Viral Video Beatbox Seorang Biksu Bikin Panduan Teks Ajaran Budha

hai-online.com Dipublikasikan 14.10, 09/08 • Annisa Putri Salsabila
 Yogetsu Akasaka, seorang musisi Jepang sekaligus biksu Buddha yang berdakwah melalui musik
Yogetsu Akasaka, seorang musisi Jepang sekaligus biksu Buddha yang berdakwah melalui musik

HAI-online.com -Seorang musisi asal Jepang sekaligus biksu Buddha, Akasaka Yogetsu jadi viral setelah memadukan nyanyian religius dengan beatboxing.

Untuk melantunkan teks dari ajaran Buddha 'Sutra Hati', dia memadukannya dengan beatbox dan remix seperti disjoki (DJ).

Videonya viral di YouTube dan telah ditonton lebih dari setengah juta kali sejak diunggah pada Mei lalu.

Di dalam videonya, pria berusia 37 tahun itu memakai jubah formal yang biasa digunakan para biksu Buddha.
Video berdurasi sekitar 11 menit ini direkam di studio, menampilkan suara Akasaka melalui perangkat beatbox yang disebut Loopstation dan dia pun melantunkan syair religius beriringan dengan musik yang mengalir.

Gagasan itu dikatakan Akasaka datang kepadanya selama keadaan darurat yang diberlakukan di Jepang selama wabah virus corona.

Selama itulah pekerjaannya sebagai musisi sekaligus biksu yang mengurusi pemakaman dan upacara peringatan menjadi jarang dilakukan karena berkurang secara drastis.

"Semuanya dibatalkan. Jadi saya tidak punya pekerjaan, saya tidak punya penghasilan. Dan bagi saya, itu benar-benar menyebalkan, tetapi pada saat yang sama, saya pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk memikirkan diri sendiri atau memikirkan tentang masa depan agama Buddha," katanya kepada media Perancis AFP.

"Saya mencoba menemukan cara saya sendiri untuk menyampaikan ajaran Buddha kepada orang-orang, tidak hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia."
Mengubah Pandangan

Akasaka telah lama tertarik pada musik dan agama. Dia mulai melakukan beatboxing sekitar 15 tahun yang lalu, membeli mesin looping pada 2009 untuk membantunya membuat lapisan-lapisan suara.

Selama bertahun-tahun dihabiskannya di Amerika Serikat dan Australia, dia kadang-kadang juga mengamen untuk menghasilkan uang.

Dia mulai tertarik agama beberapa saat kemudian, awalnya menolak saran dari ayahnya - yang menjadi biksu Buddha di usia 50-an, ketika Akasaka masih di sekolah menengah.

"Di Jepang, sangat umum bahwa putra seorang biksu menggantikan ayah mereka… Jadi ayah saya terkadang bertanya apakah saya ingin menjadi biksu dan menggantikannya. Dan saya selalu berkata tidak, saya tidak tertarik menjadi biksu," ujar Akasaka.

Tetapi setelah dia berusia 30 tahun, Akasaka mulai mempertimbangkan kembali tawaran ayahnya dan memikirkan tentang makna hidup dan mati.
Akasaka akhirnya menghabiskan lebih dari dua tahun pelatihan untuk menjadi seorang biksu. Di Jepang, nggak jarang para biksu menjalankan kewajiban agama dan mempertahankan karir non-religius, seperti pekerjaan Akasaka sebagai musisi.

Baru-baru ini dia mengorganisir sesi live streaming musiknya, meminta sumbangan untuk membantunya melewati pandemi.

Namun dia juga berharap dengan menggabungkan dua hasratnya, dia dapat menawarkan perspektif baru tentang agama Buddha kepada orang-orang yang lebih muda, khususnya di Jepang, di mana menurutnya agama tersebut sebagian besar terkait dengan upacara kematian dan pemakaman.

"Kebanyakan dari mereka percaya bahwa ajaran Buddha adalah untuk orang yang sudah meninggal saja. Tapi sebenarnya tidak," terangnya lagi.

"Jadi mungkin, jika musik saya menarik minat orang-orang yang lebih muda, itu akan menjadi kesempatan yang baik bagi mereka untuk mengetahui tentang Buddhisme," pungkasnya. (*)

Artikel Asli