Virus Corona Bermutasi, Apa Dampaknya pada Perkembangan Vaksin?

Kompas.com Dipublikasikan 00.07, 11/08/2020 • Ellyvon Pranita
the new york times
Alissa Eckert dan Dan Higgins, ilustrator dari Centers for Disease Control and Prevention, diminta untuk membuat ilustrasi virus corona yang mampu menarik perhatian publik.

KOMPAS.com - Sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China, Covid-19 kini telah menyebar ke sekitar 213 negara dan wilayah di dunia.

Dalam perkembangannya, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-SoV-2 ini disebutkan telah mengalami banyak mutasi.

Untuk diketahui, mutasi virus adalah filtur replikasi virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari.

Dijelaskan oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Profesor Amin Soebandrio, mutasi ini merupakan hal yang wajar dan bisa saja terjadi karena banyak sekali faktor pendukungnya.

"Perbandingan mutasi yang terjadi (pada) virus yang diisolasi di Asia, Eropa, Amerika Utara dan Afrika. Ternyata, frekuensi mutasi lebih banyak terjadi di Eropa dan Amerika Utara dibandingkan dengan yang di Asia," kata Amin dalam diskusi daring bertajuk Webinar SISJ-ALMI: Vaksin Covid-19 di Indonesia, Sabtu (8/8/2020).

Baca juga: Kasus Corona Meningkat, Bisakah Pembuatan Vaksin Dipercepat?

Amin menuturkan bahwa pada awal-awal penemuan kasus Covid-19, mutasi memang banyak terjadi di negara-negara Asia.

"Tapi kita lihat perkembangannya dua minggu kemudian jelas berbeda. Hingga Maret, angka frekuensi mutasi di Asia itu jauh lebih kecil daripada yang terjadi di Eropa maupun Amerika," tuturnya.

Apa dampaknya mutasi bagi perkembangan vaksin?

Amin dalam pemaparannya membagi perkembangan mutasi dan kaitannya dengan vaksin menjadi dua, yaitu terkait virus yang diisolasi dari luar Indonesia dan yang diisolasi di Indonesia.

1. Virus diisolasi dari luar Indonesia

Virus corona SARS-CoV-2 diketahui menempel pada sel manusia melalui reseptor ACE2 dengan menggunakan spike protein dan receptor-binding domain (RBD) atau domain pengikat reseptor.

Dalam penelitian, virus yang diisolasi bukan dari Indonesia menunjukkan adanya mutasi pada RBD.

"RBD adalah bagian yang langsung menempel pada reseptor ACE2. Kalau terjadi mutasi di RBD, maka ada kemungkinan perubahan ikatan dia (virus) dengan reseptornya," kata dia.

Hal ini berpotensi menjadi hambatan bagi vaksin yang menggunakan bagian spike protein sebagai antigen.

Baca juga: Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac Disetujui, Apa Syarat Jadi Relawan?

Pasalnya, bisa jadi antibodi yang dibentuk dari vaksin tersebut tidak 100 persen bisa mengenali RBD yang telah bermutasi; atau antibodi masih bisa mengenali RBD, tetapi ikatannya sedikit banyak akan berubah.

"Ini yang terjadi pada virus-virus yang diisolasi bukan dari Indonesia," ujarnya.

2. Virus diisolasi dari Indonesia

Untungnya, virus yang diisolasi di Indonesia tidak bermutasi pada bagian yang berkontak langsung dengan reseptor ACE2 dalam tubuh manusia.

"Dari sekuens-sekuens yang telah dikirimkan oleh LBM Eijkman, ternyata tidak terjadi mutasi pada bagian RBD virus yang diisolasi dari Indonesia," ujar Amin.

Hal ini merupakan kabar baik karena LBM Eijkman menggunakan spike protein sebagai target antigen untuk virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19.

"Jadi RBD-nya tidak dipengaruhi (mutasi) sehingga sampai saat ini kalau lihat dari data ini, maka kita masih bisa menggunakan RBD virus yang diisolasi dari Indonesia itu sebagai calon antigen," jelas Amin.

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Shierine Wangsa Wibawa

Artikel Asli