublikasikan 00.50, 29/01/2020 • Marcia Audita
Suasana di Rumah Sakit Wuhan, China yang merawat pasien terjangkit virus corona. Foto: THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO /via REUTERS

Penyebaran virus corona baru n-CoV 2019 tak bisa dianggap sepele. Virus mematikan asal Wuhan, Provinsi Hubei, China ini telah menjangkiti lebih dari 5.000 orang di berbagai negara, melumpuhkan aktivitas hingga sarana transportasi di Wuhan dan sejumlah kota di China.

Per Rabu (29/1), Reuters melaporkan korban meninggal dunia mencapai 132 orang. Angka ini tentu bisa dibilang melonjak dari laporan sebelumnya yang tercatat 106 orang.

Meski begitu, pemerintah dan media China juga mengklaim pasien sembuh terus bertambah. Selasa (28/1), Kedutaan Besar China melaporkan ada 60 orang yang berhasil melawan virus corona.

"Ada 60 pasien yang berhasil disembuhkan dan telah pulih. Rumah sakit mengonfirmasi mereka sudah pulih sepenuhnya, tidak terjangkit virus lagi. Mereka diizinkan pulang," ujar Kepala Humas Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Huang Hui, saat dihubungi kumparan.

Petugas mengenakan pakaian pelindung mendisinfeksi area perumahan di Ruichang di sebelah provinsi Hubei. Foto: STR / AFP
Foto udara di kawasan perumahan dan komersial Wuhan di provinsi Hubei. Foto: Hector Retamal / AFP

kumparan juga merujuk data John Hopkins University yang memperbarui data virus corona secara berkala. Hingga Rabu (29/1) pukul 04.54 WIB, Hopkins mencatat sudah ada 107 orang sembuh, sementara 5.578 orang lainnya terinfeksi virus yang menyerang imun dan saluran pernapasan itu.

Tak disebutkan obat dan penanganannya

Sayangnya, China belum menjelaskan secara rinci bagaimana puluhan pasien tersebut bisa sembuh. Termasuk mengungkapkan penanganannya, obat dan vaksin apa yang dipakai, atau hanya sekadar memperkuat imun tubuh hingga antibodi berhasil melawan virus.

Media China, Xinhua, hanya menyebutkan pasien virus corona telah sembuh dan diizinkan pulang dari rumah sakit setelah dirawat intensif. Yakni pasien asal Provinsi Jiangxi, China Timur, pasien asal Xingan yang sembuh setelah dipindahkan RS Universitas Nanchang dalam kondisi kritis.

Begitu pun di Provinsi Shandong, yang tercatat ada pasien pria berusia 37 tahun telah sembuh dan siap pulang dari RS.

Pasalnya, hingga kini, obat atau vaksin khusus virus corona belum ditemukan. Selama ini, sejumlah rumah sakit di Beijing memberikan obat anti-HIV untuk pasien.

“Desas-desus online mengatakan bahwa obat anti-AIDS telah digunakan dan terbukti efektif dalam mengobati virus corona,” tulis Komisi Kesehatan Kota Beijing dalam sebuah pernyataan, dikutip dari South China Morning Post.

“Komisi Kesehatan Nasional telah merekomendasikan obat-obatan seperti yang dirumorkan untuk mengobati virus corona sebelumnya, dan kami memiliki stok Lopinavir/Ritonavir di Beijing.”

Jenis obat tersebut masuk dalam golongan antiretroviral yang menghambat kemampuan HIV untuk berikatan dengan sel yang sehat. Kendati begitu, ilmuwan menilai kombinasi Lopinavir dan Ritonavir untuk pasien HIV belum efektif menyembuhkan pasien virus corona.

Tim medis Rumah Sakit Wuhan, China berfoto di sela-sela merawat pasien terjangkit virus corona. Foto: THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO /via REUTERS
Aktivitas tim medis Rumah Sakit Wuhan, China saat merawat pasien terjangkit virus corona. Foto: THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO /via REUTERS
Suasana di Rumah Sakit Wuhan, China yang merawat pasien terjangkit virus corona. Foto: THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO /via REUTERS

Cara China atasi virus 'iblis'

Saat menemui Kepala World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Presiden China Xi Jinping memastikan pihaknya segera menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

"Virus itu (corona) iblis dan kita tidak bisa membiarkan iblis bersembunyi," tulis Reuters yang mengutip pernyataan televisi pemerintah yang mengutip Xi, Selasa (28/1).

Sebab, petugas medis di Wuhan mengaku kewalahan dan mengalami banyak tekanan. Kepada CNN dan Voice of America, sejumlah petugas mengaku kekurangan tenaga medis, kekurangan masker, jas pelindung, dan pembersih tangan padahal terpapar lanngsung dengan pasien corona level kritis.

Staf medis di Rumah Sakit Jinyintan, tempat pasien virus corona di Wuhan, China Foto: REUTERS/Stringer
Petugas medis membawa seorang pasien yang diduga terkena virus Wuhan ke rumah sakit Jinyintan, China. Foto: AFP/STR

China mengklaim telah mengerahkan lebih dari 6.000 petugas medis tambahan dan 450 anggota militer sebagai bala bantuan. China juga kini tengah membangun dua RS khusus virus corona baru yang ditargetkan selesai dalam waktu kurang dari dua minggu.

RS pertama, Huoshenshan Hospital, sudah dibangun sejak 23 Januari dan harus selesai dalam waktu 10 hari. Huoshenshan ditargetkan bisa digunakan pada 3 Februari mendatang.

Huoshenshan Hospital dibangun menggunakan bahan jadi atau prefabricated material. Panel-panel dinding, jendela, hingga atap sudah dibuat sebelumnya sehingga tinggal dirakit.

Rumah Sakit kedua, Leishenshan Hosputal, juga telah dibangun. RS yang berada di Distrik Jiangxia, Wuhan, ini ditargetkan rampung 5 Februari.

Rumah sakit ini berkapasitas 1.500 tempat tidur bagi pasien virus corona. Saat ini, puluhan alat berat telah dikerahkan untuk membangun Rumah Sakit Leishenshan.

Bagaimana Indonesia?

Menkopolhukam Mahfud MD menyebut saat ini Indonesia belum bisa dibilang darurat virus corona. Bahkan Kementerian Luar Negeri belum mengeluarkan larangan perjalanan atau travel warning warga RI ke China.

Menkopolhukam Mahfud MD di acara diskusi “harapan baru dunia Islam” meneguhkan hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Penerbangan ke China juga hanya ditutup untuk rute Wuhan, lokasi paling parah dan paling pertama penyebaran virus. Terlebih, belum ada warga di Indonesia yang dinyatakan positif virus corona.

Menkes Terawan Agus Putranto mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah mengambil kesimpulan hanya karena melihat salah satu tanda.

"Apa sih gejalanya, mulai batuk. Lah kalau saya batuk terus kamu anggap itu gimana, bukan hanya batuk saja, harus demam. Bukan hanya demam, harus sesak napas, dan ada lagi, habis perjalanan atau memang kontak dengan orang yang berpenyakit seperti itu," kata Terawan usai menghadiri rakor terkait virus corona di Kemenhub, Jakarta Pusat, Senin (27/1).

"Jadi kalau tiga hal saja ada, tapi hal kontak di daerahnya tidak ada, ya jangan kamu dikit-dikit dikatakan semua dari virus Wuhan atau corona," sambungnya.

Petugas medis menggunakan handphone yang terbungkus plastik di Wuhan di Provinsi Hubei, China. Foto: Chinatopix via AP
Suasana pembangunan rumah sakit untuk penderita corona di Wuhan, China. Foto: APF/STR

Jenderal bintang tiga TNI AD itu mengimbau agar masyarakat menjaga imunitas tubuh. Sebab, menurut Terawan, jika imunitas baik, maka virus tak akan bisa masuk.

"Coba, WNI kita ada 243 di wilayah Hubei, masih sehat di sana. Berkat doa kita karena doa kita (mereka) tetap sehat. Padahal (mereka) di daerah kontak. Artinya apa? Nomor satu itu imunitas tubuh kita itu harus dijaga. Bukan vaksinasi atau apa-apa," tandasnya.

Infografik Waspada Virus Corona. Foto: Andri Firdiansyah Arifin/kumparan
Artikel Asli