Viral Thread Keponakan Bawa Kabur Jenazah Suspect Corona, Keluarga Inti Geram

kumparan Dipublikasikan 06.19, 10/08/2020 • kumparanNEWS
Ilustrasi Peti Mati Foto: Shutter Stock

Seorang jenazah dengan status suspect corona di sebuah RS di Jakarta dibawa kabur pada Minggu (9/8) pagi. Kisah tersebut viral setelah dicuitkan oleh salah satu anggota keluarga, Lani Eleonora melalui akun Twitternya.

Yang membuat Lani geram, jenazah tersebut akan dikirim ke Medan oleh keponakannya tanpa sepengetahuan keluarga inti.

Terkait kisah tersebut, kumparan telah menghubungi Lani dan ia menyatakan bersedia untuk dikutip pernyataannya.

Lani mengatakan, ayah tirinya meninggal dunia pada Sabtu (9/8) sekitar pukul 21.49 WIB. Almarhum dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan di ruang isolasi selama enam hari mulai 3 Agustus 2020 dengan status suspect. Lani menambahkan, almarhum memiliki riwayat penyakit diabetes.

“Hari kelima pagi Ayah mengeluh sesak sekali dan minta tolong ditanyakan kondisinya ke dokter. Dokter bilang, kondisi parunya memang buruk. Sementara hasil swab test belum keluar juga. Kami tidak tahu harus berbuat apa,” tulis Lani Minggu (9/8).

Pada Sabtu (9/8) malam sekitar pukul 22.00 WIB, pihak RS menghubungi keluarga Lani untuk menyampaikan kabar duka tersebut. Karena ibu Lani dalam kondisi sakit, ia menyuruh suaminya sebagai perwakilan keluarga.

Selain itu, Lani juga menghubungi keponakan almarhum yang sudah lama tinggal dalam satu rumah. Keponakan itu berasal dari Mandailing, Medan. Lani menambahkan, ayahnya kerap membantu ponakan tersebut dalam merintis usaha di Jakarta.

“Gue langsung telepon keponakan ayah yang baru aja mampir ke rumah buat pinjam mobil untuk segera ke sini. Sebut saja UC, istrinya IT, dan adik UC, HMD,” tambah Lani.

Tiba-tiba saja, lanjut Lani, UC menelepon agar tidak mengikuti protokol pemakaman COVID-19 untuk penguburan ayahnya. Lani langsung menolak mentah-mentah.

“Gua ngegas lah, ‘saya enggak mau ada ribut-ribut ya. Ikutin aja protokolnya. Mama juga udah setuju. Paham’,” ujar Lani kepada UC.

Sementara itu, keponakan lainnya, HMD, mendatangi rumah Lani untuk meminta KTP dan Kartu Keluarga almarhum. Lani mengatakan, dokumen itu diminta HMD untuk mengurus surat jalan jenazah. Lani tetap memperingatkan HMD agar penjemputan sesuai dengan protokol corona.

Ilustrasi corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

“Gua sempet telepon lagi si HMD jam 3.30 WIB pagi. Gue tanya gimana, dia bilang "iya kita ikut protokol, jenazahnya baru bisa keluar jam 8 pagi nanti," ujarnya.

Pada Minggu (9/8) pagi, Lani menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jaktim, sekitar pukul 07.00 WIB. Sesuai dengan informasi pihak RS, jenazah akan dimakamkan di lokasi itu.

Tiba-tiba saja, UC menelepon, jenazah sudah sampai di TPU. Hingga akhirnya, ia langsung buru-buru menuju lokasi.

Akan tetapi, ketika sudah sampai di lokasi, Lani mendapatkan kabar, kalau jenazah ayahnya dibawa ke Sumatera. Hal inilah yang membuat dia kaget.

“Dari situlah drama dimulai,” kenang Lani.

Ia kemudian balik ke rumah untuk meminta penjelasan soal informasi itu. Lani menuliskan, keponakan itu bersekongkol dengan berdalih istri dan anak almarhum tak bisa dihubungi agar RS bisa mengeluarkan jenazah ayahnya.

“Pertama, mereka menipu keluarga inti, istri sah almarhum dan anak tirinya. Kedua, mereka menipu dan mengancam pihak RS. Ketiga, mereka mencuri dan membawa kabur jenazah tanpa sepengetahuan keluarga inti,” tambahnya.

Akhirnya, Lani menghubungi keluarga yang ada di Medan karena merasa ditipu oleh keponakan ayahnya. Ternyata, kakak dari almarhum ayahnya marah mengapa jenazah harus dikirim ke kampung halamannya.

Ilustrasi Peti Mati Foto: Shutter Stock

Setelah itu, Lani kembali menghubungi UC untuk mengembalikan jenazah ayahnya. Yang membuat dirinya emosi, keponakan itu mengatakan Lani dan keluarga sudah tak mempunyai hak untuk mengurus jenazah almarhum ayahnya.

Lani kemudian menghubungi pihak RS dan meminta surat kematian ayahnya setelah emosinya mereda. Ia juga menelepon ambulans yang sedang mengantar jenazah ayahnya yang dalam perjalanan menuju Medan.

“Jam 14.00WIB siang tadi jenazah ayah sudah sampai di RS kembali dan langsung dilanjutkan sesuai protokol. Ayah akhirnya dimakamkan di TPU Pondok Rangon,” tambahnya.

“Gue pemasaran motifnya tuh apa sampai sejahat itu?” pungkasnya.

Artikel Asli