Viral video ibu bentak anak karena rangking 3, apa dampaknya bagi si kecil?

TheAsianparent Dipublikasikan 10.06, 16/12/2019 • Fadhila Auliya Widia Putri
rangking-tiga-lead.jpg

Sudah membbaca berita atau melihat video yang memperlihatkan seorang anak yang dimarahi ibunya lantaran ia mendapatkan rangking 3?

Dalam video singkat yang akhirnya viral di sosial media ini, terlihat kalau sang ibu begitu emosi meluapkan kekesalan dan ketidakpuasan akan nilai yang telah didapatkan puterinya. Dengan nada tinggi, ibu tersebut terus bertanya pada anaknya yang terlihat menangis.

Viral video seorang ibu memarahi anaknya karena rangking tiga di sekolah

Memiliki anak yang berprestasi, mendapat nilai yang memuaskan di sekolah tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi Parents.  Benar bukan?

Meskipun demikian, saat anak mendapatkan nilai di luar ekspkektasi, tentu saja tidak lantas menjadi pembenaran Parents untuk meluapkan rasa kekesalan. Memarahi, menyudutkan bahkan mengucapkan kalimat yang bisa melukai hati si kecil.

Belum lama ini, sebuah video viral memperlihatkan seorang ibu terdengar yang begitu emosi dan menggunakan nada tinggi menanyakan pada anaknya mengapa ia hanya mendapatkan rangking tiga.

Awalnya sang ibu meminta sang anak menyebutkan urut-urutan siapa saja yang menjadi rangking di kelasnya.

“Rangking satu Uni, rangking dua Meni, rangking tiga adek,” jawab sang anak.

rangking 3 1

Tidak puas dengan nilai anak

Namun seakan tidak puas dengan jawaban sang anak, ibu tersebut memintanya untuk menyebutkan nama peraih rangking ketiga.

“Adek siapa? Tanya ibu tersebut dengan nada emosi dan tinggi.” Dengan suara lirih, sang anak pun menyebutkan namanya sendiri.

Lalu ibu tersebut kembali nanyakan pada sang anak siapa urutan rangking pertama hingga ketiga. Ia juga menanyakan anak yang mendapatkan rangking keempat.

“Rangking empatnya? Tanyanya masih dengan nada tinggi.

Sang anak pun menjawabnya dan mengurutkan kembali anak yang pendapakan rangking pertama hingga keenam. Sayangnya ibu tersebut tetap membentaknya.

“Kenapa kamu cuma rangking ketiga? Kenapa bisa? Hah? Mengapa bisa?” tanya ibu tersebut.

“Ibu guru yang ngasih,” jawab sang anak gemetar ketakutan.

rangking tiga 2

Ibu tersebut pun menanyakan kembali alasan mengapa anaknya tidak mendapatkan rangking satu dan kedua. Padahal dia selalu mendapatkan nilai 100 dan selesai mengerjakan ujian lebih cepat dibandingkan teman-temannya. Ia juga selalu masuk sekolah dan tidak pernah izin.

“Selalu ujian dapat 100, kenapa bisa kau juara 3. Kasih tahu saya apa alasanmu!” tegas ibu itu lagi.

“Bagaimana kelakuanmu di dalam kelas? Hah?!” tambahnya.

Gadis kecil yang masih menggunakan seragam sekolah dan memegang rapot ditangannya itu pun hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar teriakan dan bentakan sang ibu.

Lihat postingan ini di Instagram

Sumpah mau marah apalagi ditambah denger klarifikasi ibunya. Dan kasus ini udah ditutup setelah klarifikasi ibunya. Ini serius KPAI ga ada tindakan??? Serius ini masalah gede loh si adek bisa trauma. Tolong lah ya bu belajar menghargai anak. Anak udah di marahin karna ga dapet rangking. Kalian harus perhatiin kata klarifikasi nya nyebelin banget woi!!!! "Saya benar benar tidak ada niatan untuk membuat video yang mem viralkan seperti itu. Saya mengaku salah saya khilaf. Saya minta maaf disini untuk para yang keberatan dengan video saya kemaren dan saya berjanji saya tidak akan mengulangi membuat video seperti itu lagi" • • • Bu janji jangan marahin anak karna nilai rapot lagi dong!!! Sebel sumpah. Itu emang bukan anak ataupun keluarga aku tapi beneran ga tega liat si adek segukan nangis dimarahin karna rapot. Ga tegaaa😭😭 tolong dong jangan sampe adeknya trauma kasian😭😭 • • Maaf ya muka adeknya aku tutup. Ga tega soalnya. Kalian bisa denger suara dia nangis segukan aja 😭 ga tegaaa. Guys serius ini kasus cuma berakhir dengan klarifikasi ibunya ajaaa… 😭 kasian adeknya huaaa gimana ya. KPAI ambil tindakan ga sih kalo kasus yang kayak gini?

Sebuah kiriman dibagikan oleh Let's Talk And Enjoy (@lets.talkandenjoy) pada 14 Des 2019 jam 7:51 PST

**Klarifikasi dan penyesalan sang ibu

Tak lama setelah video tersebut beredar, video tersebut langsung viral dan menjadi perbincangan di berbagai media sosial. Banyak di antaranya yang menyayangkan  sikap sang ibu pada puterinya karena membentak sang anak karena rangking di sekolahnya.

Sang ibu pun kemudian membuat video klarifikasi. Dalam video tersebut, ia mengaku khilaf dan meminta maaf. Ia pun menandaskan kalau dirinya tidak akan membuat video seperti itu lagi.

rangking tiga

“Di sini saya mau meminta maaf dan mengklarifikasi video saya yang kemarin. Itu hanya kekhilafan saya.

Jadi saya mau membuat permintaan maaf pada orang-orang yang bersangkutan, seperti bapak kepala sekolah SD, ibu wali kelas anak saya. Saya benar-benar tidak ada niat untuk membuat video yang memviralkan seperti itu. Saya mengaku salah, saya khilaf, saya minta maaf di sini,” ujarnya.

“Dan saya berjanji tidak akan mengulangi membuat video-video seperti itu lagi, terima kasih,” tambahnya.

Lihat postingan ini di Instagram

Sudah clear ya. Orang tua si anak sudah minta maaf atas video viral anak sekolah pakai baju pramuka. .

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kabupaten Berau-Kaltim (@berauterkini) pada 14 Des 2019 jam 2:44 PST

Nilai anak kurang memuaskan, ini yang perlu Parents lakukan

Menanggapi kasus tersebut, Agstried Elisabeth Piether Psikolog Anak dari Rumah Dendelion mengatakan bahwa ada beberapa penyebab mengapa oarngtua  bisa semarah ini kepada anak.

“Dari sekadar emosi sesaat, karena kondisi dia sedang tidak fit, atau baru mengalami kejadian tidak menyenangkan, tapi bisa juga karena frustrasi yang disebabkan oleh anak tidak dapat memenuhi ekspektasi-ekspektasi tertentu,” ujarnya saat dihubungi tim theAsianparent, Senin (16/12/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan, orangtua yang ekspektasi tertentu pada anak-anaknya memang tidak sala. Namun ia mengingatkan bahwa sebaiknya orangtua membuat ekspektasi tersebut sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak.

Selain itu, perempuan yang akrab disapa Astrid itu juga mengingatkan bahwa nilai anak yang jelek sebenarnya tidak didaptkan secara tiba-tiba.

“Kalau kita ikuti masa studi anak-anak kita dan melihat nilai-nilainya, tugas-tugasnya, kemudian pemahamannya terhadap pelajaran tidak memuaskan. Itu adalah tanda-tanda kalau nilai rapotnya nanti tidak akan sesuai harapan. Jadi seharusnya bisa kita cari stateginya sejak awal,” katanya.

Bila orangtua tidak mengikuti masa studinya dan tiba-tiba nilai rapot anak jelek. Maka orangtua bisa berdiskusi bersama-sama guru dan anaknya.

“Kira-kira apakah penyebabnya. Apakah dia sudah berusaha dengan maksimal atau belum. Apakah dia sedang ada isu, awalnya nilainya baik-baik saja lalu ada penurunan. Jadi kita cek sama-sama,” jelasnya lagi.

Astrid juga menegaskan bahwa performa akademik sangat dipengaruhi psikologi anak. Semakin anak tertekan tentu saja kondisi psikologinya semakin tidak maksimal dan berisiko menurunkan hasil yang didapatkan anak.

Katanya, saat anak mendapatkan nilai yang tidak maskimal dan tidak sesuai dengan ekspektasi, tindakan marahi anak bukanlah jalan keluar yang tepat.

“Kalau hanya dimarahi, bukan dibantu mencari strategi, maka anak akan semakin tertekan, akademiknya semakin menurun, dan relasi dengan orangtuanya juga semakin tidak baik. Jadi jangan dimarahin, marahin tidak akan menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Ini tidak ada dampak positifnya sama sekali,” pungkasnya.

Referensi: Instagram @lets.talkandenjoy dan @berauterkini

Artikel Asli