Viral Skripsi Mahasiswa Ditulisi Sampah, Dosen Klarifikasi

Suara.com Dipublikasikan 02.51, 15/10/2019 • Iwan Supriyatna
Foto viral skripsi mahasiswa dicoret sampah oleh dosen pembimbing (Twitter @fierza)
Foto viral skripsi mahasiswa dicoret sampah oleh dosen pembimbing (Twitter @fierza)

Suara.com - Dua foto skripsi yang dicoret dan ditulis 'sampah' dan mendapatkan banyak catatan dari dosen beredar di media sosial dan viral. Dosen pembimbing yang yang bersangkutan akhirnya memberi klarifikasi.

Bermula dari cuitan akun @fierza yang mengunggah ulang foto milik dosennya Sony Kusumasondjaja.

"Gimana perasaanmu punya dosen pembimbing kayak Sony Kusumasondjaja? Cukup melatih daya tahan banting," tulis @fierza di Twitter dengan menunjukkan dua foto revisi skripsi.

Satu foto menunjukkan sehalaman dicoret tanda silang dan diberi tulisan 'sampah'. Sementara foto lain memperlihatkan seorang pria memegang revisi skripsi dengan banyak sekali catatan di sana.

Foto viral skripsi mahasiswa dicoret dan ditulis 'sampah' oleh dosen pembimbing (Twitter @fierza)

Foto tersebut menjadi semakin viral karena dikomentari oleh Ahmad Rizky M. Umar. Lewat akun Twitter @analispolitik, dia menyebut cara dosen pembimbing menulis catatan di skripsi itu tidak manusiawi.

"Feedback semacam ini - tidak manusiawi, malas, dan tidak membangun - sering ditemukan dalam "skripsi" mahasiswa. Itu harus dihentikan. Kami tidak akan melatih siswa yang baik dengan mengatakan karya mereka 'sampah'. itu hanya menunjukkan ketidakmampuan dosen dalam terlibat dengan karya orang lain," tulis @analispolitik.

Cuitan pria alumni UGM ini telah mendapatkan lebih dari 7 ribu like dan 6 ribu retweet sejak diunggah pada Minggu (13/10/2019).

Fierza lantas membalas cuitan Ahmad tersebut. Dia mengunggah tangkapan layar cuitan Ahmad dan membela apa yang dilakukan Sony Kusumasondjaja.

Fierza membalas cuitan Ahmad Rizky soal foto viral skripsi dicoret dan ditulis 'sampah'. (twitter @fierza)

Dosen yang menulis coretan 'sampah', Sony Kusumasondjaja akhirnya memberikan klarifikasi. Dia menyebut kalau warganet Indonesia terlalu mudah menyimpulkan dan langsung memberi komentar pedas.

"Hiruk pikuk yang terjadi menunjukkan betapa mudahnya netizen +62 (yg bahkan well-educated, kuliah di Luar Negeri) untuk memberi komentar yang judgmental hanya berbekal DUA FOTO. Apa masih heran, kenapa masyarakat kita begitu mudah digoreng & dimanfaatkan para provokator via medsos?" tulis @KusumasondjajaS pada Senin (14/10/2019).

Sony menyayangkan sikap warganet yang justru berkomentar menyerang dirinya.

Klarifikasi Sony Kusumasondjaja, dosen yang coret dan tulis 'sampah' di skripsi mahasiswa. (twitter @KusumasondjajaS)

"Yang memberi komentar-komentar ganas itu apa ya sudah membaca draft lengkapnya, supaya paham konteks tulisan SAMPAH itu? Apa sudah paham bagaimana interaksi si mahasiswa & dosen sampai tulisan itu keluar? Kalau tidak, Anda jauh lebih parah daripada si dosen. Anda menghujat tanpa dasar yang kuat," imbuh Sony.

Menurut Sony, umumnya respon yang judgmental menyelipkan argumentasi yang bersifat asumis.

"Kenal sama mahasiswanya atau dosennya pun enggak, paham situasinya juga tidak, lalu merasa berhak menggugat dan menghujat - yang berdasar pada asumsi yang belum tentu betul tadi," ungkap Sony.

Sony pun berbalik membalas orang-orang yang menyerangnya.

"Kalau Anda cuma melihat DUA FOTO yang mengusik pikiran Anda, lalu Anda merasa berhak menghakimi dan memaki orang-orang yang terlibat di foto itu (tanpa paham konteksnya), berarti yang bermasalah adalah Anda. Dan pikiran buruk Anda. Bukan siapapun yg ada di foto itu," pungkasnya.

Artikel Asli