Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Viral #uinmalangsadar Protes soal Asrama Mahasiswa 10 Orang per Kamar di Tengah Pandemi Korona

uin-malang.ac.id
uin-malang.ac.id

Sore hari ini (10/6), tagar #UINMalangSadar tengah ramai digunakan di Twitter hingga menjadi trending topic. Tagar tersebut digunakan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang yang mempertanyakan sejumlah kebijakan kampus terkait penerimaan mahasiswa baru.

Setiap tahunnya, mahasiswa baru UIN Malang akan tinggal di semacam asrama yang disebut mahad. Mereka akan tinggal di sana selama tahun pertamanya di kampus (semester satu dan dua) sebelum kegiatan orientasi mahasiswa baru dimulai. 

Pada 2019, mahasiswa baru yang disebut mahasantri ini membayar biaya masuk mahad Rp 7,5 juta untuk setahun. Ada enam mahad pria dan empat mahad perempuan di kampus UIN Maliki yang akan menampung labih dari 500 orang. Satu kamar mahad berisi 10 mahasiswa dari fakultas yang berbeda-beda. 

Tradisi inilah yang disorot oleh mahasiswa karena menurut mereka mengumpulkan mahasantri dari berbagai wilayah di Indonesia masuk dalam satu kamar berisi 10 orang tidaklah ideal di tengah pandemi virus korona COVID-19. "Seberapa urgent mahad untuk mahasiswa baru?" kata pembuat selebaran digital yang menamakan diri Gerakan Menyadarkan UIN Maulana Malik Ibrahim.

"Bagaimana upaya UIN Malang mencegah penyebaran COVID-19 apabila mahasiswa baru 2020 dari berbagai kota dengan jumlah yang besar tinggal bersama dalam satu mahad?"

Mereka juga mempertanyakan kesiapan protokol pencegahan penularna virus korona di mahad. Termasuk juga jumlah mahasantri per kamar.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para mahasiswa di media sosial ini karena bermaksud untuk menyadarkan pihak kampus yang dinilai mereka kurang bijak dalam menimbang situasi pandemi korona. "Jika kegiatan belajar dilaksanakan secara virtual, mengapa ospek dan kegiatan lainnya tidak?" cuit seorang mahasiswa.

Selain perihal ospek kampus, para mahasiswa juga mengkritik webinar yang rutin digelar pihak kampus, namun dinilai kurang membahas hal-hal yang mendesak.

Mereka juga menyayangkan pihak kampus mengharuskan para mahasiswa membayar biaya kuliah secara penuh, meski telah memutuskan kegiatan belajar mengajar di semester ganjil nanti akan dilaksanakan secara virtual.

Menanggapi protes mahasiswa, Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg, mengatakan telah membagi dua gelombang mahasiswa baru untuk mengurangi penghuni mahad (semacam asrama). Dua bulan pertama hanya setengah mahasiswa baru masuk mahad dan selebihnya kuliah daring. Mahasiswa juga akan dibagi per kota. Selengkapnya DI SINI

Mahasiswa Mau UKT Turun